Laporkan Masalah

Syllabic Patterns and Classification of Blends in Posters of Events Published on Instagram

PRAHASTUTI NASTITI HADARI, Amin Basuki, S.S., M.A.

2018 | Skripsi | S1 SASTRA INGGRIS

Blend adalah proses pembentukan kata yang sering dipakai dalam iklan, salah satunya untuk menamai produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana blends dibentuk berdasarkan pola suku kata dan mengklasifikasikan mereka ke dalam kategori morphotactic, morphonologic and graphic, dan morphosemantic. Data dikumpulkan dengan mencuplik poster-poster yang diunggah di Instagram menggunakan ponsel pintar dan mengaplikasikan strategi Adrianne Lehrer dalam mengidentifikasi dan menyegmentasi blends. Selanjutnya, blends dianalisis dengan prosodic morphology yang digagas oleh Ingo Plag dan diklasifikasikan ke dalam tipe-tipe blends yang disusun oleh Elisa Mattiello. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 31 pola suku kata, 9 pola morphotactic, 5 pola morphonologic and graphic, dan 6 pola morphosemantic. Dari 94 data, blends paling banyak terklasifikasi dalam pola satu suku kata + banyak suku kata dengan jumlah 20 data. Ditemukan pula 12 blend yang bertumpang tindih. Tumpang tindih terjadi ketika bagian yang betumpang tindih memiliki peran yang sama dalam struktur suku kata, baik kata asal maupun bentuk blend. Dalam kategori morphotactic, pola yang paling sering digunakan adalah kata + potongan kata yang termasuk dalam subkategori blend sebagian dengan jumlah 35 data. Yang paling banyak digunakan dalam kategori morphonologic and graphic adalah pola blends tanpa tumpang tindih dengan jumlah 67 data. Untuk subkategori blend bertumpang tindih terdapat 27 data. Sementara itu, dalam kategori morphosemantic, blends paling banyak diklasifikasikan ke dalam pola pewatas + hulu, salah satu pola blend atributif, dengan 64 data. Penelitian ini juga menunjukkan terdapat 20 blend atributif yang induknya tidak berada di kanan dengan satu pola baru yang hampir belum pernah dipakai sebelumnya, yakni pewa(hulu)tas.

Blend is a word formation process which is widely used as a means of advertisement, one of which is to name products. This research aimed to reveal how blends were made by the syllabic patterns and classify them into morphotactic, morphonologic and graphic, and morphosemantic categorization. Data were collected by screen capturing posters posted on Instagram using smartphone applying Adrianne Lehrer’s strategy in identifying and segmenting blends. Later, blends were analyzed by using prosodic morphology proposed by Ingo Plag and classified into Elisa Mattiello’s types of blends. The result shows there are 31 syllabic patterns, 9 morphotactic patterns, 5 morphonologic and graphic patterns, and 6 morphosemantic patterns. Out of 94 data, blends are mostly classified into the pattern of syllable + syllables with 20 data. There is also found 12 overlap blends. Overlap happens when the overlapping part of the source words serve the same role in the syllabic structures of the blended form. In morphotactic category, the most used pattern is word + splinter which belongs to partial blend with 35 data. The most frequently used pattern in morphonologic and graphic category is non-overlap blend pattern with 67 data. As for overlap blends, there are 27 data. Meanwhile, in morphosemantic category, blends are classified the most into modifier + head, one of attributive blend patterns, with 64 data. This research also shows there are 20 non-right headed attributive blends with a new pattern barely used before, which is modi(head)fier.

Kata Kunci : blends, prosodic morphology, syllabic patterns, classification

  1. S1-2018-365106-abstract.pdf  
  2. S1-2018-365106-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-365106-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-365106-title.pdf