DI BAWAH PAYUNG KEMITRAAN: PERANGKAP PERKEBUNAN SAWIT DAN SIASAT PEKEBUN
SUKAPTI, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, MA., M.Phil. ; Dr. Bambang Hudayana, M.A
2018 | Disertasi | DOKTOR ILMU-ILMU HUMANIORAKajian ini dilakukan untuk memahami dua gejala yang berseberangan pada relasi perkebunan pola kemitraan. Pada satu sisi, pekebun tersubordinasi pada relasi perkebunan seperti dinarasikan oleh beberapa kajian, sedangkan pada sisi lain pekebun tetap berminat dan bertahan dalam perkebunan pola kemitraan. Oleh karena itu, studi ini berusaha menjawab pertanyaan mengapa pekebun kecil tetap berminat dan mengikuti organisasi produksi perkebunan pola kemitraan yang tidak selalu menguntungkan bagi pekebun plasma, dan bagaimana siasat pekebun menanggapi proses sosial produksi itu. Kajian diarahkan untuk melihat proses sosial pada tiga organisasi produksi perkebunan (pola PIR, KKPA, dan PSM) yang dilaksanakan pada rentang panjang masa Orde Baru dan Reformasi. Studi dilakukan dengan pendekatan fenomenologi. Kajian difokuskan pada pekebun, yang diasumsikan sebagai aktor yang aktif dan memiliki kesadaran kritis terhadap posisi dan situasi yang dihadapi. Penelitian empiris dilakukan di sebuah desa PIR-transmigrasi, yakni Desa Sawit Jaya, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser. Teknik menginput data menggunakan observasi partisipasi, wawancara, serta penelusuran literatur. Analisis diarahkan untuk menemukan pola-pola dan konteks yang melatari tindakan, siasat, dan jaringan yang dimanfaatkan pekebun untuk mencapai kepentingannya. Kajian ini menemukan tiga temuan pokok. Konteks politik mempengaruhi posisi dan aktor pada perkebunan. Posisi pekebun meningkat setelah pekebun mampu menguasai faktor produksi kebun. Peluang demokratisasi dimanfaatkan oleh pekebun untuk menuntut hak akses terhadap tanah, kesetaraan posisi, dan keadilan perolehan manfaat ekonomi. Siasat pekebun berubah dalam mencapai kepentingannya. Semula siasat pekebun bersifat terselubung dan berpura-pura untuk mengurangi tekanan pada proses produksi. Kemudian, siasatnya lebih terbuka, konfrontatif, rasional/argumentatif, menekan, dan melibatkan isu dan aktor dari luar komunitas desa. Tujuannya mengubah relasi produksi dan relasi kuasa agar menjadi lebih seimbang. Hal ini menegaskan adanya peningkatan kapasitas negosiasi pekebun. Dengan demikian, perubahan relasi produksi dan relasi kuasa yang lebih setara, serta perbaikan porsi keuntungan menjadi faktor penjelas bagi tindakan pekebun melanggengkan perkebunan pola kemitraan. Namun, kondisi tersebut cenderung diakses hanya oleh pekebun kaya. Perkebunan pola kemitraan menjadi pendorong kuat bagi sebagian warga perdesaan menjadi kapitalis kecil.
This study aims to understand two opposite indications in partnerhip models of plantation relation. On one side, the planters have subordinated to plantation relation as narrated by some studies, meanwhile on the other side, they areconstantly enthusiastic and keep going on plantation with partnership models. Therefore, this study attempts to answer why small planters are constantly enthusiastic and join in production organization with partnership models which are not always bring profit for plasma planters, and how is their strategy in responding that production social process. The study is directed to see social process in three plantation production organizations (PIR, KKPA, and PSM models) which are carried out during New Order and Reformation era. The study is carried out by using phenomenology approach. It focused on the planters, who are assumed as active actors and have critical awarness toward position and situation they are facing in. The emphirical research is conducted in a PIR-transmigration village, namely Sawit Jaya village, Long Ikis sub district, Paser District. Data input technique is using participation observation, interview, and literatures examination. The analysis is directed to find models and contexts that encouraging the actions, startegy, and network that used by the planters to achieve their importance. This study finds three main findings. Political contects influence the position and actors in plantation. Planters position increase after they are able to control plantation production factors. Democratization opportunity is used by planters to claim their access authority toward lands, position equality, and economy benefit achievement fairness. The planters strategy is reformed in order to achieve their importance. In the beginning, their startegy is disguised and pretend to decrease pressure in production process. Later, it becomes open, confrontative, rational/argumentative, oppress, and involving issue and actors outside village community. The intention is to change production and authority relation in order to make them balance. This matter confirm the improving of the planters negotiation capacity. Therefore, the change of ratable productioan and authority relation and profit portion improvement become clarify factors for the planters action to perpetuate plantation with partnership model. The partnership model plantation becomes strong motivation for some villagers to become small capitalist.
Kata Kunci : perkebunan sawit, pola kemitraan, siasat negosiasi, pekebun plasma,palm oil plantation, partnership models, negotiation startegy, plasma planters,