Laporkan Masalah

Keragaan Komponen Hasil Perdu Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Hasil Perbanyakan Vegetatif Turunan Kedua

VANSKA NOZELLE H, Dr. Ir. Taryono, M.Sc

2018 | Skripsi | S1 PEMULIAAN TANAMAN

Teh merupakan salah satu komoditas utama perkebunan Indonesia. Salah satu sebab rendahnya produktivitas teh nasional adalah umur perdu yang sudah tua, sehingga perlu diremajakan melalui pengembangan varietas baru yang dapat dibudidayakan secara nasional. Teh biasanya diperbanyak secara vegetatif, namun sifat keturunannya belum tentu identik dengan induknya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keragaan perdu vegetatif turunan pertama (V1) dan vegetatif turunan kedua (V2) yang berasal dari perdu F1 yang sama, serta menduga nilai parameter genetik komponen hasil perdu V1 dan V2. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – Desember 2017 di blok Sanderan dan Binorong, PT Pagilaran. Klon yang digunakan yaitu PGL 09, PGL 10, PGL 11, PGL 12, dan PGL 15. Penelitian menggunakan metode survei dengan 5 perdu sebagai ulangan. Data komponen hasil diamati selama 4 kali pemetikan dianalisis dengan pendekatan anova rancangan acak lengkap faktorial dengan uji lanjut scott knott. Pendugaan parameter genetik digunakan E(MS) dari anova tersebut, serta dilakukan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara klon dengan tahap vegetatif pada lebar daun, panjang daun, panjang tangkai, jumlah peko, berat segar peko, dan berat kering peko, sehingga berdasarkan sifat tersebut dapat dikatakan bahwa klon klon yang diuji tidak stabil, sebaliknya mendasarkan sifat berat segar daun, berat kering daun, berat segar tangkai, berat kering tangkai, dan daya hasil kering bersifat cukup stabil. Sifat yang memiliki nilai heritabilitas tinggi adalah lebar daun dan bobot kering, sedangkan nilai koefisien keragaman genetik dan koefisien keragaman fenotip tinggi terdapat pada sifat berat segar peko dan berat kering peko.

Tea is one of the main plantation commodities in Indonesia. Very old plantation with extensive management lead to low tea productivity. Because tea in Indonesia is too old, replanting must be done throught the development of new varieties that can be nationally cultivated. Tea is usually vegetatively propagated, which exhibits is not always an identical properties to parent plant. The objective of this observation was to compare the first (V1) and the second (V2) vegetative derived from the same F1 plant and to estimate the value of genetic parameters of the yield components of V1 and V2. The research was conducted in July - December 2017 in Sanderan and Binorong fields. The clones used were PGL 09, PGL 10, PGL 11, PGL 12, and PGL 15. The data of observation is the yield components for 4 times plucking and were analyzed of variance based on Completely randomized design with further test of Scott Knott. Estimation of genetic parameters used E(MS) of the anova, and analysis multiple regression.. The results showed that there are an interaction between the clones with the vegetative stage in the leaf width, leaf length, stalk lenght, the number of peco, peco fresh weight, and peco dry weight. Stable clones were recoqnized from leaf fresh weight, leaf dry weight, stalk fresh weight, stalk dry weight and potential dry yield. Leaf width and dry weight showed high heritability, whereas high coefficient of genetic and phenotypic variance were observed in peco fresh weight and dry weight.

Kata Kunci : klon PGL, keragaan, parameter genetik

  1. S1-2018-350227-abstract.pdf  
  2. S1-2018-350227-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-350227-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-350227-title.pdf