Perbedaan Gambaran Interaksi Orang Tua-Anak Pada Anak Stunting Dan Tidak Stunting Di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta
BELLA WILITA DESI, Anik Rustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., Ns.Sp.Kep.An.; Dr. Fitri Haryanti, S.Kp., M.Kes.
2018 | Skripsi | S1 ILMU KEPERAWATANLatar belakang: Masalah balita stunting menggambarkan adanya malnutrisi kronis, terutama dua tahun pertama kehidupan yang telah mempengaruhi kesehatan 165 juta anak di dunia. Status nutrisi anak juga bisa mempengaruhi perilaku, secara tidak langsung berdampak pada perkembangan mereka melalui dua jalur utama, yaitu eksplorasi masa kecil dan interaksi dengan pengasuh. Interaksi sehari-hari antara pengasuh dengan anak adalah yang paling penting karena mempengaruhi perkembangan otak dan syaraf anak, serta psikologis dan penyesuaian sosial anak. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan gambaran interaksi orang tua-anak pada anak stunting dan tidak stunting di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional metode survey dengan jumlah sampel 107 anak usia 12-24 bulan dan orang tuanya (ayah atau ibu) sebagai pengasuh utama, diambil dengan metode cluster sampling. Penilaian derajat stunting dinyatakan dengan Z-score tinggi badan per usia dan diklasifikasikan menggunakan WHO Anthro. Interaksi orang tua-anak dilihat menggunakan Interaction Rating Scale (IRS). Data dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian: Berdasarkan penelitian ini jumlah anak yang tidak stunting di Gunungkidul lebih banyak dibanding anak yang stunting (74,8% anak tidak stunting dan 25,2% anak stunting). Interaksi orang tua-anak di Gunungkidul hampir sama, namun interaksi orang tua-anak yang baik lebih banyak yaitu 54,2% dibanding yang buruk (45,8%). Dari hasil uji Chi-Square yang dilakukan terdapat perbedaan bermakna antara interaksi orang tua-anak pada anak stunting dan tidak stunting (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan interaksi orang tua-anak pada anak stunting dan tidak stunting. Interaksi orang tua-anak pada anak tidak stunting lebih baik dibanding interaksi orang tua-anak pada anak yang stunting.
Background: The problem of short toddlers illustrates the presence of chronic malnutrition, especially the first two years of life that have affected the health of 165 million children in the world. The nutritional status of children can also influence behavior, indirectly affecting their development through two major pathways, namely childhood exploration and interaction with caregivers. The daily interaction between caregiver and child is the most important because it affects the brain and nervous development of children, as well as psychological and social adjustment of children. Objective: To identify the difference between parent-child interaction image in stunting and not stunting children in Gunungkidul Regency, Yogyakarta Methods: The design of this study was cross sectional and survey method with the sample size of 107 children aged 1-2 years old and their parents (father or mother) as primary caregiver, taken by cluster sampling and survey method. Stunting grade assessment was expressed by z-score height for age and classified using WHO Anthro. Parent-child interaction is seen using Interaction Rating Scale (IRS). Data were analyzed by Chi-Square test. Results: Based on this study, the number of not stunting children in Gunungkidul is more than the ones who are stunting (74.8% not stunting children and 25.2% stunting children). The parent-child interactions in Gunungkidul are pretty similar, but good parent child interaction is higher 54,2% than worse ones (45,8%). From the conducted Chi-Square test, there is a difference between the parent-child interaction to stunting children and to the ones who are not stunting (p <0.05). Counclusion: There is a difference between parent-child interaction in stunting and not stunting children. Parent-child interactions in not stunting children are better than parent-child interactions in stunting children.
Kata Kunci : interaksi orang tua-anak, stunting, tidak stunting