Proses Pemberdayaan Organisasi Kewirausahaan Sosial Berbasis Lingkungan Bank Sampah Gemah Ripah Dusun Badegan, Desa Bantul, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
NANDA WIDYASARI, Dr., Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si.
2018 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANPermasalahan lingkungan masih menjadi masalah yang belum terselesaikan hingga saat ini, salah satunya yang juga cukup pelik adalah permasalahan sampah. Pemerintah berusaha menindak tegas permasalahan ini dengan mengeluarkan peraturan mengenai sampah dan pengelolaannya. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri melainkan membutuhkan sinergi dari berbagai lapisan masyarakat. Di Kabupaten Bantul sepuluh tahun yang lalu berdiri sebuah kelompok masyarakat pengelola sampah yang menggunakan konsep bank untuk melakukan pengelolaan sampah bernama Bank Sampahh Gemah Ripah. Kemunculan bank sampah ini adalah salah satu upaya dari masyarakat untuk menanggulangi permasalahan sampah setidaknya untuk lingkungannya sendiri. Ide baru berupa bank sampah ini pun disambut baik masyarakat luas dan diterapkan di banyak daerah lain di Indonesia. Selain menjadikan masyarakat lebih peduli lingkungan dengan mengelola sampah, menabungkan sampah membuat masyarakat juga bisa menghasilkan rupiah. Namun, pada perjalanannya banyak bank sampah yang tidak jelas keberlanjutannya. Bank Sampah Gemah Ripah masih terus bertahan hingga saat ini. Proses Bank Sampah Gemah Ripah melakukan pemberdayaan melalui pengelolaan sampah menjadi penting untuk mengetahui apa yang membuat bank sampah ini terus bertahan di tengah antusiasme masyarakat terhadap bank sampah yang kian menurun. Penelitian ini menggunakan konsep sociopreneurship dan pemberdayaan masyarakat. Kedua konsep ini digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan proses pemberdayaan yang dilakukan Bank Sampah Gemah Ripah sebagai organisasi sociopreneurship berbasis lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang bertujuan menggali data secara lebih mendalam. Informan yang berhasil diwawancarai berjumlah 18 orang yang terdiri dari pengelola bank sampah, nasabah bank sampah, dan pihak RT. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling agar peneliti dapat memperoleh data secara lengkap dan mendalam sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki informan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang terjadi dalam proses pemberdayaan di bank sampah, yaitu pada proses perencanaan serta evaluasi, masyarakat belum dilibatkan secara langsung karena cukup sulit untuk mengajak masyarakat berpartisipasi lebih jauh, sehingga kegiatan tersebut hanya dilakukan pengelola. Implementasi kegiatan di bank sampah sudah melibatkan berbagai aktor mulai dari pemerintah hingga masyarakat melalui berbagai dukungan yang diberikan. Selain itu, bank sampah dengan kegiatan menabungnya memberikan manfaat dari aspek ekonomi dan sosial bagi nasabah dan pihak lainnya. Meskipun sudah berdiri cukup lama, permasalahan pengelolaan organisasi masih menjadi masalah di Bank Sampah Gemah Ripah, oleh karena itu, perbaikan pengelolaan organisasi dan regenerasi pengelola menjadi penting agar Bank Sampah Gemah Ripah dapat bekerja lebih optimal dalam melakukan berbagai kegiatan pemberdayaan mengelola sampah bersama masyarakat.
Environmental problems has not been resolved until now, one of them is waste problems which is quite complicated. The government is trying to solve it by issuing regulations on waste and its management, but it requires synergy from the community. 10 years ago in Bantul Regency, the Gemah Ripah Waste Bank was established by the community, using the waste management concept to solve the waste problems at least for their own environment. The new idea of this waste banks was welcomed by the community and applied in many other areas in Indonesia. Besides making the community more concerned about the environment by managing waste, the waste bank can also help the community to gain money by giving and/or managing their waste. However, there are many waste banks that have no clear sustainability. But the Gemah Ripah Waste Bank continues to work until today. The Gemah Ripah Waste Bank's process to empower the community through waste management becomes important to know what makes this waste bank continue to survive despite the decreasing enthusiasm of the community towards waste banks. This research uses the sociopreneurship and community empowerment concept. Both of these concepts are used to answer research questions related to the process of community empowerment by Gemah Ripah Waste Bank as an environment-based sociopreneurship organization. The research method used in this research is qualitative method that aims to explore the data in more depth. The researcher successfully interviewed 18 people consisting of the waste bank managers, waste bank customers, and the neighborhood association. The tool for informant selection used in this research is purposive sampling so that the researcher can obtain data in complete and in-depth in accordance with knowledge owned by the informants. The data collection technique used in this research are observations, in-depth interviews, and documentation. The result of this research related to the process of community empowerment by Gemah Ripah Waste Bank indicates that the community has not been involved directly in the planning and evaluation process because it is quite difficult to invite the community to participate further, so that the planning and evaluation process only done by the waste bank managers. Implementation of the activities in waste bank has involved a variety of actors ranging from the government to the community through a variety of support provided. In addition, waste bank with its savings activities provide benefits from economic and social aspects for customers and other parties. Even though it has been established for a long time, the organizational management is still a problem for Gemah Ripah Waste Bank, therefore the improvement of organizational management and regeneration of managers becomes important for Gemah Ripah Waste Bank, so they can work more optimally in conducting community empowerment activities by managing waste with the community.
Kata Kunci : Bank sampah, pemberdayaan, organisasi sociopreneurship, waste bank, empowerment, sociopreneurship organization