Edukasi Kesehatan Bagi Pasien Penderita Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Terapi Hemodialisis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
BERNIKE SOFIA ZEGA, dr.Yanri Wijayanti Subronto, PhD, SpPD-KPTI; Dr. Retna Siwi Padmawati, MA
2018 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang: Prevalensi penderita gagal ginjal kronis (GGK) di D.I. Yogyakarta 0,1% lebih tinggi dari rata-rata nasional. Sebanyak 717 pasien baru menjalani terapi hemodialisis di tahun 2015. Pasien GGK membutuhkan dukungan, salah satunya melalui upaya edukasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana bentuk edukasi kesehatan bagi pasien penderita gagal ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Metode: Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan rancangan fenomenologi. Informan penelitian adalah pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisis kurang dari 2 tahun dan dipilih dengan purposive sampling. Petugas kesehatan, keluarga pasien dan pasien lama berpartisipasi dalam triangulasi data. Jumlah informan yakni 9 orang informan utama dan 7 orang informan triangulasi. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data berupa pedoman wawancara dan pedoman observasi. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber dan metode serta peer debriefing. Hasil: Konten edukasi kesehatan pada masa hemodialisis (HD) sekitar 3 bulan mencakup cara kerja mesin HD, pemasangan dan perawatan av shunt, prosedur terapi HD, gizi dan diet, pengendalian stress yang melibatkan lingkungan terdekat, dan aspek spiritual. Pada masa HD sekitar 6 bulan, konten edukasi mencakup prosedur terapi, gizi dan diet, aktivitas fisik, tanggung jawab terhadap kesehatan pribadi, pengendalian stress, dan aspek spiritual. Sedangkan pada masa HD lebih dari 1 tahun mencakup gizi dan diet, tanggung jawab terhadap kesehatan pribadi, pengendalian stress, dan aspek spiritual. Narasumber edukasi kesehatan terdiri atas internal RS (dokter, perawat, konsultan gizi, dan mahasiswa kesehatan) dan eksternal RS (keluarga, teman/tetangga, komunitas ginjal, dan media). Cara penyampaian edukasi kesehatan melalui penyuluhan individu, penyuluhan kelompok besar, sharing dan diskusi, serta penyebaran media. Edukasi kesehatan yang diharapkan adalah penjelasan tentang dampak dari anjuran dan larangan, melibatkan pendamping pasien, adanya koordinasi antar unit di rumah sakit, dilakukan oleh petugas kesehatan yang ahli melalui penyuluhan individu, serta memanfaatkan waktu tunggu pasien selama menjalani terapi dan didukung adanya media leaflet. Kesimpulan: Terdapat variasi pada bentuk edukasi kesehatan yang diterima oleh pasien GGK yang menjalani terapi HD. Variasi dapat dilihat pada konten, narasumber, dan cara penyampaian edukasi kesehatan.
Background: Prevalence of patients with Chronic Kidney Disease (CKD) in D.I. Yogyakarta is 0.1% higher than the national average. Total of 717 new patients undergoes hemodialysis therapy in 2015. CKD patients need support, one of them is health education efforts. This research aims to see the form of health education for patients with chronic kidney disease in Dr Sardjito Referral Hospital of Yogyakarta. Method: This research is a qualitative research with phenomenology method. The respondents of this research were patients of CKD undergoing hemodialysis therapy less than 2 years and selected by purposive sampling. Health workers, family of patients, and CKD survivor participate in data triangulation. The number of respondents is 9 main respondents and 7 triangular respondents. Instruments used in data accumulation are interview guides and observation guidelines. The data is done by source triangulation, method, and peer debriefing. Result: Health education content during hemodialysis (HD) therapy about 3 months includes how the HD machine works, av shunt installation and maintenance, HD therapy procedures, nutrition and diet, stress management which involves the environment, and spiritual aspect. During approximately 6 months of therapy, educational content includes therapeutic procedures, nutrition and diet, physical activity, personal health responsibilities, stress management, and spiritual aspect. While during more than 1 year of HD therapy includes nutrition and diet, personal health responsibilities, stress management, and spiritual aspect. Health education respondents consist of the internal hospital (doctors and paramedics, medical students) and external hospital (family, friends/neighbours, community, and media). Health education delivered to respondents by individual education, large group education, sharing and discussion, and media distribution. The education is expected to explain the impact of recommendations and prohibitions, involving patients caregiver, coordination among units in the hospital, performed by paramedics through individual education, utilize patient waiting time during therapy, and supported by media leaflets. Conclusion: There are variations on the form of health education which received by CKD patients who undergoing HD therapy. The variations can be seen in the content, respondents, and education delivery method.
Kata Kunci : gagal ginjal kronis, hemodialisis, edukasi kesehatan