Peri Urban Agriculture Concept for Policy Formulation and Sustainable Development: A Case of Kathmandu Valley Nepal
RANA, SHREEMA, Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc.; Dr. Rini Rachmawati, M.T.
2018 | Disertasi | DOKTOR ILMU GEOGRAFIPenelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan paralel antara pertanian dan kebijakan pengembangan penggunaan lahan untuk meningkatkan pertanian di daerah pinggiran kota. Aktivitas pertanian yang dilakukan di area pinggiran perkotaan dan mengeksplorasi nilai dari pembeli dan penjual untuk sayuran yang ditanam di Lembah Kathmandu. Ini menjadi inti dari penelitian dengan pengaruh besar dari urbanisasi termasuk di dalamnya migrasi desa dan memiliki permintaan yang terus meningkat dari produksi sayuran. Penelitian ini dimulai dengan wawancara dengan petani dari daerah pinggiran kota yang kemudian diklasifikasikan ke dalam unit-unit yang berbeda dari analisis menggunakan metode penelitian studi kasus tunggal. Penjual dan pembeli diwawancara menggunakan "snow ball sampling" yang menghubungkan antara mata pencaharian petani dengan preferensi pasar dan pembeli. Penemuan yang didapatkan dari wawancara secara bertingkat digunakan untuk menggambarkan formulasi kebijakan yang mempertimbangkan pembangunan berkelanjutan. Keanekaragaman dari petani ada dalam kepemilikan lahan, pendapatan, luasan, dan lain-lain. Distrik Bhaktapur meliputi hampir 90% dari petani asli yang menanam sayuran untuk dijual sejak dari awal permukiman tersebut terbentuk. Distrik Kathmandu dan Lalitpur terdiri lebih dari 60% petani yang berasal dari daerah desa dan kota. Penelitian ini menunjukkan bahwa daerah pinggiran kota prospektif di Lembah Kathmandu untuk infrastruktur kota dan pasar. Namun, keberlanjutan pertama dari area pinggiran kota membutuhkan mata pencaharian yang stabil secara finansial untuk petani. Penelitian ini mengungkapkan adanya mekanisme pasar yang lemah dimana petani menjadi "penerima harga" dibandingkan "penentu harga". Lebih lanjut, tidak ada kebijakan yang mendukung hak petani dan pelestarian kesuburan lahan pertanian. Sebagai bagian dari strategi penguatan kebijakan, petani di Lembah Kathmandu perlu untuk dikuatkan dengan membuat organisasi berbasis masyarakat. Hal tersebut dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan akses ke input, jasa, dan pasar. Organisasi semacam itu termasuk koperasi yang diprakarsai oleh petani membantu dalam melakukan negosiasi daya tawar di seluruh rantai nilai pasar dan memperkuat suara mereka dalam proses pembuatan kebijakan. Mereka membantu menggabungkan pertanian kota dalam upaya perencanaan jangka panjang, pengembangan daerah kota untuk pengentasan kemiskinan antara petani desa, dan mencapai pertanian yang berkelanjutan. Juga mendorong pertumbuhan kehidupan terdekat dapat menjadi bagian dari lanskap wajib untuk pengembangan yang baru. Dari penelitian strategi penghidupan yang berkelanjutan dari petani pinggiran kota termasuk intensifikasi pertanian seperti diversifikasi pekerjaan dan sumber pendapatan untuk menyarankan rumusan kebijakan dan mencapai pembangunan berkelanjutan dari daerah pinggiran kota di Lembah Kathmandu.
The study was to make the parallel connections between the agriculture and land use development policies for enhancing peri urban agriculture. It examined the agricultural activities carried out in the peri urban areas and explored the values of sellers and buyers for the valley's grown vegetables in the Kathmandu Valley. It being the epitome place for research with the immense influence of urbanization including rural migration and has the ever increasing demand of the vegetable produces. This study began with the interviews of peri urban farmers further classifying it into different units of analysis under the single case study research method. Sellers and buyers were interviewed using 'snow ball sampling' linking farmers' livelihood with market and buyers' preferences. The findings from multilevel interviews were used to draw policy formulation considering sustainable development. The diversity of farmers was in terms of land ownership, income, area, etc. Bhaktapur district comprised almost 90% of native farmers growing vegetables for business since the beginning of the settlement. Kathmandu and Lalitpur district comprised more than 60% of farmers from the urban and rural areas. The findings showed PUA's prospective in KV due to the urban infrastructure and market. However, first sustainability of PUA required financially stable livelihood of farmers. The study revealed weak market mechanism where farmers were price taker than being 'price maker'. Further, there were no policies that supported farmers' right and preserved fertile agriculture land. As a part of policy strengthening strategies, the business farmers of KV needs to be strengthened by establishing CBOs. It can serve as a medium to improve access to input, services and market. Such organizations including farmers initiated cooperatives help negotiate bargain power across the market value chain and strengthen their voice in policy making. They help incorporate UA in long range planning efforts, rural territorial development to leverage poverty reduction among the rural farmers and bring sustainability in agriculture. Also encouraging growing near living could be a part of mandatory landscape for the new development. From the study the sustainable livelihood strategies of the peri urban farmers includes agricultural intensification as well as diversification of employment and income sources to suggest policy formulation and achieve sustainable development from PUA in KV.
Kata Kunci : Urbanization, Peri urban agriculture, Farmers, Market, Policy, Kathmandu Valley.