SURVIVALITAS NELAYAN BINTANG LAUT: PERLAWANAN KOMUNITAS NELAYAN TERHADAP KERUSAKAN LINGKUNGAN DI DESA AIR LINTANG, TEMPILANG, BANGKA
SUDARMIN, Dr. Bambang Hudayana, MA
2018 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYAKerusakan lingkungan merupakan isu yang sedang hangat dan tidak habis-habisnya dibahas oleh masyarakat di Pulau Bangka. Tidak hanya masalah kerusakan lingkungan di darat yang disebabkan oleh kegiatan pertambangan yang ada di daratan, tetapi juga kerusakan lingkungan di lautan yang disebabkan oleh pertambangan lepas pantai yang dilakukan oleh kapal keruk atau kapal isap produksi (KIP) dan TI apung. Aktivitas penambangan ini tidak hanya menyebabkan kerusakan ekosistem laut seperti terumbu karang, tetapi juga memperkeruh air laut yang disebabkan oleh limbah pembuangan penambangan lepas pantai. Hal ini kemudian tidak hanya merusak pantai yang berpotensi menjadi objek wisata tetapi juga berpengaruh terhadap masyarakat nelayan yang mendiami daerah pesisir yang menggantungkan hidup mereka dengan menangkap ikan. Hal ini sangat beralasan dengan rusaknya ekosistem laut menyebabkan pengurangan jumlah ikan yang ada didalamnya sehingga produktivitas nelayan pun berkurang, yang kemudian menimbulkan perlawanan nelayan yang terancam akan pemenuhan ekonomi subsistennya terhadap kehadiran pertambangan lepas pantai. Nelayan Bintang Laut yang berada di Desa Air Lintang merupakan salah satu dari sekian banyak komunitas nelayan di Pulau Bangka yang melakukan perlawanan. Walaupun pada akhirnya perlawanan yang dilakukan nelayan mengalami kegagalan. Kemudian menjadi fokus penelitian yang dilakukan pada tahun 2016 ini adalah bagaimana kondisi kehidupan nelayan setelah kalah dalam perlawanan tersebut. Kegagalan perlawanan nelayan terhadap pemerintah (yang memberikan izin usaha pertambangan), memaksa nelayan untuk beradaptasi agar tetap bisa terus mempertahankan eksistensinya. Mencari pekerjaan tambahan menjadi solusi rasional yang dilakukan nelayan untuk menjaga asap di dapur agar tetap mengepul. Kegagalan perlawanan ini juga menimbulkan perlawanan tertutup nelayan dengan melakukan cantingan terhadap penambang timah, yang kemudian akan menyebabkan timbulnya konflik-konflik baru dalam kehidupan nelayan Bintang Laut.
Environmental damage is a hot and endless issue discussed by the people of Bangka Island. Not only the problem of environmental destruction on land caused by existing mining activities, but also the environmental damage in the oceans caused by offshore mining carried out by Kapal Keruk atau Kapal Isap Produksi (KIP) dan TI Apung. These mining activities not only cause damage to marine ecosystems such as coral reefs, but also confuse sea water caused by offshore mining waste disposal. It is then not only destroys the beaches that have the potential to become a tourist attraction but also affects the fishing communities inhabiting the coastal areas that rely their lives by catching fish. This is very reasonable with the destruction of marine ecosystems causing a reduction in the number of fish in it so that the productivity of fishermen is reduced, which then leads to the resistance of fishermen who are threatened with the fulfillment of subsistence economy to the presence of offshore mining. Bintang Laut fishermen located in the village of Air Lintang is one of the many fishing communities on the island of Bangka who do the resistance. although in the end the resistance by the fishermen failed. Then the focus of research conducted in 2016 is how living conditions of the fisherman after losing the resistance. Failure of fishermen's resistance to the government (which grants mining permits), forcing fishermen to adapt in order to maintain their existence. Finding additional work becomes a rational solution that fishermen make to keep the smoke in the kitchen steady. Failure of this resistance also led to the closed resistance of fishermen by doing a cantingan to the tin miners, which will then cause the emergence of new conflicts in the life of the fishermen Bintang Laut.
Kata Kunci : Nelayan, Perlawanan, Pertambangan Lepas Pantai, Kerusakan Lingkungan.