Laporkan Masalah

INKLUSI VS EKSKLUSI MEMPERTAHANKAN IDENTITAS WANGSA DI TENGAH ARUS PERUBAHAN Studi Kasus Upacara Ngaben Dadakan Bagi Golongan Pre Ratu di Desa Batubulan Kangin, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali

ANAK AGUNG ISTRI TATIK RISMAYANTI, Nur Azizah, S.I.P., M.Sc.

2018 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHAN

Skripsi berjudul "Inklusi Vs Eksklusi Mempertahankan Identitas Wangsa di Tengah Arus Perubahan: Studi Kasus Upacara Ngaben Dadakan bagi Golongan Pre Ratu Di Desa Batubulan Kangin, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali" merupakan penelitian yang membahas pergulatan identitas wangsa yang semakin memudar. Pemudaran identitas wangsa tersebut tidak terlepas dari pergeseran modal yang diperkirakan sudah terjadi sejak abad XVI (Dwipayana, 2001: 137) hingga saat ini. Akibatnya, perdebatan identitas wangsa terus terjadi, dan tak ayal memunculkan eksklusifitas pada golongan tertentu -dalam penelitian ini adalah kelompok Pre Ratu (Triwangsa). Untuk mengatasi perdebatan tersebut, penelitian ini memusatkan perhatian pada bagaimana strategi mempertahankan identitas wangsa bagi kelompok Triwangsa?. Metode penelitian studi kasus dipilih dalam mengamati pergeseran tersebut yakni, melalui studi kasus keputusan pelaksanaan Ngaben dadakan bagi seluruh anggota keluarga Pre Ratu yang meninggal. Ngaben dadakan tersebut dipandang sebagai sebuah strategi bertahan atau sebuah bentuk insecurity atas pergeseran modal yang mengakibatkan identitas wangsa tidak lagi tersegmentasi seperti pada masa feodal-agraris. Terdapat tiga temuan besar dalam penelitian ini yakni; Pertama, terkait transformasi sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Kedua, terkait strategi mempertahankan identitas. Ketiga, pemetaan aktor dalam pengambilan sebuah strategi bertahan. Temuan-temuan tersebut dikerangkai oleh dua teori yakni politik identitas dan politik rekognisi. Teori politik identitas sangat erat kaitannya dengan pembedaan atas kawitan atau dadia (klan atau leluhur berdasarkan garis keturunan ayah), sehingga setiap wangsa tidak mungkin dapat disamakan, karena dari asal-usul orang tua atau leluhur telah berbeda sejak awal. Sedangkan, politik rekognisi berkaitan dengan konsep Tat Twam Asi. Konsep tersebut dapat dimaknai sebagai peningkatan derajat dan martabat diri dengan cara memperlakukan orang lain setara atau sama dengan diri kita sendiri, serta sangat erat kaitannya dengan pengamalan ajaran Weda dalam mempertahankan tradisi dan budaya. Ada setidaknya tiga temuan besar dalam penelitian ini yakni; Pertama, terkait transformasi modal sosial, budaya, ekonomi, dan politik/simbolik. Kedua, terkait strategi mempertahankan identitas. Ketiga, pemetaan aktor dalam pengambilan keputusan Ngaben dadakan sebagai sebuah strategi bertahan. Berdasarkan data di lapangan, pemilihan suatu strategi bertahan tidak terlepas dari pergeseran modal baik dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, maupun politik. Temuan di lapangan menunjukan bahwa saat ini, sebagian besar modal dikuasai oleh kelompok Jaba. Tidak mengherankan jika kemudian kelompok Pre Ratu berusaha mempertahankan apa yang bisa dipertahankan. Penelitian ini pun memberikan pertimbangan solusi berdasarkan konsep dan teori yang digunakan dan telah dikaitkan dengan data primer dan sekunder. Dengan demikian, penelitian ini mampu menjelaskan dimensi politis pada temuan-temuan yang bersifat sosiologis dan antropologis, serta dapat memberikan pertimbangan strategi-strategi alternatif untuk menyelesaikan perdebatan identitas wangsa.

The research entitled "Inclusion Vs Exclusion Maintains Wangsa Identity Amidst Flow of Change: A Case Study of Ngaben Dadakan for Pre Ratu Group in Batubulan Kangin Village, Sukawati, Gianyar, Bali" is a study that discusses the struggle of identity of the fading country. The fading of the Wangsa identity is inseparable from the shift of capital that has been estimated since the sixteenth century (Dwipayana, 2001: 137) to this day. As a result, the debate of the Wangsa identity continues to occur, and no doubt bring exclusivity to a particular group - in this study is the Pre Ratu (Triwangsa). To address the debate, this study focuses on how the strategy of maintaining the Wangsa identity for the Triwangsa group ?. The research method of case study was chosen in observing the shift, that is, through case study of Ngaben Dadakan decision implementation for all family member of Pre Ratu who died. The Ngaben Dadakan is seen as a defensive strategy or an insecurity form of capital shifting that results in the identity of the dynasty no longer segmented as in the feudal-agrarian period. There are three major findings in this research namely; First, related to social, cultural, economic, and political transformation. Second, related to the strategy of maintaining identity. Third, the mapping of actors in making a defensive strategy. The findings are coupled by two theories of identity politics and political recognition. The theory of identity politics is closely related to the distinction of the kawitan or dadia (clan or ancestry based on paternal lineage), so that every country is unlikely to be equated, since the origins of parents or ancestors have been different from the beginning. Meanwhile, political recognition is related to the concept of Tat Twam Asi. The concept can be interpreted as an increase in degrees and dignity by treating others equal to ourselves, and very closely related to the practice of Vedic teachings in maintaining tradition and culture. Based on the data, the selection of a survival strategy is inseparable from capital shifting of the social, cultural, economic, and political context. The socio-cultural context is concerned with how to maintain good relations with others, regardless of status, and based on the rules set forth in the literature of Religion and Scripture. While in the context of economic-politics is concerned with how to improve the quality of self and able to become a role model, and respected according to ability. This defensive strategy can be done in four ways: First, inclusiveness, which is to run a society based on Vedic teachings. Second, exclusiveness, which can be through the implementation of Ngaben Dadakan and wedding endogamy without any coercion to each individual. Third, reinforce the concept of Tat Twam Asi contained in the Vedas. Fourth, improve the quality of self through education, be professional, honest, responsible, and able to occupy strategic positions. Thus, this study is able to explain the political dimension of sociological and anthropological findings and can give consideration to alternative strategies to resolve the Wangsa identity debate

Kata Kunci : Identitas Wangsa, Politik Identitas, Politik Rekognisi, Ngaben Dadakan, Transformasi Modal

  1. S1-2018-364874-abstract.pdf  
  2. S1-2018-364874-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-364874-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-364874-title.pdf