PROYEKSI BENEFIT PERENCANAAN TERINTEGRASI BERBASIS PETERNAKAN PADA DAERAH RAWAN PANGAN (Studi kasus: Kampung Naga, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua)
YUDISTIRA SOEHERMAN, Prof. Catur Sugiyanto, M.A., Ph.D
2018 | Tesis | Magister Ekonomika PembangunanBerdasarkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia Tahun 2015 terdapat 53 Kabupaten terindikasi masuk dalam level priroritas 1 dan 2 sehingga perlu dilakukannya upaya pengentasan rawan pangan. Upaya tersebut penting diawali dengan melakukan identifikasi karakter daerah rawan pangan sebagai acuan dalam menyusun sebuah perencanaan kolaboratif, terintegrasi agar efektif serta berkelanjutan dalam menyelesaikan masalah rawan pangan. Sebuah perencanaa program kebijakan, dapat diketahui sejauh mana keefektifitasannya dalam menyelesaikan masalah pada level pra implementasi dengan melakukan proyeksi atau estimasi. Tujuan dari penelitian ini meliputi: a) menganalisis potensi pengembangan sektor agro (peternakan dan pertanian); b) menyusun model dan strategi Pengembangan kawasan rawan pangan berbasis peternakan terintegrasi; c) memproyeksi benefit program pengembangan rawan pangan berbasis peternakan terintegrasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang merupakan penelitian berbasis analisis deskriptif. Penelitian ini berfokus pada menemukan permasalahan rawan pangan, mengupas potensi yang dapat dikembangkan pada sub kawasan yang lebih kecil dengan membentuk prototype atau pilot project agar lebih efektif dalam merumuskan kebijakan dan strategi implementatif untuk mengentaskan daerah rawan pangan. Berdasarkan hasil analisis, nilai NPV yaitu Rp38.467.592.945 menandakan jika dilakukan investasi akan memberikan keuntungan bagi kelompok usaha. Berdasarkan analisis B/C ratio, hasil analisis menunjukkan nilai 2,31, sehingga usaha layak dijalankan karena B/C ratio > 1. IRR pada analisis usaha sebesar 101% Discount rate yang digunakan (5,16%), sehingga rencana usaha layak dilakukan. Berdasarkan analisis pay periods, proyek usaha ini akan balik modal pada tahun kedua. Penyebab kerawanan pangan dapat di atasi dengan perumusan kebijakan berbasis cascading 5 level atau tingkatan meliputi tujuan, sasaran, strategi, program, dan kegiatan. Berdasarkan analisis, perencanaan ini memberikan proyeksi intangible yang mampu menurunkan level prioritas rawan pangan Kabupaten Boven Digoel yang semula di prioritas 2 dengan skor komposit 115,76 menurun menjadi level prioritas 4 dengan skor komposit 71,08.
Based on Indonesia's Food Security and Vulnerability Map 2015 there are 53 districts indicated to be in the 1st and 2nd priority level so it is necessary to do the effort to alleviate food insecurity. The effort is important to identify the character of food insecurity as a reference in formulating a collaborative planning, integrated to be effective and sustainable in solving the problem of food insecurity. A policy program planner can be known to what extent, effectiveness in solving the problem at pre-implementation level use projecting or estimating. The aims of this study include: a) analyzing the potential for agro-sector development (livestock and agriculture); b) developing models and strategies Development of integrated food insecurity based livestock areas; c) projected the benefit of integrated food insecurity development programs based on livestick. This study uses a qualitative approach with a descriptive-based research. This study focuses on finding food insecurity problems, exploring potentials that can be developed in smaller sub-regions by forming prototypes or pilot projects to be more effective in formulating policies and implementation strategies to alleviate food insecurity. Based on the results of the analysis, the value of NPV is Rp38.467.592.945 indicating if investment will provide benefits for the business group. Based on the analysis of B/C ratio, the result of analysis shows the value of 2.31, so the business is feasible to run because B/C ratio > 1. IRR in business analysis equal to 101% Discount rate used (5,16%). The payback periods will be turnover in the second year. The causes of food insecurity can be overcome with the formulation of cascading policies based on 5 levels or levels including goals, objectives, strategies, programs, and activities. Based on the analysis, this planning provides intangible projection that can decrease food insecurity level Boven Digoel Regency which was originally in the 2nd priority with composite score 115,76 decreasing to level 4th priority with composite score 71,08.
Kata Kunci : benefit, kebijakan, kerawanan, pangan, proyeksi./benefit, food, policy, projections, vulnerability