PENYEBAB DAN UPAYA PENANGGULANGAN OBAT DAN PERBEKALAN KESEHATAN KADALUWARSA (STUDI KASUS DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN PRINGSEWU)
HETI SUSILO ASIH, Prof. Dr. Sri Suryawati, Apt. / Dr. dr. Rustamaji, M.Kes
2018 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang. Jumlah akumulasi nilai obat dan perbekalan kesehatan kadaluwarsa di Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu pada tahun 2015 jika dinominalkan adalah sebesar Rp. 675.568.965,-(enam ratus tujuh puluh lima juta lima ratus enam puluh delapan ribu sembilan ratus enam puluh lima rupiah). Terjadinya obat dan perbekalan kesehatan kadaluwarsa ini mengindikasikan bahwa terdapat komponen manajemen dalam pengelolaan obat yang tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mencari bagian spesifik fungsi manajemen mana yang tidak berjalan dengan baik agar dapat diperoleh upaya pencegahan dan penanggulangan yang tepat . Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kerugian yang ditimbulkan oleh munculnya obat dan perbekalan kesehatan kadaluwarsa, mengidentifikasi faktor-faktor penyebab, serta rekomendasi pencegahan dan penanggulangannya. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain studi kasus. Jenis, jumlah, dan nominal obat dan perbekalan kesehatan kadaluwarsa diperoleh dari data obat dan perbekalan kesehatan kadaluwarsa pada tahun 2016 dan 2017. Faktor-faktor penyebab terjadinya kadaluwarsa diperoleh dari wawancara mendalam yang melibatkan informan kunci di dinas kesehatan dan puskesmas terpilih. Rekomendasi upaya pencegahan kadaluwarsa diperoleh melalui teknik Delphi dengan melibatkan stakeholder terkait. Hasil Penelitian. Kerugian finansial akibat obat dan perbekalan kesehatan kadaluwarsa pada tahun 2016 adalah sebesar Rp. 679.627.535,- dan pada tahun 2017 sebesar Rp. 102.229.860,-. Kerugian medis pada tahun 2016 adalah sebesar 730.205 kunjungan, sedangkan pada tahun 2017 adalah sebesar 77.752 kunjungan. Sampai dengan Juli 2018, terdapat 7 item obat yang berpotensi kadaluwarsa, dengan nilai Rp. 154.293.790,-. Penyebab timbulnya obat dan perbekalan kesehatan kadaluwarsa adalah perencanaan yang tidak akurat, pengadaan berlebih, duplikasi pengadaan, sistem informasi ketersediaan yang kurang baik, inspeksi dan kontrol persediaan yang lemah, struktur organisasi, dan belum adanya kebijakan yang jelas mengenai relokasi. Rekomendasi penanganan kadaluwarsa berupa guidelines pemusnahan dan pengadaan incinerator. Rekomendasi pencegahan kadaluwarsa meliputi perbaikan manajemen logistik, penambahan SDM pengelola obat, perbaikan sistem informasi dan komitmen puskesmas terhadap keakuratan RKO. Kesimpulan. Kerugian akibat obat dan perbekalan kesehatan kadaluwarsa tidak hanya signifikan secara finansial, tetapi juga kerugian medis yang besar. Perencanaan yang tidak akurat merupakan penyebab utama kadaluwarsa. Komitmen puskesmas terhadap keakuratan usulan RKO merupakan hal penting untuk mencegah kejadian kadaluwarsa pada masa yang akan datang.
Background. The accumulation of expired medicines and health supplies in Pringsewu District Health Office in 2015 was IDR 675,568,965,- (six hundred seventy five million five hundred sixty eight thousand nine hundred and sixty five rupiah). The occurrence of these expired medicines and health supplies indicates that there was an improper in medicine management. Therefore, this study is important to find the specific part of management function which does not work properly in order to get the right prevention and handling. Objective. This study aimed to analyze the financial and medical losses due to expiration, identify contributing factors, and formulate recommendation for preventive measures. Method. This was an analytical descriptive study using case study design. Items, amount, and the price of expired medicines were collected from reports of expired medicines and medicalsupplies in 2016 and 2017. Contributing factors of expiration was identified by means of in-depth inteview with key informants from District Health Office and selected primary healthcenters. Recommendation to prevent expiration was formulated by applying Delphi technique involving stakeholders. Result. Total value of expired medicines in 2016 was IDR 679.627.535,-, while in the year 2017 was IDR 102.229.860,-, equal to medical loss of 730,205 and 77,752 patient-visits in the respective years. Seven items valued IDR 154 millions were at risk of expired by July 2018. Contributing factors included inaccurate estimation, over and duplication of procurement at different levels, weakness in information of medicine availability, weak inspection, unclear delegation of work and responsibility, and unclear regulation on relocation of excessive stock. The recommendation include the establishment of guidelines of destruction, and the investment of incinerator. Preventive measures included to improve logistic management, the number of employees in medicine management, the information system, and commitment of healthcenters�staff in medicine planning. Conclusion. Expired medicines and medical supplies resulting in significant financial and surprisingly, huge medical loss. Inaccuracy in estimating medicine requirement was the main factor of expiration. Commitment of healthcenters on estimating medicine requirement is crucial to prevent future expiration. Keywords: expired medicines and health supplies, District Health of Pringsewu, handling efforts, prevention efforts.
Kata Kunci : obat dan perbekalan kesehatan kadaluwarsa, Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu, penanganan, pencegahan/expired medicines and health supplies, District Health of Pringsewu, handling efforts, prevention efforts.