EVAKUASI TERNAK SAPI PADA BENCANA ERUPSI MERAPI 2010 BERBASIS KEARIFAN LOKAL (Studi Kasus Peternakan di Turgo)
LUFFI SRIANINDA S, Dr. Bambang Hudayana, M.A.
2018 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYAAdapun salah satu wacana dalam agenda pengungsian atas dampak erupsi 2010 adalah penyelamatan ternak. Kebijakan pemda pada erupsi 2006 dulu berangkat dari asumsi bahwa melakukan evakuasi terhadap ternak dulu baru manusianya. Masalah pada ternak bagi warga Merapi merupakan bahasan yang pernah disinggung oleh para Ilmuan. Ternak merupakan salah satu harga benda yang penting bagi warga Merapi khsusnya warga dusun Turgo. Pola evakuasi sapi oleh warga Turgo tidak terlepas dari nilai-nilai kearifan lokal mereka dapatkan dari hasil adaptasi dari pengalaman sebelumnya. Penelitian skripsi ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana bentuk-bentuk kearifan lokal warga Turgo dalam melakukan evakuasi sapi dan bagaimana kearifan lokal digunakan sebagai strategi dalam evakuasi sapi? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipasi dan wawancara mendalam dengan menggunakan perspekstif dari pengalaman informan ketika melakukan evakuasi ternak sapi saat erupsi Merapi tahun 2010. Pada penelitian ini dipilih 10 informan dan 5 diantaranya merupakan informan inti dalam penelitian skripsi ini. Lokasi penelitian berada di Padukuhan Turgo Desa Purwobinangun, Yogyakarta, yang berada di jarak 6 km dari puncak Gunung Merapi. Hasil penelitian menunjukan bahwa kearifan lokal pada masyarakat dusun Turgo penulis bedakan menjadi tiga kelompok, yaitu (1) Kearifan Lokal dalam menjaga dan mengelola sumber daya alam dan lingkungan; (2) Kearifan Lokal dalam mengenal peringatan dini; dan (3) Kearifan Lokal dalam pemulihan. Pada dasarnya warga Turgo sudah memahami tentang tanda tentang tanda-tanda akan bahaya erupsi Merapi serta memiliki strategi-strategi sendiri dalam melakukan evakuasi baik pada warga maupun sapi mereka. Berhasilnya mereka dalam melakukan evakuasi sapi terlihat dari 3 hal, yaitu 1) kearifan lokal menjadi strategi dalam memitigasi bencana erupsi Merapi. Kearifan lokal ternilai dari pola perilaku yang dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari, 2) matangnya konsep yang digunakan ketika melakukan evakuasi baik pada ternak maupun warganya, dengan SOP Bencana Erupsi Merapi sebagai pedoman, 3) gotong royong menjadi modal sosial untuk penanggulangan bencana baik pada masa daruran maupun pemulihan (Rekontruksi dan Rehabilitasi).
One of the discourses on the evacuation agenda for the eruption impact of 2010 is the rescue of livestock. The policy of the regional administration in 2006 erupted from the assumption that evacuation of livestock was only human. The problem of livestock for Merapi people is a discussion that has been mentioned by scientists. Livestock is one of the important things for the people of Merapi residents especially Turgo hamlet. The cattle evacuation pattern by Turgo residents is inseparable from the local wisdom values they get from the adaptation of previous experience. This thesis research aims to reveal how local forms of local wisdom Turgo residents in conducting cow evacuation and how local wisdom is used as a strategy in the evacuation of cattle? The method used in this study is participatory observation and in-depth interviews using perspectives from the experience of informants when evacuating cattle during the 2010 Merapi eruption. In this study 10 informants were selected and 5 of them were core informants in this thesis research. The research location is in Padukuhan Turgo, Purwobinangun Village, Yogyakarta, which is located 6 km from the top of Mount Merapi. The result of the research shows that local wisdom in Turgo subgroup is divided into three groups, namely (1) Local Wisdom in maintaining and managing natural resources and environment; (2) Local Wisdom in recognizing early warning; and (3) Local Wisdom in recovery. Basically Turgo residents already understand about the signs of signs of danger Merapi eruption and have their own strategies in evacuating both the citizens and their cows. Their success in evacuating cattle is seen from 3 things, namely 1) local wisdom into a strategy in mitigating Merapi eruption disaster. Local wisdom is valuable from behavioral patterns developed in everyday life, 2) mature concept used when evacuating both to livestock and its citizens, with SOP of Merapi Eruption Disaster as a guideline, 3) gotong royong become social capital for disaster prevention either in period and recovery (Reconstruction and Rehabilitation).
Kata Kunci : Penanggulangan Bencana, Kearifan Lokal, Evakuasi Sapi warga Turgo