Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe; Studi Komunitas Jogja Garuk Sampah di Yogyakarta
TIARA AFRIANI, Dr. Atik Triratnawati, M.A.
2018 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYASampah dan wisata ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dihindari. Terlebih di kota Yogyakarta yang beberapa tahun terakhir ini juga menjad salah satu tujuan wisata utama di Indonesia. Sebagai contoh nyata adalah sepanjang jalan Malioboro, jalan paling terkemuka di propinsi DIY. Kurangnya kesadaran wisatawan maupun pedagang ditambah dengan minimnya jumlah tempat sampah, tak ayal berujung pada melimpahnya jumlah sampah organik dan non organik di jalan kebanggaan masyarakat Jogja. Semakin majunya informasi dan teknologi, masalah sampah yang dihadapi pun tidak hanya sebatas sampah kemasan, namun mulai merambah ke sampah visual yang kini terasa kian mengganggu di tiap sudut jalan kota Jogja. Penelitian ini dilakukan pada komunitas Jogja Garuk Sampah. Komunitas yang pertama kali melakukan giat garuk sampah pada awal tahun 2015, cukup rutin dan konsisten bergiat hingga tahun ini. Secara sukarela para partisipan bergotong royong membersihkan sampah yang tampak sepanjang jalan Maliboro dan jalan lainnya yang mereka anggap kotor dengan sampah organik, non organik, maupun visual. Dalam penelitian ini ditemukan bagaimana para relawan JGS memaknai gotong royong dan manfaat apa yang mereka dapatkan dari JGS. Gotong royong dimaknai sebagai suatu hal positif yang perlu diapresiasi dan didukung karena sifatnya yang sukarela dan tidak memaksa. Manfaat yang para relawan peroleh pun kemudian beragam mulai dari terjalinnya koneksi dengan pihak ketiga, hingga mendapatkan identitas baru sebagai relawan JGS. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif dan partisipatoris. Pengambilan data di lapangan mulai dilakukan bulan April 2017 hingga akhir tahun 2017, namun hingga awal tahun 2018 saya tetap mengikuti kegiatan untuk mendapatkan data lebih lengkap.
Tourism and litter can be seen as two sides of the same coin. Yogyakarta City -one of the top-favorite destinations in Indonesia- is proof that littering becomes a problematic issue in tourist areas. This problem can be clearly seen in Malioboro Street which is the biggest shopping street in Yogyakarta province. The lack of awareness from the tourists and vendors coupled with insufficient number of trash cans lead to a great number of waste (organic and inorganic) that scattered alongside the street. Moreover, as information and technology become more advanced, there are bigger problems in this issue. The waste were not only limited to food-related waste but also the ones from print-advertising such as posters and banners that are put everywhere and eventually became 'visual waste'. And people find it bery disturbing to see. This research studied the work of Jogja Garuk Sampah (JGS), a community that has been collecting litter around Malioboro Street since 2015. JGS is formed by the people who voluntarily work together (bergotong royong) to clean up all kinds of waste (organic, inorganic, and 'visual waste') alongside Malioboro street. This study wish to understand how JGS' volunteers grasp the meaning of gotong-royong (communal work/mutual cooperation) and what are the benefits for them. Generally, the concept of gotong royong is considered as a positive drive that has to be appreciated and supported because its voluntary nature. The advantages that the volunteers achieved are varied from having connections with third parties, to having a new identity as JGS' volunteer. The method used in this research are qualitative and participatory. I began collecting data in April 2017 until the end of 2017, but up until early 2018 I continued to join their activities to gain more insight and data. Keywords: gotong royong, communal work, mutual cooperation, community, benefits, Jogja Garuk Sampah
Kata Kunci : gotong royong, komunitas, manfaat, Jogja Garuk Sampah