INTERPRETASI PENGAMBIL KEBIJAKAN TERHADAP MAKNA UPACARA LABUHAN MERAPI DAN PERKEMBANGANNYA SEBAGAI DAYA TARIK WISATA BUDAYA
FARISAH ANINDITA, Dr. Wiwik Sushartami, M.A.
2018 | Skripsi | S1 PARIWISATAUpacara labuhan Merapi adalah upacara adat yang telah ada sejak bertahun-tahun lalu dan menjadi suatu daya tarik wisata budaya yang terus dikembangkan di Kabupaten Sleman. Upacara labuhan Merapi sebagai suatu daya tarik wisata budaya semakin berkembang sejak terjadinya erupsi Merapi 2010. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang membahas pemaknaan komponen upacara labuhan Merapi dan pengembangannya setelah erupsi Merapi 2010. Dalam upacara labuhan Merapi terkandung empat komponen penting yang masing-masing memiliki makna yaitu tempat upacara, waktu upacara, benda-benda upacara dan pemimpin. Setelah melihat komponen dari upacara labuhan Merapi maka masing-masing komponen tersebut akan dibahas maknanya satu persatu melalui interpretasi. Dari interpretasi makna tersebut akan diketahui pengembangan yang dilakukan pemangku kepentingan dan ada tidaknya pengembangan ke arah pariwisata yang mengubah makna upacara labuhan Merapi. Hasilnya perubahan dan pengembangan yang dilakukan oleh pemangku kepentingan tidak mengubah makna upacara labuhan Merapi. Pengembangan untuk kepentingan pariwisata seperti penginapan, lahan parkir kendaraan dan pedagang tidak menghalangi jalannya upacara. Penambahan rangkaian acara seperti fragmen upacara labuhan Merapi, slametan dan wayangan tidak mengubah makna dari rangkaian upacara labuhan Merapi.
Labuhan Merapi ceremony is a traditional ceremony that already held since many years ago and became a cultural tourist attraction that continues to be developed at Sleman region. Labuhan Merapi ceremony as a cultural tourist attraction still growing ever since Merapi eruption in 2010. In the labuhan Merapi ceremony, there are four components that each component has a meaning, which the component is: the location of the ceremony, time of the ceremony, ceremonial objects, and head of the ceremony After seeing the components of Labuhan Merapi ceremony, then each of its component will be discussed through interpretation. Through interpretation of meaning, we can see the development by stakeholders and whether the presence or absence of development in the direction of tourism can change the essential meaning of Labuhan Merapi ceremony or not. Apparently, the result of changes and development conducted by stakeholders did not change the essential meaning of Labuhan Merapi ceremony. The development for the benefit of tourism such as lodging, parking lot and traders did not block the course of the ceremony. The additional series of events such as fragments of Labuhan Merapi ceremony, slametan and wayangan also did not change the meaning of the Labuhan Merapi ceremonial procesion.
Kata Kunci : upacara, labuhan, Merapi, interpretasi, budaya, atraksi wisata