Laporkan Masalah

Reproduksi Perilaku Kekerasan di Kalangan Pelajar SMA Studi di SMA Holigan Yogyakarta

DWI NOOR CAHYA, Dr. Suharko

2018 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

Kota Yogyakarta mempunyai sebutan sebagai kota pelajar. Hal ini dikarenakan kota ini mempunyai fasilitas pendidikan yang baik, yang menarik pelajar dari berbagai daerah untuk berlajar dikota ini. Namun, dalam perkembangannya nama kota pelajar mendapat noda buruk dari pelajar yang melakukan tindakan yang menyimpang dengan perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan dilakukan oleh oknum individu maupun berkelompok. Kasus yang pernah terjadi, perilaku kekerasan yang dilakukan oleh kelompok pelajar melibatkan sekolah swasta maupun negeri. Salah satu kelompok pelajar yang pernah terlibat atau melakukan tindakan kekerasan adalah Respect. Perilaku kekerasan tersebut terjadi secara terus menerus dari beberapa generasi. Contoh perilaku kekerasannya adalah tawuran antar kelompok dan perampasan benda berharga. Melihat hal tersebut menjadikan peneliti tertarik untuk lebih jauh mempelajari bagaimana perilaku kekerasan tersebut direproduksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses terbentuknya perilaku kekerasan di kelompok pelajar SMA tersebut, serta faktor-faktor yang juga mempengaruhi dan mencari cara untuk meminimalisir pembentukan perilaku yang menyimpang tersebut. Teori yang digunakan untuk mengkaji penelitian ini adalah habitus dan ranah yang dikemukakan oleh Piere Bourdieu. Inti dari pemikiran Bourdieu adalah bahwa cara berfikir dan pola berfikir individu maupun kelompok sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diinternalisasikan kedalam alam bawah sadar yang selanjutnya dieksternalisasikan dalam tindakan praktis. Selanjutnya proses tersebut membutuhkan ruang yang disebut sebagai ranah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Observasi dilakukan untuk menggambarkan setting sosial, keadaan sosial dan budaya kelompok serta lingkungannya secara detail. Selain itu wawancara dengan berbagai pihak yang terkait dengan proses pembentukan periaku kekerasan seperti siswa, guru, pengurus sekolah dan alumni. Data yang terkumpul kemudian dilakukan reduksi data, display data, analisis dan dapat ditarik kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa perilaku kekerasan yang dilakukan oleh kelompok pelajar SMA Holigan Yogyakarta dipengaruhi dari beberapa ranah. Pertama regulasi dan sistem hukuman dari sekolah yang begitu longgar menciptakan habitus yang bebas untuk berperilaku. Kedua adalah habitus dalam dari ranah kelompok pelajar besama dengan alumni yang juga memiliki nilai-nilai untuk memicu perilaku kekerasan. Sementara itu ranah internal kelompok juga memilki habitus yang mendukung perilaku kekerasan terjadi secara berkelanjutan.

Yogyakarta has the designation as student city. This is because the city has a good education facilities, which attract students from various regions to learn in this city. However, the name of the city got the stain worse than students who perform acts that deviate with violent behavior. Violent behavior committed by unscrupulous individuals and groups. The case never happened, violent behavior committed by a student group involves private school or public school. One group of students ever involved or committed acts of violence is Respect. Violent behavior occurs continuously from a few generations. An example of the behavior of violence was a brawl between groups and seizure of valuable objects. Seeing it made researchers are interested in further study how violent behavior that reproduced. The purpose of this research is to know the process of the formation of violent behavior in the Senior High School student groups, as well as the factors that also affect and are looking for ways to minimize the formation of aberrant behavior. The theory is used to examine the research is habitus and arena raised by Piere Bourdieu. The core of the thinking way of thinking is that Bourdieu and thought patterns of individuals and groups are strongly influenced by the values that are internalized into the subconscious which further performed in action paktis. Furthermore the process requires a space known as the arena. Research methods used in this research is a descriptive analysis of the research methods. Data collection techniques using observation and interview. Observations were conducted to illustrate the social setting and cultural groups as well as the environment in detail. Besides interviews with the various parties associated with the process of the formation of violent behavior such as students, teachers, school administrators and alumni. The data collected is then done reduction data, display data, analysis and conclusions can be drawn. The results of this research is that violent behavior committed by Holigan Senior High School Yogyakarta influenced from some arena. The first regulation and system of punishment from the school that was so loose the habitus creates free to behave. Both are running in the arena of group of students as well as with the alumni also have values to trigger violent behavior. Meanwhile, the group also has internal domain habitus that support violent behavior occurs on an ongoing basis.

Kata Kunci : Reproduksi, Perilaku Kekerasan, Habitus

  1. S1-2018-317969-abstract.pdf  
  2. S1-2018-317969-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-317969-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-317969-title.pdf