Laporkan Masalah

FEASIBILITY OF IMPLEMENTING WEB-BASED SURVEILLANCE SYSTEM FOR RISK FACTORS OF NCDS AT POSBINDU (COMMUNITY-BASED) LEVEL IN BANTUL DISTRICT, YOGYAKARTA: AN IMPLEMENTATION RESEARCH

SISKA DIAN W, dr. Fatwa Sari Tetra Dewi, MPH, PhD; Anis Fuad, S.Ked., DEA

2018 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Latar belakang: Untuk mengendalikan masalah PTM, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memiliki strategi dengan mengendalikan faktor risiko PTM dengan sistem surveilans PTM. Tujuannya untuk menyediakan data dan informasi yang akurat dan sistematis secara terus menerus dan memantau kemajuan faktor risiko yang memprediksi penyakit utama sebagai basis data untuk pengambilan keputusan. Strategi ini menggunakan portal berbasis web sebagai pencatatan data. Posbindu adalah tingkat terendah untuk memasukkan data yang terintegrasi ke database di Kemenkes. Kelayakan sistem pengawasan berbasis web untuk faktor risiko PTM dapat berkontribusi untuk keberhasilan program ini seperti yang direncanakan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kelayakan penerapan sistem surveilans berbasis web untuk faktor risiko PTM di tingkat Posbindu dengan fokus pada penilaian penerimaan, permintaan, implementasi, dan kepraktisan. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian implementasi dengan pendekatan kualitatif dengan desain metode studi kasus. Lokasi penelitian berada di Kabupaten Bantul Yogyakarta. Subyek ditentukan dengan metode purposive sampling. Tiga belas wawancara mendalam (7 kader, 2 Kepala Puskesmas, 2 Programmer, 2 Dinkes), 1 FDG dengan 8 Programmer PHC, 2 pengamatan kader menggunakan web, dan tinjauan dokumen dilakukan. Untuk analisis kasus negatif, kami mewawancarai tiga kader yang belum diimplementasikan berbasis web. Hasil: Dari 67 Posbindu di Kabupaten Bantul, hanya 4 Posbindu yang menerapkan sistem surveilans berbasis web. Pada dasarnya, semua kader menerima menggunakan berbasis web tetapi Puskesmas berpikir bahwa itu tidak pantas untuk kader karena kebanyakan kader adalah orang tua dan tidak terbiasa dengan teknologi. Selain itu, intervensi ini menunjukkan pemanfaatan yang rendah. Implementasi berbasis web adalah kurangnya sumber daya (kader, fasilitas laptop dan internet, anggaran), kurangnya pemantauan dan evaluasi. Diperlukan keterlibatan kepemimpinan dari para pemangku kepentingan, dan konten dari web harus ramah pengguna. Kesimpulan: Ini cukup layak untuk menerapkan sistem surveilans berbasis web di tingkat Posbindu tetapi memerlukan banyak perbaikan untuk mengatasi faktor-faktor penghambat seperti pengembangan kapasitas (pelatihan), menyediakan fasilitas, membuat formulir offline lebih sederhana, pemantauan ketat dan evaluasi

Background: Non-Communicable Diseases (NCDs) in Indonesia increase each years. To control this problem, Ministry of Health (MoH) has strategy by controlling risk factors of NCDs with NCDs surveillance system. The aims is to provide accurate and systematic data and information continuously and monitor progress of risk factors which predict major disease as the basis data for public health decision-making. The system is conducted from community level which is called Posbindu NCDs. This strategy is using portal web-based as recording data. Posbindu is the lowest level to input data that integrated to database in MoH. Feasibility of the implementing web-based surveillance system for risk factors of NCD may contribute for the successful of this program as planned. Objective: This study aim to describe the feasibility of implementing web-based surveillance system for risk factors of NCDs at Posbindu level by focus on assess acceptability, demand, implementation, and practicality. Method: This study was an implementation research with qualitative approach by case study method design. The study site was in Bantul District of Yogyakarta. Subject was determined by purposive sampling method. Thirteen in-depth interviewed (7 cadres, 2 Head of PHC, 2 Programmer, 2 DHO), 1 FDG with 8 Programmers of PHC, 2 observation of cadre’ demonstration using web, and document reviews were conducted. For negative case analysis, we interviewed three cadres who was not implemented web based yet. Results: Among 67 Posbindu in Bantul District, only 4 Posbindu implemented web-based surveillance system. Basically, all cadres accept to use web-based but PHC thought that it was inappropriate for cadres due to most cadres was elderly and unfamiliar with technology. Moreover, this intervention showed low utilization. Implementation of web-based was lack of resources (cadres, facilities laptop and internet, budget), lack of monitoring and evaluation. It requires leadership engagement from stakeholders, and content of web need to be user friendly. Conclusions: It is moderately feasible to implement web-based surveillance system at Posbindu level but it requires many improvements to address barrier factors such as capacity building (training), provide facilities, make offline form simpler, tight monitoring and evaluation

Kata Kunci : web-based, surveillance NCDs, Cadres/ CHW, Posbindu, feasibility, implementation research

  1. S2-2017-403366-abstract-eng.pdf  
  2. S2-2017-403366-abstract-ind.pdf  
  3. S2-2017-403366-bibliography.pdf  
  4. S2-2017-403366-tableofcontent.pdf  
  5. S2-2017-403366-title.pdf