Laporkan Masalah

Pesantren Creativepreneur di Cianjur dengan Pendekatan Disprogramming

NATASHA NURUL ANNISA, Dr. Ir. Dwita Hadi Rahmi, MA

2018 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Cianjur dikenal sebagai kota santri dengan 359 pesantren yang menjadi tempat menuntut ilmu agama Islam bagi ribuan santri. Jika ditilik dari jenisnya, hanya 26 dari 359 pesantren yang ada di Cianjur saat ini yang termasuk pesantren ashriyah/khalafiyah (modern) dan memberikan ijazah pendidikan secara formal. 143 lainnya adalah pesantren salafiyah yang mengajarkan pendidikan agama Islam secara tradisional, dan 190 sisanya adalah pesantren kombinasi yang mengajarkan pendidikan agama Islam yang tersistem dalam tingkatan-tingkatan kelas. Dalam kaitannya dengan keadaan ekonomi Cianjur saat ini, masih banyak lulusan pendidikan formal yang belum terserap lapangan pekerjaan yang ada. Jika dibandingkan dari tingkat pendidikan formal yang dimiliki, akan lebih sulit bagi lulusan pesantren yang tidak memiliki ijazah pendidikan formal untuk memasuki bursa persaingan untuk mendapatkan pekerjaan. Berangkat dari ulasan tersebut, pesantren creativepreneur dirasa relevan sebagai salah satu solusi bagi polemik ekonomi yang tengah dihadapi Kabupaten Cianjur. Sebagai sistem pendidikan yang telah membumi di Cianjur, pesantren dengan pengajaran agama Islam dan subkulturnya yang kuat dikombinasikan dengan pendidikan creativepreneur yang mengasah kreativitas dan kemampuan wirausaha para santri. Pesantren creativepreneur yang diposisikan di tengah-tengah masyarakat juga diharapkan dapat menyatu dan menebarkan manfaat bagi masyarakat sekitarnya. Karya ini membahas bagaimana kedua fungsi yang cukup berbeda, yakni pesantren dan pendidikan creativepreneur, dapat disatukan dalam sebuah kompleks bangunan dan dapat berfungsi dengan optimal, baik sebagai entitas tersendiri maupun bersama. Pendekatan yang digunakan dalam merancang adalah disprogramming, yakni upaya menjembatani perbedaan fungsi melalui asimilasi ciri khas masing-masing fungsi, yang akan tercermin pada zonasi dan tampilan visual bangunan.

Cianjur, a city in West Java, Indonesia, is well-known as The City of Santri (student of traditional Islamic school) with 359 pesantrens (Islamic school) housing thousands of students. Taking a look at pesantren types, only 26 of 359 pesantrens follow, whether partly or in whole, modern/formal education system (ashriyah/khalafiyah) with legitimate education certificate by the end of school term. Another 143 pesantrens belong to traditional Islamic education systems (salafiyah), and the other 190 use combined system in which traditional courses are grouped into classes in different levels. Taking Cianjur's economic condition into consideration, unemployment is one of major problems faced even by people with formal education background. If educational background is to be regarded as the basic employment criteria, it will be much more difficult for santris without formal certificate to enter the job market. Pesantren creativepreneur may be one of the solutions to this problem. As an education system rooting deep to the region's history, pesantren with Islamic teaching and subculture combined with creativepreneur education will add important skills of creativity and entrepreneurship, enabling santris to start their own businesses. The pesantren, situated in the center of the township, will also spread the entrepreneurship spirit to the surrounding community. This thesis attempts to formulate how two different programs "pesantren and creativepreneur education" can be blend into a building complex and perform well, both as their own entities and as a whole. Disprogramming design approach is used to identify functions, differentiate and mix them, into zoning strategies and visual identity of the building complex.

Kata Kunci : desain, pesantren, pendidikan Islam, creativepreneur, makanan, Cianjur

  1. S1-2018-348783-abstract.pdf  
  2. S1-2018-348783-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-348783-tableofcontents.pdf  
  4. S1-2018-348783-title.pdf