Formasi Subyek Buruh dalam Ekonomi Industri di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
REVA YUSMITA, Dana Zakaria Hasibuan, S.Sos., M.A.
2018 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIKehadiran industri di desa tidak terlepas dari peranan negara, pasar dan masyarakat. Ketiga aspek tersebut menjadi subyek yang sangat dominan dalam peranan pembangunan desa. Kemiskinan yang terjadi di desa membuat pembangunan menjadi bias. Pembangunan membuat masyarakat keluar dari zona kemiskinan dan disisi lain menjadi cambuk bagi masyarakat. Pembangunan Indonesia notabene hanya berfokus pada pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi ini, salah satunya di topang oleh sektor industri. Industri berskala pabrik mampu menyerap banyak tenaga kerja. Namun, industri juga menjadi salah satu arena yang menimbulkan berbagairagam permasalahan pada pekerja di dalamnya. Pendisiplinan buruh menjadi salah satu fokus dalam tulisan ini. Menurut Foucault (1977) disiplin adalah model dari suatu kuasa, yangmana kuasa ini bukanlah suatu milik melainkan strategi. Dengan adanya proses pembangunan, secara tak sadar buruh telah mengalami berbagai macam pendisiplinan dari masyarakat, pasar dan negara. Tindakan pendisiplinan yang terjadi pada buruh menjalankan mekanisme kekuasaan sebagai arena penindasan. Pendisiplinan tubuh yang dilakukan oleh pabrik, masyarakat dan negara membuat buruh rentan masuk dalam “kelompok subalternâ€. Tidak hanya kekerasam fisik, namun kekerasan non fisik seperti diskriminasi, eksploitasi, ketidakadilan dan permasalahan lainnya akan semakin menormalisasi identitas buruh menjadi kelompok subaltern. Bekerjanya pendisiplinan dalam pabrik membuat munculnya perlawanan dalam kelompok subaltern. Pada dasarnya kekuasaan akan selalu memunculkan resistensi. Menurut Spivak (1988), resistensi kelompok subaltern dalam buruh salah satunya ditandai dengan adanya pembuatan serikat. Serikat Pekerja menjadi perwakilan kaum subaltern yang seharusnya memperjuangkan keadilan dan juga memerangi segala bentuk kekerasan fisik dan non-fisik. Namun, untuk saat ini Serikat Pekerja hanya terfokus pada kekerasan yang sifatnya material. Hak – hak pekerja seperti peningkatan upah, fasilitas pabrik menurut mereka lebih penting daripada kekerasan yang bersifat struktural dan kultural. Beban kerja yang berat dan depolitisasi identitas buruh adalah hal normal ketika upah yang diterima diatas rata-rata. Untuk itu, pendidikan terkait peningkatan Serikat Pekerja perlu di lakukan. Termajinalkan bukan hanya soal uang, tetapi juga relasi sosial.
The existence of industry in a rural area cannot be separated from the role of state, market and society. Those three aspects become the most dominant subject in development of the area. Poverty that occurs makes the developments biased. The development keeps the society out of poverty but in other hand it is a whip towards the society. In Indonesia, the development only focuses on economy sector which is supported by the industrial sector. Industry-scale factories are able to absorb a lot of labor however industry become an arena of labor’s problems. Labor discipline is the main discussion of this study. According to Foucault 1977, discipline is a model of power which is not possession but a strategy. Development process leads the labors to experience various discipline from society, market and state. Disciplinary action towards the labor uses the power mechanism that leads to a kind of oppression which makes the labor have tendency to be “subaltern groupâ€. Not only physical, but non-physical violence such as discrimination, exploitation, injustice and the others problem will further normalize the identity of labor to be a subaltern group. The discipline that runs in the factory emerge a resistance within the subaltern group. Basically, power will always bring up resistance. According to Spivak 1988, resistance within subaltern group will led to create a trade union. Trade union becomes the representative of subaltern group to fight for justice and against physical and non-physical violence. However, it is only focuses in material violence. Rights of labors such as the increasing of wages, improvement of factory facilities are more important than the structural and cultural violence. Workloads and worker identity depolitization are normal when wages received above average. Therefore, education related to the improvement of Trade Unions needs to be done. It is not only about money, but also social relations.
Kata Kunci : Pendisiplinan tubuh, Kelompok Subaltern, Kekerasan, dan Serikat Pekerja, Discipline, Subaltern Group, Violence, Trade Union