Kebijakan Luar Negeri Indonesia: Perbandingan Kebijakan SBY dan Jokowi Atas Isu Rohingya Dengan Menggunakan Model Two-Level Game
RENTA SITORUS, Dafri Agussalim
2018 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALIsu Rohingya merupakan salah satu isu kemanusiaan yang masih menjadi perhatian di kawasan Asia Tenggara. Dalam menanggapi isu ini, mayoritas negara-negara ASEAN tidak memberikan tanggapan dan perhatian serius. Namun demikian, Indonesia mengambil langkah yang tidak popular di kawasan dengan menjadi negara yang paling proaktif dalam menanggapi isu Rohingya. Isu Rohingya mengalami klimaksnya pada masa pemerintahan SBY dan Jokowi. Dua pemerintahan itu memiliki gaya politik luar negeri yang berbeda, yaitu SBY berorientasi keluar dan Jokowi berorientasi kedalam, Namun pada akhirnya menghasilkan kebijakan yang mirip terhadap isu Rohingya. Untuk memahami mengapa dua pemerintahan dengan orientasi politik luar negeri yang berbeda itu dapat menghasilkan kebijakan yang mirip atas isu Rohingya, skripsi ini menganalisa proses pembuatan kebijakan luar negeri dengan menggunakan model two-level game yang mengatakan bahwa kebijakan luar negeri yang dibuat seorang pembuat kebijakan dipengaruhi oleh tuntutan dua level, yaitu masyarakat domestik dan sistem internasional. Dalam pemerintahan SBY dan Jokowi, tuntutan di Level II (domestik) dan Level I (internasional/Asia Tenggara) ialah serupa. Tuntutan yang mirip pada dua Level menghasilkan win-set yang mirip pula sehingga pilihan kebijakan dua pemerintahan tersebut tidak jauh berbeda. Namun selain kemiripan jangkauan win-set, kebijakan yang diambil SBY dan Jokowi atas isu Rohingya juga dipengaruhi oleh persepsi mereka mengenai tujuan nasional. Persepsi tujuan nasional SBY yaitu menjadikan Indonesia sebagai pemain aktif di kawasan, sementara persepsi Jokowi ialah untuk menguatkan perekonomian internal Indonesia.
The Rohingya issue is is still regarded as one of the most prevalent humanitarian crisis in Southeast Asia. In responding to this issue, the dominant position took by ASEAN countries is closing their eyes without giving a proactive measures to solve the problem. However, Indonesia took an unpopular policy by giving massive attention to the Rohingya issue. The issue reached its climax during the government of SBY and Jokowi. The two governments has an opposing foreign policy orientation, in which SBY is is outward looking, and Jokowi is is inward looking. But interestingly, both of them are producing a similar foreign policy in responding the Rohingya issue. To understand the reason these two governments with different foreign policy orientation producing the same policy, this thesis seek to analyze the decision-making process that took place using two-level game model. Basically this model argues that a foreign policy is made under the influence of a two-level stage in the domestic and international arena. During the governance of SBY and Jokowi, the demand in both levels (domestic and international) are similar. The similar demands result in the similar policy options for the two governments. However, determinant factor for the two governments to choose certain policy is not influenced only by the similarity of win-set, rather it is also affected by the governments perception of national interest. National interest according to SBY's interpretation is to make Indonesia a global actor, meanwhile for Jokowi, it is to strengthen Indonesia's domestic economy.
Kata Kunci : Rohingya, foreign policy, SBY, Jokowi, two-level game