Laporkan Masalah

SISTEM PENGETAHUAN MASYARAKAT DUSUN KINAHREJO DALAM MELESTARIKAN HUTAN DI LERENG GUNUNGAPI MERAPI

MARLIANASARI PUTRI, Dr. Ir. Lies Rahayu Wijayanti Faida, M.P

2018 | Tesis | MAGISTER ILMU KEHUTANAN

Gunungapi Merapi merupakan gunungapi teraktif di dunia. Erupsi terakhir terjadi pada 11 Mei 2018 serta erupsi besar pada tahun 2010. Keterdapatan Gunungapi Merapi sebagai sebuah kesatuan ekosistem hutan tropis yang merupakan habitat bagi keanekaragaman hayati, serta areal pemukiman masyarakat salah satunya Dusun Kinahrejo. Meski tinggal di daerah rawan bencana, masyarakat Kinahrejo memiliki cara pandang tertentu terhadap hutan Merapi dan persepsi tentang bagaimana hidup berdampingan dengan gunungapi. Masyarakat memiliki sistem kepercayaan, pengalaman maupun perilaku sehari-hari, munculah sistem pengetahuan yang kemudian diekspresikan melalui upacara dan ritual. Melalui pemaknaan terhadap sistem pengetahuan masyarakat Kinahrejo dapat diketahui cara-cara arif yang dilakukan masyarakat dalam menjaga hutan di Lereng Gunungapi Merapi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara yang dilakukan secara mendalam (indepth interview), danteknik pengambilan sampel menggunakan snowball sampling. Analisis data menggunakan metode tafsir filsafat hermeneutika menurut Hans-Georg Gadamer. Sistem pengetahuan masyarakat Dusun Kinahrejo dalam memandang Gunungapi Merapi dan hutan di lerengnya bersumber dari leluhur yang diwariskan secara turun temurun. Sistem pengetahuan yang merupakan bagian unsur-unsur budaya menjadi bahan dasar dari kelahiran sebuah tradisi. Masyarakat Dusun Kinahrejo mengekspresikan pengetahuan mereka melalui Upacara Labuhan dan Dandan Kali sebagai upaya menjalin relasi dengan alam (hutan di lereng Gunungapi Merapi). Makna gunung dan hutan bagi masyarakat Kinahrejo adalah sebuah harapan, karena pascaerupsi masyarakat akan tetap pulang ke Kinahrejo, pulang ke lereng Gunungapi Merapi. Masyarakat yakin hutan yang memberi kehidupan, meskipun telah rusak terkena awan panas, akan kembali tumbuh melalui suksesi, sehingga masyarakat akan tetap dapat melanjutkan hidupnya. Bukan hanya sebagai tempat dengan pohon-pohon rindang dan binatang-binatang di dalamnya.

Merapi volcano is the most active volcano in the world. The last eruption occurred on May 11th, 2018 along with huge eruption in 2010. The existence of Merapi Volcano as an entity of tropical forest ecosystem constitutes not only as habitat for biodiversity, but also as a settlement for the community of Kinahrejo village. Despite living in the areas prone to disaster, Kinahrejo community have a certain perspective towards Merapi forest and perception about how to coexist with volcano. The community have systems of beliefs, experience as well as everyday behavior, which give the rise of knowledge system expressed through ceremony and ritual. Through definition towards knowledge system by Kinahrejo community, wisdom done by the community in conserving forest on Merapi Volcano Slope can be identified. This research is a qualitative research using interpretative approach. Observation and in-depth interview were used for data gathering method, and snowball sampling technique was used for sampling. Hermeneutical philosophical interpretation by Hans-Georg Gadamer was used for data analysis. Kinahrejo community knowledge system in viewing Merapi Volcano and forest on its slope was sourced from ancestors which was inherited from generation to generation. Knowledge system, which is part of culture elements, become the basis of a birth of the tradition. Kinahrejo community expressed their knowledge through Labuhan and Dandan Kali ceremony as efforts to build relationship with nature (forest on Merapi Volcano slope). Significance of mountain and forest for Kinahrejo community is hope, because the community will return to Kinahrejo post-eruption, back to Merapi Volcano slope. The community is certain the forest gives life, although damaged by pyroclastic flow, but will grow again through succession so the community can continue again with their lives. Not only as a place with tree shades and animals living in it.

Kata Kunci : Sistem Pengetahuan, Hutan, Hermeneutika Gadamer

  1. S2-2018-407485-abstract.pdf  
  2. S2-2018-407485-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-407485-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-407485-title.pdf