THE ACCEPTABILITY OF SCREENING OF DIABETES MELLITUS AMONG TUBERCULOSIS PATIENTS AT DIRECTLY OBSERVED TREATMENT SHORTCOURSE (DOTS) CENTER IN SELECTED DISTRICTS OF NEPAL
Sabina Timilsina, dr. Yodi Mahendradhata.M.Sc. PhD ; dr. Ari Natalia Probandari.MPH. PhD
2018 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang: Tuberkulosis (TB) adalah masalah kesehatan masyarakat dan merupakan penyebab kematian keenam di Nepal. Diabetes Mellitus (DM) adalah faktor risiko TB yang sudah ada yang dikaitkan dengan hasil pengobatan yang buruk. Sebagian besar intervensi perawatan kesehatan bersifat kompleks dengan berbagai komponen yang berinteraksi dan disampaikan pada tingkat perawatan yang berbeda. Oleh karena itu, penerimaan menjadi perhatian utama dalam desain, evaluasi dan implementasi intervensi perawatan kesehatan. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai tingkat skrining DM di antara pasien TB di DOTS Center di kabupaten terpilih di Nepal dan untuk mengeksplorasi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi penerimaan. Metode: Ini adalah penelitian metode campuran berurutan yang dilakukan di Kathmandu dan distrik Kailali di Nepal dari September 2017 hingga Januari 2018. Pasien dengan semua bentuk TB yang berusia di atas 16 tahun diskrining untuk DM dengan menggunakan purposive sampling. Data kuantitatif dimasukkan dalam data Epi dan analisis deskriptif dilakukan menggunakan Stata IC versi 13.0 (64-bit). Diskusi kelompok fokus dengan pasien dan wawancara informan kunci dengan manajer program direkam, diterjemahkan, ditranskripsi dan dikode menggunakan perangkat lunak kode terbuka 4.02 diikuti dengan analisis tematik. Hasil: Sebanyak 212 pasien TB didekati untuk skrining DM. Tingkat penerimaan tes skrining ditemukan menjadi 97,64%. Prevalensi DM di antara pasien TB ditemukan menjadi 18,84%. Indeks Penilaian Konteks (CAI) yang menilai kesiapan fasilitas kesehatan ditemukan lebih baik dalam organisasi non-pemerintah yang menjalankan DOTS dibandingkan dengan pusat DOTS yang dijalankan pemerintah. Praktik berbasis bukti (EBP) dari penyedia layanan kesehatan dalam hal pengetahuan dan praktik adalah di bawah rata-rata sementara sikap itu ditemukan positif. Lima tema utama diidentifikasi: i) beban penyakit; ii) kapasitas institusional; iii) pelatihan dan pendidikan; iv) hubungan, koordinasi dan integrasi layanan dan v) keberlanjutan yang dapat mempengaruhi penerimaan. Kesimpulan: Layanan skrining DM sangat diterima oleh pasien, penyedia dan manajer program. Meningkatnya beban penyakit dan tidak tersedianya program penyakit tidak menular yang efektif, kesulitan dalam menghubungkan layanan yang mempengaruhi integrasi dan keberlanjutan merupakan tantangan potensial untuk pelaksanaan intervensi.
Background: Tuberculosis (TB) is a public health problem and is the sixth leading cause of death in Nepal. Diabetes Mellitus (DM) is an already established risk factor of TB which is associated with poor treatment outcome. Most of the health care interventions are complex in nature with various interacting components and delivered at different level of care. Therefore, acceptability becomes the major concern in design, evaluation and implementation of healthcare interventions. Objective: The aim of this study was to assess the yeild of screening of DM among TB patients at DOTS Center in selected districts of Nepal and to explore the key factors affecting acceptability. Methods: This was a sequential explanatory mixed method study conducted in Kathmandu and Kailali district of Nepal from September 2017 to January 2018. Patients with all forms of TB aged above 16 years were screened for DM using purposive sampling. Quantitative data were entered in Epi data and descriptive analysis was done using Stata IC version 13.0 (64-bit). Focus group discussions with patients and key-informant interviews with programme managers were audiotaped, translated, transcribed and coded using open code 4.02 software followed by thematic analysis. Results: A total of 212 TB patients were approached for DM screening. The acceptability rate of screening test was found to be 97.64%. The prevalence of DM among TB patients was found to be 18.84%. The Context Assessment Index (CAI) which assessed the readiness of health facility was found better in a non-government organization run DOTS compared to government run DOTS center.The Evidence-based practice (EBP) of health providers in terms of knowledge and practice was below average while the attitude was found positive. Five key themes were identified: i) disease burden; ii) institutional capacity; iii) training and education; iv) linkage, coordination and integration of services and v) sustainaibility that could affect acceptability. Conclusion: DM screening service was highly accepted by patients, providers and programme managers. Increasing disease burden and unavailability of effective non-communicable disease programmes, difficulties in linking service affecting integration and sustainability were the potential challenges for implementation of the intervention
Kata Kunci : DM and TB, DM screening for TB patients, Implementation Acceptability.