ANALISIS SOSIAL PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM KONSERVASI MANGROVE DI MUARA CENGKRONG KECAMATAN WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK
FANTRIA IMRANTIKA, Ir. Hery Saksono, M.A.
2018 | Skripsi | S1 MANAJEMEN SUMBERDAYA AKUATIKKawasan konservasi mangrove di Muara Cengkrong Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek telah berhasil mengalami peningkatan nyata dalam rehabilitasi setelah terjadi kerusakan akibat aktivitas manusia. Keberhasilan tersebut tidak luput dari elemen penting dalam pengelolaan yaitu pemangku kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemangku kepentingan, memetakan pemangku kepentingan berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruhnya, serta mengetahui peran dan partisipasi pemangku kepentingan dalam pengelolaan kawasan konservasi mangrove di Cengkrong. Pemilihan responden menggunakan metode purposive sampling (dipilih secara sengaja) dan snowball (bola salju) dengan ketentuan memiliki informasi secara luas dan mendalam. Pengumpulan data berupa hasil dari wawancara, observasi, dan data sekunder yang kemudian dianalisis secara kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui, pemangku kepentingan yang terlibat dalam konservasi mangrove di Cengkrong yaitu terdiri dari Pemerintah Desa Karanggandu (pemangku kepentingan primer); Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek, Perum Perhutani KPH Kediri, Penyuluh Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) Banyuwangi, dan Kesatuan Keamanan Wilayah (pemangku kepentingan sekunder); serta POKMASWAS Kejung Samudra (pemangku kepentingan utama). Kemudian berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruhnya dipetakan kedalam 4 kuadran yaitu POKMASWAS Kejung Samudra (pemain utama); Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek (pendukung); Perum Perhutani KPH Kediri (subjek), sedangkan kuadran pengikut lain terdiri dari BPPP Banyuwangi, Pemerintah Desa Karanggandu, dan Kesatuan Keamanan Wilayah. Kejung Samudra berperan dan berpartisipasi langsung dengan memberikan pengaruh nyata dalam rehabilitasi, pengembangan dan pengawasan konservasi mangrove yang didukung dengan pengawasan, perlindungan, pemberdayaan dan pengamanan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek, Perum Perhutani KPH Kediri, Pemerintah Desa Karanggandu, BPPP Banyuwangi, dan Kesatuan Keamanan Wilayah demi keberadaan konservasi mangrove di Cengkrong secara berkelanjutan.
Mangrove conservation at Cengkrong, Watulimo Sub-district, Trenggalek Regency has been successfully rehabilitated after the damages caused by human activities. The success is not spared from the important element of the management, that is the stakeholders. This research aims to identify stakeholders, map the stakeholders based on the level of interest and power and to know the role and participation of stakeholders in management of Cengkrong mangrove conservation. The respondent was chosen by using purposive sampling and snowball method based on the provision of understanding of extensive and in-depth information. Data was collected from interviews, observations, and secondary data, which then analyzed using qualitative method. The results showed that, the involved stakeholders had been mapped into 4 quadrants, they were including the Government of Karanggandu Village (as the Crowd) which is included in the category of primary stakeholders; Department of Marine and Fisheries of Trenggalek Regency (as the Context Setters), Unity of Forest Management of Kediri (as the Subjects), Education and Training Center of Fisheries of Banyuwangi (as the Crowd), and Unity of Regional Security (as the Crowd) are categorized as the secondary stakeholders; while Kejung Samudra (as the Key Players) is categorized as the main stakeholders. Kejung Samudra is directly participating by giving the direct influence to rehabilitation and development of the mangrove conservation which is supported by other stakeholders to provide sustainable protection, empowerment, and security for Cengkrong mangrove conservation.
Kata Kunci : kepentingan, konservasi, partisipasi, pemangku, pengaruh