Laporkan Masalah

INSTADAKWAH: REDEFINISI KESALEHAN PEREMPUAN MUSLIM DI BANDUNG LEWAT MEDIATISASI AJARAN AGAMA ISLAM DI INSTAGRAM

IZMY KHUMAIROH, Prof. Irwan Abdullah, Ph.D

2018 | Tesis | MAGISTER ANTROPOLOGI

Indonesia bisa dilihat sebagai salah satu dari sedikit negara yang mampu melalui fase modernisasi tanpa terjebak ke dalam dua kutub ekstrem: merangkul Westernisasi seutuhnya atau menolaknya mentah-mentah dengan wacana radikalisme dan fundamentalisme. Secara khusus, poin ini ditunjukkan oleh masih sejalannya gagasan demokrasi dan Pancasila yang sekuler dengan gagasan Islamisasi yang menyentuh setiap aspek kehidupan, kecuali legal-politis. Atas landasan pemikiran demikian, tesis ini berupaya menganalisis hubungan antara yang tradisional (agama) dan yang modern (media sosial) dengan menunjukkan dampak dari proses mediatisasi terhadap penyebaran pesan-pesan keagamaan. Selain itu, bentuk pemaknaan yang lahir atas mediatisasi tersebut menjelma pada benak masyarakat salah satunya dalam konteks tesis ini adalah bentuk redefinisi makna kesalehan dalam benak pemudi Muslim di Bandung. Karakter Kota Bandung yang tersohor dengan keberadaan berbagai komunitas dakwah menjadi pintu masuk yang potensial dalam penggalian kisah-kisah yang dialami oleh para pemudi Muslim ketika mengakses dakwah baik secara tatap muka ataupun di dunia maya (Instagram). Dengan menekankan fokus pada proses dialektika internalisasi-eksternalisasi yang terjadi pada setiap individu dalam keterlibatan dirinya di kegiatan dakwah, hasil temuan memperlihatkan bahwa estetika persuasi yang muncul dalam Instagram dakwah menjadi salah satu stimulus munculnya sensasi ketubuhan dalam bentuk resistensi aktif maupun pasif. Logika media sosial seperti Instagram mendukung adanya personifikasi keilahian bukan sebagai bentuk desakralisasi melainkan gaya baru dalam beribadah yang personal. Temuan lain terkait wacana pendisiplinan tubuh yang semakin gencar dijadikan tema dakwah di ranah offline nyatanya dapat tertuang dan teraplikasikan dalam dunia maya seiring dengan fitur yang disajikan oleh Instagram. Dengan demikian, indikator kesalehan perempuan di kalangan digital natives saat ini mengalami perluasan dan perpindahan media namun tetap dalam kaidah konservatisme ajaran agama.

Indonesia can be seen as one of few countries that succeeded in going through the phase of modernization without getting trapped into the two extremes: embracing Westernization fully or completely rejecting it by using the discourse of radicalism and fundamentalism. Specifically, this point is demonstrated by the parallel of democracy and the notion of Pancasila with the process of Islamization that touches all aspects of everyday life, except for the legal-political one. Therefore, this thesis attempts to analyze the relationship between the traditional (religion) and the modern (social media) by demonstrating the impact of mediatization on the dissemination of religious messages. In addition, how individuals give meaning in this process mediatization embodies in societys mindset through the redefinition of piety in the mindset of Muslim women in Bandung. The distinctive of Bandung as the center of dakwah communities becomes a potential entry through which we can explore various stories experienced by Muslim women when accessing dakwah, either on face-to-face interaction or inside the virtual world (through Instagram). By emphasizing focus on the internalization-externalization dialectic that every individual experiences in her involvement in dakwah activities, the finding shows that aesthetics of persuasion occuring in dakwah Instagram become one of the stimulus for bodily sensation in the form of active or passive resistance. The logic of social media such as Instagram supports the divine personification not as a form of desacralization, but a new style of personal observance. Other findings regarding the disciplining of bodies that increasingly becomes a theme in offline dakwah can in fact be applied and manifested in the virtual world, thanks to various features displayed in Instagram. Thus, the indicator of women piety among digital natives today is expanding and shifting, but still in the conservative framework of religious teachings.

Kata Kunci : perempuan, dakwah, Islam, estetika persuasi, resistensi

  1. S2-2018-404261-abstract.pdf  
  2. S2-2018-404261-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-404261-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-404261-title.pdf