INTEGRASI PERDAGANGAN ASEAN: DINAMIKA SPESIALISASI, PERGESERAN STRUKTURAL DAN PERAN KELEMBAGAAN PADA KINERJA PERDAGANGAN NEGARA ASEAN
Rini Setyastuti, Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc.; Prof. Dr. Tri Widodo, M.Ec., Dev.
2018 | Disertasi | S3 Ilmu Ekonomi dan Studi PembangunanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa masalah yang mungkin timbul dalam pelaksanaan MEA di negara-negara ASEAN. Untuk melihat dinamika spesialisasi negara-negara ASEAN maka pemetaan keunggulan komparatif di kawasan ASEAN juga dibahas dalam penelitian ini. Di bagian akhir akan dianalisis peran kelembagaan di negara ASEAN terhadap perdagangan intra ASEAN. Dengan menggunakan data dari UN-Comtrade, Global Input Output dan data indikator makro dari World Bank, analisis statistika dan ekonometrika yang dilakukan mendapatkan hasil sebagai berikut : (1) beberapa masalah potensial yang mungkin dihadapi negara-negara ASEAN dalam integrasi perdagangan dalam bentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN antara lain perbedaan pembangunan ekonomi di negara-negara ASEAN, belum adanya harmonisasi kebijakan eksternal antar negara anggota, kesepakatan perdagangan negara ASEAN dengan negara lain, mobilitas kapital dan tenaga kerja dan berlakunya Rule of Origin yang akan mengakibatkan manfaat yang diterima relatif lebih kecil. (2) Produk unggulan ASEAN pada tahun 1990 didominasi oleh produk SITC 0 (makanan dan binatang hidup). Ada perubahan produk yang mempunyai keunggulan komparatif di ASEAN, pada tahun 2015 produk SITC 7 (peralatan mesin dan transportasi) relatif lebih mendominasi produk ekspor ASEAN ke negara-negara lain. Rata-rata besarnya RSCA di negara ASEAN mengalami peningkatan. Meningkatnya nilai rata-rata diikuti dengan meningkatnya nilai standar deviasi mengindikasikan bahwa terjadinya spesialisasi produk yang mempunyai keunggulan komparatif tinggi dan menurunnya produk yang mempunyai keunggulan komparatif yang rendah, di samping itu ada kemungkinan munculnya produk baru yang dalam periode sebelumnya belum memasuki pasar luar negeri. Jika dilihat dari masing- masing negara anggota, dapat dikatakan bahwa Singapura, Malaysia dan Thailand relatif mempunyai perubahan yang lebih dinamis dibandingkan negara ASEAN lainnya. Proses catch up antar negara anggota ASEAN tidak ditunjukkan dalam pola Flying Gees, hanya negara-negara tertentu saja yang mendapatkan posisi sebagai leader. Di samping itu komplementaritas hubungan antar negara ASEAN dalam perdagangan yang ditunjukkan dalam perhitungan nilai tambah dengan menggunakan Global Input Output kemungkinannya sangat kecil. Dengan menggunakan model analisis regresi model gravitasi baik menggunakan OLS, analisis regresi data panel dan Poisson Pseudo Maximum Likelihood ditunjukkan bahwa variabel kelembagaan yang terdiri dari voice and accountability, political stability, government effectiveness, regulatory quality. Rule of law dan control of corruption berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap besarnya perdagangan bilateral antara negara ASEAN. Hasil ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa variasi kelembagaan merupakan suatu determinan penting yang terkait dengan hambatan perdagangan informal.
The aim of research are to know some problems that can rised in ASEAN Economic Community Agreement, to show how the comparative advantage dynamic in ASEAN countries occurred, and in the last of this report we expose the role of institution on the bilateral trade performance in ASEAN countries. This research employed data from UN-Comtrade, Global Input Output and macro data from World Bank publication. The statistics and econometrics analyzes that is done have some results : (1) the several potential problems in the ASEAN trade integration are economic development gap, there are no harmonized external tariff policies, the trade agreements ASEAN countries with non ASEAN members, capital and labour mobility, and application of Rule of Origin. (2) The results show that ASEAN featured product in 1990 was dominated by SITC 0 product (food and live animals), after twenty five years by 2015 SITC 7 (machinery and transportation) products are relatively more dominant in ASEAN export products. In 1990-2015 period, it is shown that the average magnitude of RSCA in ASEAN countries has increased followed by an increase in the standard deviation value. It indicates that the occurance of product specialization that has a high comparative advantage and a decline in products that have low comparative advantages. Using a significance level 5%, it appears that ASEAN countries as a whole are experiencing significant dynamic changes in comparative advantage. From the pattern of Flying Gees, it can be said that the process of catch up in ASEAN member countries is not running as expected, because the country which leads in the composition of flying gees consists of certain countries, namely Singapore, Malaysia, Indonesia, Thailand and Philippines. Employing gravity model with Ordinary Least Square regression, panel regression and Poisson Pseudo Maximum Likelihood Model, there are relationship between governance quality and bilateral export performance in ASEAN. By using regression model model of gravity model using OLS, panel data regression analysis and PPML showed that institutional variables positively and significantly influence to the amount of bilateral trade between ASEAN countries. If there is an increase in institutional quality index, in terms of voice and accountability, political stability, government effectiveness, regulatory quality, law enforcement and corruption control, it will boost bilateral trade performance in ASEAN region. These results support the hypothesis that institutional variation is an important determinant associated with informal trade barriers.
Kata Kunci : perdagangan internasional, keunggulan komparatif. Kelembagaan, MEA, ASEAN