Laporkan Masalah

TINJAUAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENDAPATAN TERHADAP SWAMEDIKASI ANALGESIK NYERI GIGI PADA ANAK-ANAK DI DESA SENDANGADI, MLATI, SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

RACHEL KARIMAH, drg. Mayu Winnie R., M.Sc, Ph.D ; Dr. drg. Archadian Nuryanti, M.Kes

2018 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN GIGI

Nyeri gigi merupakan masalah yang paling sering dijumpai, 25,9% masyarakat Indonesia mengalami nyeri gigi terutama pada anak. 59% anak berusia 10 tahun keatas pernah mengalami nyeri gigi. Untuk mengatasinya sebanyak 57,1% masyarakat di Yogyakarta lebih memilih melakukan swamedikasi menggunakan obat. Analgesik merupakan obat yang digunakan dalam penatalaksanaan nyeri gigi. Desa Sendangadi adalah salah satu kawasan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terdapat 12,86% anak yang sedang menempuh pendidikan sekolah dasar dari total populasi. Tingkat pendidikan dan pendapatan masyarakat yang beragam akan menimbulkan berbagai macam keputusan swamedikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pendidikan dan pendapatan terhadap pemilihan analgesik swamedikasi untuk nyeri gigi pada anak-anak di Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Subjek penelitian adalah ibu-ibu yang memiliki anak berusia 6-12 tahun, pernah mengalami nyeri gigi dan melakukan swamedikasi untuk meredakan nyeri gigi yang tinggal di 12 RT, Desa Sendangadi yaitu sebanyak 107 subjek. Kuesioner yang telah valid dan reliabel dibagikan kepada subjek, pengisian kuesioner dipandu oleh peneliti. Jawaban kuesioner dikelompokkan berdasarkan tingkat pendidikan dan pendapatan, kemudian dianalisis dengan menggunakan uji Independent T-Test. Hasil uji Independent T-Test menunjukkan nilai p yang signifikan (p<0.05) antar kelompok pendidikan dan pendapatan. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu tingkat pendidikan dan pendapatan berpengaruh terhadap swamedikasi analgesik pada anak dan dari 107 subjek, 31 (28,9%) yang melakukan swamedikasi dan 26 (24,29%) tidak sesuai dengan teori dalam pelaksanaan swamedikasi.

Dental pain in often found in 25,9% Indonesian people, especially in children. 59% children up to 10 years old had experience with dental pain. 57,1% of population in Yogyakarta prefer to do self-medication using drug. Analgesic is a drug that selectively relieves dental pain. Sendangadi village was one of area in. rta with 12,86% children attended in primary school of all population. Different education and income level of population would have a different kind of self-medication decision. This research has the purpose to know analgesic self-medication for children�s dental pain in Sendangadi village, Mlati, Kabupaten Sleman, Special Region of Yogyakarta. The subjects of the research are mother who have children between 6-12 years old, have experience with dental pain and did self-medication to relieve dental pain in 12 neighborhoods of Sendangadi village amount 107 subjects. Valid and reliable questionnaire distributed to respondents, filling out the questionnaire was guided by the researcher. Answer of questionnaire were grouped based on education and income, then analyzed by Independent T-Test. Independent T-Test showed the significant p value (p <0.05) between different group based on education and income. This study concluded that education and income level had effect on self-medication using analgesic in children and among 107 subjects, 31 (28,9%) did self-medication and 26 (24,29%) different line with the teori in self-medication.

Kata Kunci : swamedikasi, analgesik, anak, Desa Sendangadi.

  1. S1-2018-362578-abstract.pdf  
  2. S1-2018-362578-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-362578-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-362578-title.pdf