TINGKAT KETAHANAN PANGAN RUANG PERKOTAAN (URBAN FOOD SECURITY) DI KAWASAN PERKOTAAN YOGYAKARTA
PUTERI KINTAN P, Muhammad Sani Roychansyah, S.T., M.Eng., Dr. Eng.
2018 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAFenomena urbanisasi mendorong perubahan guna lahan dan pembentukan ruang-ruang fungsional perkotaan seperti area pusat dan pinggiran perkotaan yang saling ketergantungan. Alih fungsi lahan pertanian terutama pada area pinggiran perkotaan tidak hanya berimbas pada berkurangnya pasokan pangan domestik tetapi juga perubahan struktur sosial dan ekonomi. Hal ini menimbulkan tantangan perkotaan seperti ketahanan pangan yang bersifat multidimensional. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk meneliti kondisi ketahanan pangan perkotaan (urban food security) berdasarkan pembagian area pusat dan pinggiran perkotaan dengan mengambil lokasi di Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY). Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi indikator-indikator ketahanan pangan perkotaan adalah Principal Component Analysis, sedangkan pengukuranya dengan komposit. Indikator yang menentukan ketahanan pangan perkotaan di KPY adalah jenis kelamin kepala keluarga, pendidikan, guncangan rumah tangga, indeks gini, rasio ketergantungan, penduduk bekerja, pangan berkarbohidrat, kehadiran toko kelontong, sanitasi, air bersih, kondisi jalan, balita dengan gizi baik, dan ibu hamil tanpa anemia, serta bayi penerima ASIE. Dari pengukuran komposit seluruh area perkotaan, tingkat ketahanan pangan perkotaan (urban food security level) diketahui sebesar 0.49 dengan predikat agak rawan pangan. Sedangkan dari segi pembagian ruang, diketahui bahwa area pinggiran perkotaan (peri-urban) lebih tahan pangan daripada area pusat perkotaan (urban core). Hal ini dikarenakan sifat-sifat kedesaan yang diimbangi dengan dukungan fungsi sosial yang baik pada masyarakatnya. Oleh karena itu, tantangan pembangunan KPY untuk mencapai ketahanan pangan adalah optimalisasi peran sektor primer di pinggiran perkotaan, peningkatan kesadaran gizi pada ibu rumah tangga di pusat perkotaan, dan memperbaiki kerjasama pemerintah seluruh kawasan perkotaan khususnya dalam pembangunan infrastruktur antar daerah.
Urbanization pushed the land use changes and shaped urban functional space that interdependence for each other. Agriculture land use change in peri-urban area was not just effect on reduce of food supply. This phenomena also caused of urban challenge food insecurity with multidimensional aspect. Based on that, this research would explore urban food security condition in Kawasan Perkotaan Yogyakarta as its urban functional area. This research used Principal Component Analysis to formulate best indicators and composite method to measure urban food security in KPY. Indicators that determine urban food security are male household headed, education, household shock, gini ratio, dependency ratio, food cereals, local grocery, good sanitation, sustainable clean water, road quality, toddler with good nutrition, pregnant women without anemia, and baby with breast milk. The result of urban food security level in KPY is 0.49 which means secure enough. Furthermore, this research found that peri-urban area is more secure than urban core area. This is because peri-urban area still has rural characteristic with good community initiatives. Therefore, development challenges to promote food security in KPY are optimization of the primary sector in peri-urban area, improving awareness through urban centre community especially women, and elevating institutional quality and services across the urban area especially agricultural infrastructure matter.
Kata Kunci : Ketahanan Pangan Perkotaan (Urban Food Security), Urban Core, Peri-urban, Principal Component Analysis, Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY).