Laporkan Masalah

Kompetensi sosial konselor sebaya dalam melakukan konseling sebaya di Sekehe Truna Truni Provinsi Bali

NI KOMANG TRI A, Dr. Wenny Artanty Nisman, S.Kep., Ns., M.Kes;Prof. Dra. R.A. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D

2018 | Tesis | MAGISTER KEPERAWATAN

Latar belakang: Keberadaan konselor sebaya di masyarakat diharapkan dapat membantu remaja di lingkungannya. Pada kenyataanya, masih banyak remaja belum memahami tentang kesehatan reproduksi. Kemampuan konselor sebaya terlihat dari kompetensi sosialnya. Penelitian ini ingin menggambarkan kompetensi sosial secara kuantitatif dan menggambarkan kompetensi sosial dan proses pelaksanaan konseling sebaya secara kualitatif. Metode: Penelitian menggunakan metode kualitatif studi kasus deskriptif. Data dikumpulkan dua tahapan, pengisian kuesioner kompetensi sosial dan wawancara mendalam. Teknik sampling pada penelitian kuantitatif menggunakan total sampling, selanjutnya dilakukan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dengan jenis maximum variation sampling. Wawancara dilakukan selama dua kali pertemuan. Analisa data deskriptif untuk hasil pengisian kuisioner kompetensi sosial dan hasil wawancara analisa data menggunakan metode Colaizi. Hasil: Penelitian mengungkapkan delapan orang responden memiliki kategori kompetensi sosial yang tinggi (14,3%), tiga puluh sembilan orang memiliki kompetensi sedang (69,6%) dan sebanyak sembilan orang memiliki kompetensi sosial rendah (16,1%). Hasil penelitian kualitatif menggambarkan: : 1) Mampu mengenali kemampuan diri sendiri dan bersikap empati terhadap orang lain merupakan kompetensi menonjol sebagai konselor, 2) Mampu menjadi komunikator dan pendengar yang baik sebagai kemampuan konselor di masyarakat, dan 3) Pelaksanaan konseling difasilitasi dengan suasana yang santai, namun perasaan takut dan tabu masih menjadi hambatan konseling sebaya Kesimpulan: Kompetensi yang dimiliki mampu mencegah timbulnya perilaku negatif remaja. Pihak puskesmas juga telah menyediakan dukungan dalam pemberian informasi, fasilitas pelayanan konseling dan peningkatan kemampuan konselor. Perlu mengembangkan kegiatan konseling yang santai untuk menghilangkan persepsi negatif remaja terhadap konseling, dan pemahaman remaja tentang peran dan fungsi konselor sebaya.

Background: The existence of peer counselors in the community was expected to help adolescents in their environment. In fact, many teenagers do not yet understand about reproductive health. Peer counselor ability was visible from their social competence. This study aimed to describe social competence quantitatively and describes the social competence of peer counselor, process of peer counseling qualitatively. Methods: The study used qualitative descriptive case studies. Data collected in two stages, completion of social competence questionnaire and in-depth interview. Sampling technique in quantitative used total sampling, continued by qualitative used purposive sampling, with the type of maximum variation sampling. The interview was conducted twice. Descriptive data analysis for the results of questionnaire of social competence and qualitative data analysis was performed by Colaizzi method. Results: The study revealed that eight respondents had high social competence category (14.3%), thirty nine respondents had moderate competence (69.6%) and nine respondents had low social competence (16.1%). The results of qualitative research describe: 1) The ability to recognize their ownself�s ability and being emphatetic towards others are the important competence of peer counselor, 2) The ability of become a good comunicator and listener as a counselor�s ability in community, and 3) Counseling was facilitated in relaxed atmosphere, but fears and taboo was a barrier in conducting peer counseling. Conclusion: Competence possess able to prevent the emergence of adolescent negative behavior. Public health center had also provided support in providing information, counseling facilities and capacity building of counselors. Need to develop counseling in relax situation to eliminate the adolescent's negative perceptions of counseling, and the adolescent's understanding of the role and function of peer counselors. Keywords: peer counselor, social competence, peer counseling

Kata Kunci : konselor sebaya, kompetensi sosial, konseling sebaya

  1. S2-2018-403480-abstract.pdf  
  2. S2-2018-403480-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-403480-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-403480-title.pdf