THE MAKING OF ZIKR AS A PART OF HINDU PRACTICE: A STUDY OF A BALINESE HINDU COMMUNITY RECITING THE SHALAWAT WAHIDIYAH
MAULIYA R, Kelli A. Swazey, Ph.D.
2018 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYAIsu tentang kelompok spiritual (Islam) di Indonesia jarang sekali berhadapan dalam sebuah relasi dengan konteks non-Muslim melalui bagaimana mereka menyelenggarakan ritual yang berhubungan dengan aktivitas keagamaan. Sebaliknya, Yayasan Perjuangan Wahidiyah sebagai organisasi Islam yang merepresentasikan tasawuf, terbuka kepada non-Muslim tanpa ada persyaratan untuk konversi ketika melaksanakan ritual zikr melalui rangkaian shalawat wahidiyah. Penelitian ini mengkaji beberapa kasus yang terjadi pada orang Hindu Bali yang melakukan zikr melalui proses modifikasi, adaptasi, dan negosiasi dengan tetap mempertahankan identitas agama mereka. Hal ini menghubungan dengan pertanyaan pada bagaimana orang Hindu Bali melakukan modifikasi pada zikr terhadap pelaksanaan amalan shalawat wahidiyah di dalam cara mereka mengadaptasinya sesuai keyakinannya; bagaimana orang Hindu Bali tertarik untuk membaca shalawat wahidiyah; dan apa saja tantangan yang dihadapi oleh orang Hindu Bali ketika ikut serta dalam organisasi Islam selama diskursus �doa bersama�. Dengan menggunakan pendekatan etnografi, proses pengumpulkan data dilakukan di enam kabupaten di Bali dalam waktu dua bulan, dimana ada 11 pengamal Wahidiyah Hindu yang menjadi pewawancara untuk menjadi data utama. Penelitian ini menggunakan perspektif ritual dari Bell sebagai asumsi-asumsi dasar dan kecenderungan untuk berfikir tentang aktivitas ritual di dalam konteks yang lebih luas. Hasil penelitian ini menunjukkan ketiadaan prasangka untuk konversi agama melalui interpretasi ajaran-ajaran dalam keyakinan agama lain atas aktivitas ritual yang merepresentasikan pemikiran universal di dalam konteks Indonesia. Berdasarkan isu ini, aspek tasawuf yang diinterpretasikan oleh Yayasan Perjuangan Wahidiyah menjadi salah satu jalan untuk memunculkan sebuah pemikiran universal dalam pelaksanaan ritual sebagai ekspresi keterbukaan pada organisasi Islam dalam bentuk praktek ritual.
The issue of religious spiritual groups (Islam) in Indonesia rarely encounters the relation with non-Muslim contexts in the way how they perform religious ritual. Conversely, the Wahidiyah Foundation as Islamic organization representing Sufism, opens to non-Muslim without any requirement for conversion when practicing zikr ritual through the formula of shalawat wahidiyah. This research examines the cases of Balinese Hindu performing zikr through the process of modification, adaptation, and negotiation while maintaining their Hindu�s identity. It links to the question on how Balinese Hindu modify zikr toward shalawat wahidiyah performance in the way they adapt it according to their own belief; how Balinese Hindu appeal on reciting shalawat wahidiyah; and what the challenges are faced by Balinese Hindu when involving in an Islamic organization during the discourse of �doa bersama�. By using ethnographical approach, process of collecting data is conducted in six regencies of Bali during two monts, in which there have 11 interviewers of Hindu followers of Wahidiyah to be the primary data. This research uses Bell�s ritual perspectives as the basic assumptions and tendencies in thinking about ritual activities in broader context. This result of research affirms the absence of prejudice of religious conversion through the interpretation of other religious teachings in ritual activity representing a universalistic idea in Indonesia context. In accordance with this issue, the aspect of Sufism interpreted by the Wahidiyah Foundation becomes one path to promote a universalistic idea of ritual performance as expression of the inclusiveness of an Islamic organization in terms of ritual practice.
Kata Kunci : Key words: Balinese Hindu , Sufism, Zikr, Shalawat Wahidiyah, Ritual