Albert Camus: Subjek Tragedi
ROBI MARDIANSYAH, Dr. Muhamad Supraja, M.Si.
2018 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIKonon, subjek lahir jauh sebelum saintisme tersemai di Eropa. Tepatnya ketika manusia mulai menasbihkan akal sebagai bagian yang utuh dari eksistensinya, memahami segala ihwal yang ada di hadapan dirinya sebagai yang bukan dirinya. Jarak (subjek-objek) ditetapkan, batas-batas ditegaskan; subjek tampil sebagai yang-satu, sebagai subjek berdaulat. Tapi semenjak gairah saintisme Pasca Pencerahan kian menjadi-jadi, subjek kemudian tampil bukan hanya untuk menegaskan kedaulatannya, tapi juga sebagai penakluk. Savoir pour prevoir (mengetahui untuk meramalkan), kata Comte, adalah tanda datangnya sebuah era di mana tak ada lagi yang tak diketahui. Sejak saat itu, pesona dalam imajinasi Weber seketika berganti dengan persona, subjek berbahasa yang Maha-tahu. Rasionalisme kemudian bukan saja jalan untuk mengetahui, dalam pandangan Adorno, tapi juga patologi dunia modern. Patologi inilah yang dieksplorasi Albert Camus lewat esai dan novelnya. Kini diskursus mengenai subjek berkembang pada dua kemungkinan: subjek mati dan subjek yang kalah (namun tidak mati; menjadi tanda petik subjek radikal) penelitian ini mengambil posisi yang kedua. Dengan meletakkan subjek sebagai subjeksi (subjection) dalam pengertian Foucaultian, menelusuri basis-basis epistemologi subjek dalam karya-karya Camus, penelitian ini jatuh pada kesimpulan bahwa subjek dalam pemikiran Camus adalah tanda petik subjek tragedi, dalam setiap upayanya yang terus-menerus menolak menjadi yang-tragis.
It is said that the subject was born long before scientism sowing in Europe. Exactly when man begins to instill the mind as an integral part of his existence, to understand everything that comes before him as not himself. Distance (subject-object) is set, boundaries are asserted; subject appears as the one, as the sovereign subject. But since the passion of Post-Enlightenment scientism became more and more subtle, the subject then appeared not only to affirm its sovereignty, but also as a conqueror. Savoir pour prevoir (knowing to predict), Comte said, is a sign of an era where nothing is unknown. From that moment, the charm of Weber's imagination instantly changed to be persona - the omniscient speaking subject. Rationalism is then not only a way of knowing, in the view of Adorno, but also the pathology of the modern world. This pathology is what Albert Camus explored through his essays and novels. Nowadays, the discourse on the subject develops in two of probability: the dead subject and the the lost one (but not dead; to be radical subject) - this research takes the second position. By putting subject as subjection in Foucaultian's sense, tracing the basis of the epistemology of the subject in Camus's works, this research reached to the conclusion that the subject in Camus has thought is the subject of tragedy, in every endeavor that constantly refuses to be -tragic.
Kata Kunci : absurdity, subjection, subject, tragedy