KALAH BONDO MENANG KONCO: Strategi Gerakan Komunitas Anak Muda Ketjilbergerak Yogyakarta
M NAJMUL AFAD, Dr. Setiadi, M.Si
2018 | Tesis | MAGISTER ANTROPOLOGIMasifnya pembangunan infrastruktur dan maupun manusia, ternyata telah direspon oleh komunitas anak muda yang menamakan dirinya sebagai komunitas ketjilbergerak. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan wawancara mendalam dan observasi partisipatoris sebagai teknik pengambilan datanya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui munculnya gerakan komunitas ketjilbergerak, strategi yang digunakannya ketjilbergerak membangun kekuatan dalam menghadapi dinamika masyarakat dan strategi ketjilbergerak dalam menghadapi dinamika gerakannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketjilbergerak sebagai komunitas dengan basis massanya anak muda bergerak turut serta dalam membangun masyarakat. Mereka bertemu untuk saling belajar dan turut andil dalam memecahkan permasalahan sosial yang ada di masyarakat. Anak muda ketjilbergerak membentuk komunitas dan menjadi gerakan, baik gerakan sosial yang turut merespon isu sosial dan juga gerakan kultural yang membangun jaringan. Dengan membangun solidaritas diantara mereka gerakan ini kian kuat. Ketjilbergerak membangun sekolah yang berbeda dengan lembaga formal, sebagai wujud komitmen mereka dalam kerja-kerja pendidikan. Sebagai sebuah komunitas, mereka bersiasat agar anak muda masuk dan turut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan ketjilbergerak. Ketjilbergerak berevolusi atau dalam retorika mereka ialah bereksperimen. Eksperimen ini membuat ketjilbergerak menggunakan metode atau strategi yang berbeda-beda dalam gerakannya semenjak ketjilbergerak lahir hingga saat ini. Gerakan ini berwujud gerakan kultural yang menggunakan pendidikan sebagai sarana mereproduksi nilai-nilai yang telah terbangun di masyarakat. Atas keputusan Greg, selaku pendiri sekaligus pemimpin komunitas, ketjilbergerak kini didiamkan untuk sesaat, agar anggota-anggotanya berefleksi. Tindakan ini dilakukan atas dasar moto duwiten, sikap yang tidak percaya antara beberapa anggota dengan pendiri ketjilbergerak, belum siapnya mental anggota, dan suka berkomentar tanpa adanya aksi nyata. Ketidakjelasan anggota, karakter anak muda yang cepat bosan, problem pribadi diantara cah kabe, berubahnya orientasi anak muda untuk tidak berkegiatan setelah bekerja, juga menjadi kendala berkembangnya gerakan ini. Disamping juga dalam ketjilbergerak masih mengandalkan dua pendiri sebagai tumpuan gerakan. Mereka juga berdinamika sesuai dengan kebutuhan anggota-anggotanya, dari komunitas menjadi gerakan, hingga dalam kaca mata pemimpin ketjilbergerak disebut sebagai produk ijtihad yang menjadi hasil kesungguhannya untuk disampaikan dan disebarkan kepada anak muda.
The intensity of both human and infrastructure development are high, has responded by the community of youth who claimed to be a community of ketjilbergerak. This research uses ethnographic methods with in-depth interviews and participatory observation as a data retrieval techniques. The purpose of this research is to know the appearance of community ketjilbergerak, ketjilbergerak the use of strategies that build strength in responding to the dynamics of society and ketjilbergerak strategies in responding to the dynamics of movement. The results of this research show that ketjilbergerak as a community on the basis of the mass of the moving of youth participate in community building. They meet for mutual learning and contribute in solving the social problems that exist in society. Youth form a community of ketjilbergerak and became a good movement, a social movement that also responds to issues of social and also cultural movement that built the network. By building solidarity among their movement is growing stronger. Ketjilbergerak school that is different from the formal institution, as a manifestation of their commitment in the work of education. As a community, they do some way for youth to enter and participate in ketjilbergerak activities. Ketjilbergerak evolved or in their rhetoric was "experimenting". This makes ketjilbergerak experiments using different methods or strategies in his movements since the ketjilbergerak was born. This movement takes the form of a cultural movement using education as a means of reproducing the values that have been awakened in the community. The top of the decisions, as founder Greg community leaders, ketjilbergerak now silenced for a moment, to reflect on its members. This action is done on the basis of mere money, the attitude among some who don't believe members with the founder of ketjilbergerak, has not been prepared mentally, and members like commented without any real action. The obscurity of a member, the character of the youth who quickly bored, personal problems between the members of the community, changing the orientation of youth for no activity after work, also become constraints development of this movement. Besides also in ketjilbergerak still rely on as the object of two of the founders of the movement. They are also the dynamics in accordance with the needs of its members, from the community into the movement, to the leaders in view of ketjilbergerak referred to as a product of ijtihad that becomes a result his sincerity to be delivered and distributed to youth.
Kata Kunci : Anak Muda, Ketjilbergerak, dan Gerakan Kultural