Laporkan Masalah

PENGARUH KUALITAS RUANG TERHADAP PERKEMBANGAN INDUSTRI KREATIF BERBASIS BUDAYA

ZILDA DONA OKTA PERMATA, Retno Widodo Dwi P, St., M.Sc., Ph.D.

2018 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Pendekatan kapabilitas merumuskan bahwa kualitas tempat merupakan salah satu aset penting yang dapat dikonversikan ke dalam bentuk modal bagi masyarakat untuk berkembang, termasuk di ranah ekonomi (Pramono, 2016). Kualitas tempat dibutuhkan dalam kampung wisata sebagai salah satu bentuk dari industri kreatif berbasis budaya (Nuryanti, 1993). Pendapatan masyarakat yang berada di lokasi kampung wisata bergantung pada seberapa produktif para perajin dan seberapa besar penjualan dari produk, terutama yang berasal dari transaksi yang berlangsung di dalam kampung wisata. Jadi, cara perajin menarik pengunjung juga sama pentingnya dibangdingkan dengan kecocokan suatu tempat bagi proses produksi. Kualitas tempat di kampung yang berbasis industri kreatif budaya menjadi penentuk dalam upaya bersaing dengan tempat lainnya yang dapat memengaruhi tingkat kapabilitas perajin itu sendiri dalam melakukan fungsi ekonomi (economy functioning) yang mana dapat diukur dari kapabilitas perajin untuk menghitung seberapa produktif dan untung dari proses industri tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan konsep kualitas tempat yang dapat meningkatkan kapabilitas dari masyarakat di kampung industri kreatif berbasis budaya dan meningkatkan taraf ekonomi dari masyarakat itu sendiri. Penelitian ini menggunakan studi kasus komparatif terhadap dua kampung industri yang memiliki perbedaan. Kampung Terogong yang berada di Jakarta Selatan dan Kampung Giriloyo yang berada di Kabupaten Bantul, kedua lokasi ini dapat mengembangkan industri dengan segala potensi yang dimiliki. Kampung Terogong yang berada di area perkotaan yang berdekatan dengan fasilitas-fasilitas sedangkan Kampung Giriloyo berlokasi di area perdesaan dengan potensi pemandangan. Hasil dari perbandingan kedua lokasi berdasarkan evaluasi presepsi perajin terhadap aset yang penting sesuai dengan pendekatan kapabilitas (terdiri dari TIA, PTA, IIA, SIA, dan EIA) menunjukkan bahwa aset tempat bagi industri kreatif yang terletak di area perdesaan lebih memberikan pengaruh dalam kapabilitas perajin dibandingkan dengan area perkotaan. Analisis selanjutnya dilakukan lebih khusus terhadap indikator yang diamati langsung terkait dengan elemen fisik-spasial, yang direduksi dari konsep teoritis permukiman (Doxiadis, 1968, dan Shirvani, 1986). Elaborasi evaluasi persepsi dan pengamatan langsung digunakan untuk merumuskan konsep kualitas tempat yang sesuai dengan Desa Wisata Budaya Kreatif.

In capability approach, place's quality is one of the important assets to be converted into capital for the community to develop, including in the economic case (Pramono, 2016). Place quality is required for tourism village as the Cultural- Creative industry (Nuryanti, 1993). People's income on the tourism village depends on how productive they are and how big the sales turnover is, especially from the transaction that's held in that village. So that, the way it attracts people were also important compared to the place's suitability of production process. The place's quality in tourism village is a determinant of competitiveness that can affect people's (craftsman) capability in doing an economy functioning, which is measured from their ability to count the production volume, sell, and get advantages from a direct craft. Employing capability survey approach, this research is purposed to find the concept of place's quality in supporting the capacity of community in the Cultural- Creative Tourism Village capability to improve their economy. This research is conducted using comparative case study against two creative tourism villages that are considered a big difference. It is Kampung Terogong based in South Jakarta and Kampung Giriloyo in Bantul regencies, both of the Kampung be able to develop their industry with all of the potentials they have. Kampung terogong located in an urban area that has many facilities near them besides Kampung Giriloyo located in the rural area and has a potential landscape. The result of the comparison upon community's perceptual evaluation on assets variable based on capability approach- named TIA, PTA, IIA, SIA, and EIA, shows that Cultural- Creative Tourism Village at rural area turns out giving more capability support to their community compare it in the urban center. The next analysis is conducted more specifically to the directly observed indicators linked with physical-spatial elements, which are deducted from settlement theoretical concept (Doxiadis, 1968, and Shirvani, 1986). The elaboration of perceptual evaluation and direct observation is used to formulate a concept of place's quality that suitable to Cultural- Creative Tourism Village. Keywords: Capability Approach, Kampung Tourism, Culture-Based Creative Industry, Place Quality

Kata Kunci : Kata Kunci: Pendekatan kapabilitas, Kampung Wisata, Industri Kreatif Berbasis Budaya, Kualitas Tempat/Capability Approach, Kampung Tourism, Culture-Based Creative Industry, Place Quality

  1. S1-2018-363510-abstract.pdf  
  2. S1-2018-363510-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-363510-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-363510-title.pdf