Dinamika Relasi Pertetanggaan Penyandang Disabilitas Fisik Penyintas Bencana (Gempa Bumi Yogyakarta 2006)
IRMARINDA SHEYNA CHANDRASAFIRA, Helly Prajitno Soetjipto, Drs., M.A.
2018 | Skripsi | S1 PSIKOLOGIPenyintas bencana gempa bumi Yogyakarta 2006 yang menjadi penyandang disabilitas fisik berpotensi mengalami marginalisasi dalam bentuk stigmatisasi, diskriminasi, dan/atau eksklusi sosial yang dapat dilakukan oleh tetangga dan masyarakat. Meski demikian, menurut hasil studi preliminari, relasi pertetanggaan penyandang disabilitas fisik penyintas bencana gempa justru mengalami perubahan yang progresif setelah bencana. Dari situ, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami dinamika relasi pertetanggaan penyandang disabilitas fisik penyintas bencana gempa bumi Yogyakarta 2006 dari sebelum bencana sampai setelah bencana. Strategi penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik Interpretative Phenomenological Analysis. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara pada tiga orang partisipan penyandang disabilitas penyintas bencana gempa dan tiga orang tetangga mereka. Hasil menunjukkan bahwa relasi pertetanggaan mengalami perkembangan yang bermuara pada kedekatan emosi. Kedekatan emosi dibangun oleh faktor: kedekatan wilayah, kesamaan, dan kualitas personal. Faktor-faktor tersebut menghasilkan komponen sosial seperti kebersamaan, dukungan, dan keterbukaan, serta komponen afektif yakni kecocokan dan kedekatan emosi. Di antara berbagai komponen tersebut, dukungan berupa pemberian bantuan merupakan komponen yang lebih dominan. Dukungan tersebut juga menggambarkan adanya kultur kolektivisme dalam lingkungan pertetanggaan. Dalam pada itu, perkembangan relasi juga dapat dipengaruhi oleh penerimaan diri penyandang disabilitas, karena penerimaan diri dapat mendorong penyandang disabilitas untuk membuka diri dalam berinteraksi dengan orang lain, termasuk tetangga.
The Yogyakarta earthquake survivors in 2006 who became physically disabled were potentially marginalized in the form of stigmatization, discrimination, or social exclusion by neighbors and the community around. However, according to preliminary study, survivors with physical disabilities experienced a progressive change in their relationships with neighbors. Therefore, this research aims to explore and understand the dynamics of neighborhood relationships of Yogyakarta earthquake survivors with physical disabilities from before and after disaster. The research strategy was conducted using qualitative approach with Interpretative Phenomenological Analysis technique. The data were collected through interviews with three survivors with physical disabilities and three of their neighbors. Results show that neighborhood relationships are developing to emotional closeness. Emotional closeness is built by factors: territorial proximity, similarity, and personal quality. These factors produce social components, that are: togetherness, support, and openness, as well as affective components, that are: compatibility and emotional closeness. Among those various components, support is a more dominant component. Support also illustrates the existence of collectivism culture in their neighborhood. Furthermore, the development of relationship can also be influenced by self-acceptance of survivors with physical disabilities, because self-acceptance can encourage them to open up in interacting with others, including neighbors.
Kata Kunci : relasi pertetanggaan, penyandang disabilitas, kedekatan emosi, dukungan, penerimaan diri