Laporkan Masalah

Indonesian Imagination on American Popular Culture through Raminten Cabaret Show

FARAH RATNA AFRIANI, Prof. Dr. Ida Rochani Adi, S. U

2018 | Tesis | MAGISTER PENGKAJIAN AMERIKA

Era globalisasi membawa dampak yang cukup signifikan bagi perubahan system politik, social, ekonomi, dan bahkan budaya. Perubahan tersebut didasari oleh keinginan untuk saling menyebarkan pengaruh ideology dari bangsa dan negara masing-masing, sehingga terciptalah keinginan untuk menghegemoni. Proses hegemoni tersebut lahir bahkan dengan cara yang paling terselubung, sehingga dapat dikatakan target yang menjadi jajahan untuk perubahan adalah psikis dari bangsa atas negara yang dituju. Hegemoni yang paling kentara datang dari Amerikanisasi, di Indonesia beraneka ragam perubahan itu hadir. Pola perubahan itu didatangkan dari berbagai hal, antara lain melalui lagu, tayangan layar lebar, serta berbagai macam gaya hidup dan hiburan. Menyorot tentang gaya hidup dan hiburan, hal ini erat kaitannya dengan sebuah tempat yang terkenal unik di Yogyakarta, yakni Raminten Cabaret Show. Sebuah tempat hiburan yang sangat kental dengan budaya Jawa bercampur dengan atmosfer Amerikanisasi dan beraneka ragam nilainya. Pertanyaan mengenai fenomena budaya mulai bermunculan seiring adanya predikat Yogyakarta sebagai kota yang istimewa dan berbudaya. Oleh karena itu perlu dipastikan bentuk hegemoni seperti apa yang timbul di dalam Raminten Cabaret Show. Pertunjukan cabaret datang dari Eropa, yakni Perancis yang menjadi akarnya. Di sana, cabaret berkembang untuk menyuarakan penindasan dalam hak asasi manusia melalui seni. Begitupun perkembangannya di Jerman yang juga sama seperti di Perancis, hanya saja pergerakan cabaret ini lebih mengacu pada kritik politik di mana Nazi masih tumbuh dengan subur di sana. Perkembangan cabaret ini kemudian melaju ke Amerika yang mana mengalami pergeseran fungsi dari kritik seni menjadi hiburan. Dengan berbagai macam jenis cabaret yang menyesuaikan kebutuhan audiens, maka cabaret pun menjangkau Asia, dengan Indonesia--Yogyakarta--sebagai salah satunya. Di Yogyakarta, cabaret show digelar dengan cara yang masih sangat konservatif di mana budaya Jawa masih disuguhkan secara eksplisit. Beriringan dengan pemahaman dari teori paskakolonial, analisis menunjukkan adanya dua hal yang menjadi sesuatu yang menjadi bagian dari mimikri dan anti-orientalisme. Segala macam yang memperkuat Amerikanisasi seperti adanya drag queens, impersonasi diva pop Amerika, penanaman nilai-nilai dalam budaya Amerika, serta penggunaan bahasa di dalam pertunjukkan tersebut dianalisis dengan sedemikian rupa dengan mengaitkan ide dari Homi Bhabha--mimikri. Sedangkan segala hal yang erat kaitannya dengan nasionalisme Indonesia dan budaya Jawa dikaitkan erat dengan pemahaman anti-orientalisme. Analisis mengacu pada percabangan, yakni: 1. Hibriditas, di mana adanya persilangan budaya Amerika dan Jawa yang tidak mampu dikategorikan sebagai satu budaya yang utuh di dalam pertunjukkan tersebut; 2. Kapitalisme, di mana segala hal yang ada di sana tidak lain tidak bukan bertujuan untuk memenuhi kaidah komodifikasi.

The era of globalization has had a significant impact on the changing of political, social, economic, and even cultural systems. The change is based on the will to spread the influence of ideology from each nation and country, so that created the desire to hegemony. The process of hegemony is born even in the most subtle and intangible way. Hence, it can be said that the target of colonization is to mentally change the stand of the nation. The most noticeable hegemony comes from Americanization, which in Indonesia a wide range of changes is present. The pattern of change was imported from various things, including through songs, movies, TV shows, and various lifestyles and entertainment. Highlighting about lifestyles and entertainment, it is closely related to a famous place quite unique in Yogyakarta, the Raminten Cabaret Show. A place of entertainment that is fully filled with Javanese culture mixed with Americanization atmosphere within its values. Questions about cultural phenomena began to emerge as the predicate of Yogyakarta as a special and cultured city. Therefore, it is necessary to ascertain what form of hegemony arises in Raminten Cabaret Show. Cabaret show firstly came from Europe, with France as its roots. There, cabaret thrived to voice oppression in human rights through art. Likewise its development in Germany was also the same as in France, but, this cabaret movement referred more to political criticism in which the Nazis still thrives there. Cabaret development was then driven to America which experienced a shift in function from criticism of art to entertainment. With various types of cabarets that fit the needs of the audience, the cabaret also reaches Asia, with Indonesia-Yogyakarta-as one of them. In Yogyakarta, the cabaret show was held in a very conservative way in which Javanese culture is still presented explicitly. Along with the understanding of post-colonial theory, analysis shows the existence of two things that become part of mimicry and anti-orientalism. Everything that reinforces Americanization like the drag queens, the impersonation of American pop divas, the sustainability of values in American culture, and the use of language in the show are analyzed in such a way by linking the idea of Homi Bhabha--mimicry. Meanwhile anything closely related to Indonesian nationalism and Javanese culture is closely linked to the understanding of anti-orientalism. The analysis refers to things, namely: 1. Hybridity, where the crossing of American and Javanese cultures can not be categorized as a whole culture in the show; 2. Capitalism, where everything that is there is none other than aimed at fulfilling commodification rules.

Kata Kunci : Cabaret, Raminten, Americanization, Hegemony, Post-Colonial, Yogyakarta

  1. S2-2018-389083-abstract.pdf  
  2. S2-2018-389083-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-389083-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-389083-title.pdf