Gambaran Literasi Kesehatan pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Kota Yogyakarta
FATICHA NAJA MAHIRA, Niken Nur Widyakusuma, M. Sc., Apt. ; Dr. Chairun Wiedyaningsih, M. Kes., M.App.Sc., Apt.
2018 | Skripsi | S1 FARMASIRendahnya literasi kesehatan pada pasien diabetes melitus dapat menjadi hambatan bagi pengobatan pasien sehingga memengaruhi diabetic outcomes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran literasi kesehatan dan kelompok sosiodemografi yang memiliki resiko literasi kesehatan rendah pada pasien diabetes melitus di puskesmas Kota Yogyakarta. Penelitian merupakan penelitian survey dengan desain potong lintang. Alat ukur yang digunakan adalah HLQ (Health Literacy Questionnare) yang dikembangkan oleh Osborne, dkk dari Deakin University, Australia. Penelitian ini dilakukan dengan metode convenience pada 100 responden di puskesmas Kota Yogyakarta. Data yang didapatkan dianalisis secara deskriptif kuantitatif menggunakan uji t-test dengan p < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan dan effect size Cohen's d. Hasil penelitian menunjukkan pasien diabetes melitus di puskesmas Kota Yogyakarta memiliki kekuatan pada aspek dukungan sosial terhadap kesehatan dengan skor mean 3,37 plus-minus 0,47 dan mampu untuk terlibat secara aktif dengan penyedia layanan kesehatan dengan skor mean 4,36 plus-minus 0,40. Sedangkan kelemahan pasien adalah pada aspek mampu menilai informasi kesehatan dengan skor mean 2,48 plus-minus 0,82 dan mampu mencari informasi kesehatan yang baik dengan skor mean 3,46 plus-minus 0,80. Pasien diabetes melitus di puskesmas Kota Yogyakarta pada kelompok sosiodemografi pendidikan rendah, menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi sehari-hari, tidak hidup sendiri, dan bekerja memiliki resiko literasi kesehatan rendah.
The low of health literacy in diabetic patients could be a barrier to the treatment of patients so that affects diabetic outcomes. The aim of this study was to know the description of health literacy and sociodemographic group which has lower health literacy risk in diabetic patients at primary health care in Yogyakarta. This study was a survey study with cross sectional design. HLQ (Health Literacy Questionnare) which has been developed by Osborne, et al from Deakin University, used to measure health literacy. This study has been done using convenience method in 100 respondents at primary health care in Yogyakarta. The data obtained were analyzed descriptively quantitative using t-test with p < 0,05 showed significance and effect size Cohen's d. Result of this study showed that diabetic patients at primary health care in Yogyakarta had strengths on aspect social support for health ( x bar = 3,37 plus-minus 0,47) and ability to actively engage with healthcare providers ( x bar = 4,36 plus-minus 0,40). Whereas patients�s weaknesses were on aspect appraisal of health information ( x bar = 2,48 plus-minus 0,82) and ability to find good health information ( x bar = 3,46 plus-minus 0,80). Diabetic patients at primary health care in Yogyakarta with low education, using Javanese language in daily communication, not living alone, and had a job sociodemographic groups had lower health literacy risk.
Kata Kunci : literasi kesehatan, diabetes melitus, HLQ, Yogyakarta