Analisis Pola Distribusi dan Karakteristik Rantai Pasok Komoditas Cabai Merah Keriting (Capsicum annum L.)
YUNI USWATUN KHASANAH, Dr. Ir. Endy Suwondo, DEA; Ir. Pujo Saroyo, M.Eng.Sc
2018 | Skripsi | S1 TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIANSetiap daerah memiliki kondisi tataniaga cabai khususnya cabai merah keriting yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat diakibatkan oleh perbedaan jumlah dan peran lembaga pemasaran yang terlibat dalam rantai pasok cabai merah keriting. Jawa Tengah merupakan provinsi yang memiliki rantai distribusi cabai merah terpanjang. Sementara itu, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki rantai distribusi yang lebih pendek karena adanya lembaga pasar lelang. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran dan membandingkan kondisi tataniaga cabai merah keriting di beberapa daerah sentra produksi. Lokasi penelitian ditentukan menggunakan metode purposive sampling di empat kabupaten sentra produksi cabai yaitu Temanggung, Magelang, Kulon Progo, dan Sleman. Teknik pengambilan sample responden menggunakan convenience sampling yang dipadukan dan snowball sampling. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif persentase, marjin pemasaran, dan efisiensi pemasaran dengan indikator nilai marjin pemasaran dan nilai share petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola distribusi cabai merah keriting di Kabupaten Temanggung dan Kulon Progo terdiri dari dua saluran distribusi, Kabupaten Magelang terdiri dari tiga saluran distribusi, dan Kabupaten Sleman terdiri dari satu saluran distribusi. Saluran distribusi yang dominan di Temanggung, Magelang, Kulon Progo, dan Sleman adalah saluran 1. Pelaku rantai pasok di Temanggung yaitu petani, pengepul, pedagang besar dalam kota, pedagang pengecer lokal, pedagang pengecer luar kota, dan konsumen lokal. Pelaku rantai pasok di Magelang yaitu petani, pengepul, pedagang pengecer lokal, pedagang pengecer luar kota, pedagang besar luar kota, dan konsumen lokal. Pelaku rantai pasok di Kulon Progo yaitu petani, pedagang besar dalam kota, pedagang besar besar luar kota, pedagang pengecer lokal, pedagang pengecer luar kota, konsumen lokal. Pelaku rantai pasok di Sleman yaitu petani, pedagang besar luar kota, pedagang besar dalam kota, dan pedagang pengecer luar kota. Kabupaten Kulon Progo adalah kabupaten dengan pemasaran cabai merah keriting paling efisien karena memiliki nilai marjin pemasaran terendah (Rp. 5.000,-/kg) dan nilai share petani tertinggi (83,33%).
Every region has different conditions of the chili trading system, especially curly red chili. The difference is caused by the different of amount marketing agency and their role in curly red chili supply chain. Central Java is the province that has the longest chain of red chilli distribution. Meanwhile, D.I. Yogyakarta have shorter distribution chains because of the auction market institutions. This study was conducted to provide an overview and compare the conditions of trading curly red pepper in some areas of production centers. The location of the study was determined using purposive sampling method in four districts of chili production centers, namely Temanggung, Magelang, Kulon Progo, and Sleman. Respondent sampling technique using convenience sampling and snowball sampling. Data were analyzed using analysis of descriptive percentage, marketing margin, and marketing efficiency. The results show that distribution pattern in Temanggung and Kulon Progo consist of two distribution/marketing channels, Magelang consists of three distribution channels, and Sleman consists of a distribution channel. Dominant distribution channel in Temanggung, Magelang, Kulon Progo, and Sleman is channel 1. Supply chain actors in Temanggung are farmer, collector, local wholesaler, local retailer, out-of-town wholesaler, and local consumer. Supply chain actors in Magelang are farmer, collector, local retailer, out-of-town retailer, out-of-town wholesaler, and local consumer. Supply chain actors in Kulon Progo are farmer, local wholesalers, out-of-town wholesaler, local retailers, out-of-town retailers, and local consumers. Supply chain actors in Sleman are farmers, out-of-town wholesaler, local wholesalers, and out-of-town retailers. Kulon Progo Regency is the most efficient marketing district with the lowest marketing margin (Rp 5.000,-/kg) and the highest farmer's share (83.33%).
Kata Kunci : Cabai Merah Keriting, Pola Distribusi, Rantai Pasok, Marjin Pemasaran