TINGKAT KEBERHASILAN PENANGANAN KASUS ABORTUS INKOMPLIT PADA PUSKESMAS PONED DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT
KURNIATY, Prof. dr. Djaswadi Dasuki, MPH,SpOG(K),PhD
2018 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang: Salah satu indikator derajat kesehatan adalah angka kematian ibu. Penyediaan layananan Puskesmas PONED merupakan strategi penting untuk menangani komplikasi untuk mencegah kematian ibu. Angka abortus di seluruh dunia adalah 35 per 1000 wanita yang berusia 15 - 44 tahun. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat selama 3 tahun terakhir menunjukkan abortus merupakan kasus terbesar, sampai bulan Desember tahun 2017 jumlah abortus sebanyak 89 kasus pada 9 Puskesmas baik yang PONED maupun Non PONED. Tujuan: Untuk mengetahui tingkat keberhasilan penanganan kasus Abortus Inkomplit pada Puskesmas PONED di Kabupaten Sumbawa Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan mix method. Penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional dan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus jamak. Sampel penelitian kuantitatif adalah ibu dengan abortus inkomplit dan sampel penelitian kualitatif yaitu bidan, dokter dan kepala Puskesmas. Analisis data kuantitatif menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Pengumpulan data kualitatif dengan metode indepth interview. Hasil: Penanganan abortus inkomplit yang berhasil sebesar 63,3% dan s Puskesmas PONED sudah lengkap sebesar 67,3%. Terdapat hubungan yang signifikan antara keberhasilan penanganan abortus inkomplit dengan kelengkapan Puskesmas PONED. Kemungkinan untuk keberhasilan penanganan kasus abortus inkomplit pada Puskesmas PONED lengkap 4,1 kali lebih besar dibandingkan dengan Puskesmas PONED tidak lengkap. Terdapat hubungan yang signifikan antara usia kehamilan ibu saat abortus dengan keberhasilan penanganan abortus inkomplit (OR=7,1;CI95% 1,27-40,2). Hasil kualitatif menunjukkan kerja sama tim PONED dapat mempengaruhi keberhasilan penanganan kasus abortus inkomplit. Kesimpulan: Penanganan abortus inkomplit di Puskesmas lengkap kemungkinan berhasil lebih tinggi dibandingkan dengan Puskesmas PONED kurang lengkap.
Background: Maternal mortality One of health status indicator . The provision of EmOC PHC is an important strategy for dealing with complications to prevent maternal deaths. Worldwide abortion rates are 35 per 1000 women aged 15-44. Data from West Sumbawa Health Office for the last 3 years abortion is the biggest case, until December of 2017 abortion was 89 cases in 9 both EmOC PHC and Non EmOC PHC. Objective: To know the success rate of incomplete abortion case handling at EmOC PHC in West Sumbawa. Method: This research use descriptive analytic design with mix method approach. Quantitative research with cross sectional design and qualitative research with multiple case study approach. The quantitative research sample is mother with incomplete abortion and qualitative research sample is midwife, doctor and head of Puskesmas. Quantitative data analyse used chi-square test and logistic regression. Qualitative data collection using indepth interview method analyse. Result: Handling of successful incomplete abortion was 63,3% and most of PONED PHC was complete 67,3%. There is a significant correlation between the success of incomplete abortion handling with the completeness of EmOC PHC. The likelihood of successful completion of incomplete abortion cases in complete EmOC PHC was 4.1 times greater than that of incomplete EmOC PHC. There was a significant relationship between maternal gestational age at abortion with successful incomplete abortion treatment (OR = 7,1; CI95% 1.27-40,2). Qualitative results show that EmOC teamwork can influence the success of handling incomplete abortion cases. Conclusion: Completeness of EmOC PHC has relationship with handling of incomplete abortion case.
Kata Kunci : Puskesmas PONED, penanganan abortus inkomplit, kerjasama tim, EmOC PHC; handling of incomplete abortion; teamwork