Pengaruh Teresan dan Letak Transversal Terhadap Sifat Pengerjaan Kayu Jati Plus Perhutani
ALAN CAHYA, Tomy Listayanto, S.Hut.,M.Env.Sc., Ph.D.
2018 | Skripsi | S1 KEHUTANANSejak dulu kayu jati (Tectona grandis L.f.) telah menjadi unggulan dalam industri pengolahan kayu karena dikenal memiliki kualitas tinggi. Untuk menjaga tingginya kualitas kayu tersebut, faktor penting yang perlu diperhatikan sebelum pengolahan kayu adalah kadar air. Kayu yang diolah pada kadar air yang masih tinggi akan menimbulkan cacat pada produk yang dihasilkan, oleh sebab itu diperlukan perlakuan peneresan yang bertujuan mengurangi kadar air kayu. Selain itu, hal yang turut mempengaruhi kualitas kayu adalah letak transversal kayu. Proporsi kayu gubal dan kayu teras pada suatu kayu sangat berpengaruh pada pengerjaan, yang pada akhirnya berdampak pada nilai ekonomi kayu tersebut. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kayu jati plus perhutani teresan 21 bulan dan non teresan bagian pangkal umur 15 tahun, dari KPH Pemalang. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang disusun secara faktorial dengan dua faktor, yaitu faktor teresan yang dibagi menjadi jati plus perhutani teresan dan non teresan, serta faktor letak transversal yang dibagi menjadi campuran teras gubal dan teras. Parameter yang diamati antara lain kadar air, stabilitas dimensi, uji kekerasan, pengetaman, penggergajian, pengeboran, pembubutan, dan pengampelasan. Data hasil pengujian kemudian dianalisis menggunakan SPSS pada taraf uji 0,05. Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh teresan dan letak transversal terhadap sifat pengerjaan kayu jati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor teresan hanya berpengaruh nyata pada parameter kekerasan kayu, pengetaman, penggergajian, pengampelasan, pengeboran dan pembubutan. Sedangkan pada faktor letak transversal berpengaruh nyata pada parameter kadar air, pengetaman, penggergajian, pengeboran, dan pengampelasan.
Since a long time ago teak wood (Tectona grandis L.f.) has been a preeminent in the wood processing industry because it is known to have high quality. To maintain its high quality, an important factor to consider before the wood processing is the moisture content. Wood that is processed at high moisture content will cause defects in the final product, therefore it is necessary to be girdled to reduce its moisture content. In addition, transversal location of wood also affect the quality of the wood. The proportion of sapwood and heartwood has a huge impact on the machining process, which ultimately affects the economic value of the wood. The material used in this research is jati plus perhutani 21 months girdle and the base of 15 years old non-girdle teak wood, from KPH Pemalang. A completely randomized design was used with factorial designs. Two factors namely, the girdle factor which is divided into girdle and non-girdle, and the other one is transversal location factor which divided into a mixture of sapwood and heartwood and heartwood only. The observed parameters by this research were moisture content, dimension stability, hardness test, planning, sawing, boring, turning, and sanding. The data were analysed by SPSS at the significance level of 0,05. The aim was to investigate the effect of girdle and transversal location against machining properties of teak wood. The result showed that the girdle factor only had a significant effect on the following parameters: wood hardness, planning, sawing, boring, turning, and sanding. Whereas in transversal location factor had a significant effect on moisture content, planning, sawing, boring, and sanding
Kata Kunci : teresan, letak transversal kayu, jati plus perhutani, sifat pengerjaan:girdle, wood transversal location, jati plus perhutani, machining properties