Laporkan Masalah

The Internationalization of Adisutjipto International Airport to Increase the Number of Tourists in Yogyakarta

CHAIRUNISSA I F, Drs. Usmar Salam, M.I.S.

2018 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Yogyakarta adalah tujuan wisata paling banyak dikunjungi kedua di Indonesia setelah Bali. Memiliki bandara internasional yang layak bermanfaat untuk membuat perjalanan langsung lebih mudah dari negara-negara tetangga, terutama Malaysia dan Singapura. Skripsi ini mempelajari tentang internasionalisasi Bandara Internasional Adisutjipto, yang terletak di jantung kota Yogyakarta. Internasionalisasi bandara internasional tidak semudah menambahkan kata 'internasional' dalam namanya. Ada standar internasional dan rekomendasi yang harus diikuti agar dianggap sebagai bandara internasional yang layak dan mendapatkan reputasi di kancah internasional. Salah satu organisasi yang mengatur standar ini adalah International Civil Aviation Organization (ICAO), yang mana Indonesia adalah anggotanya. Saat masa awal internasionalisasi, Bandara Internasional Adisutjipto tidak sepenuhnya memenuhi standar-standar itu, namun tetap berhasil menjadi bandara internasional. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah, Government and Tourism oleh James Elliot untuk menganalisa hubungan masing-masing aktor dalam menginternasionalisasikan Bandara Internasional Adisutjipto, dan Complaince Theory untuk menganalisa proses dan kegagalan untuk mematuhi Standard and Recommended Practices ICAO oleh pengembang bandara dan bagaimana kekurangan itu diatasi. Temuan menunjukkan bahwa kerja sama dan saling pengertian dari masing-masing aktor, Kementerian Perhubungan, Manajer Umum Angkasa Pura I Yogyakarta, personel TNI Angkatan Udara di Yogyakarta, Maskapai Penerbangan, dan pemerintah daerah Yogyakarta, berkontribusi pada keberhasilan berdirinya bandara internasional di Yogyakarta. Pada akhirnya, standar yang ditetapkan oleh ICAO juga dipenuhi setelah kecelakaan pesawat terjadi pada tahun 2007. Saat ini, Bandara Internasional Adisutjipto tetap menjadi bandara internasional yang sibuk dengan jumlah pengunjung yang terus bertambah.

Yogyakarta is the second most visited tourist destination in Indonesia after Bali. Having a viable international airport is beneficial to manage easier direct travel from neighbouring countries, mainly Malaysia and Singapore. This thesis studies the internationalization of Adisutjipto International Airport, which is located in the heart of Yogyakarta. Internationalizing international airports is not as straightforward as adding the word 'international' in the name. There are international standards and recommended practices that should be followed for it to be considered a viable international airport and gain reputation in the international arena. One of the organizations that regulate these standards is the International Civil Aviation Organization (ICAO), which Indonesia is a member of. During the initial years of its internationalization, Adisutjipto International Airport did not fully comply to these standards, yet it succeeded in becoming an international airport. The theories used in this study are, Government and Tourism by James Elliot to analyse the relations of each governmental actors in internationalizing the Adisutjipto International Airport, and Compliance Theory to analyse the process and the failure to comply towards ICAO's Standard and Recommended Practices by the airport developer and how the fault was tackled. The findings demonstrate that the cooperation and mutual understanding of each actor, the Ministry of Transportation, the General Manager of Angkasa Pura I Yogyakarta, the personnel of Indonesian Air Force in Yogyakarta, the Airlines, and the local government of Yogyakarta, contributed to the success of establishing an international airport in the city. Eventually, the standards set by ICAO were also met after an airplane crash happened in 2007. Today, the Adisutjipto International Airport remains as a busy international airport with a growing number of visitors.

Kata Kunci : Airport, Adisutjipto, ICAO, compliance, government, tourism, TNI AU, Indonesian Air Force, Angkasa Pura I, Yogyakarta

  1. S1-2018-365391-abstract.pdf  
  2. S1-2018-365391-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-365391-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-365391-title.pdf