PRODUKSI RUANG MEROMBAK RISIKO BENCANA
FADLI ADINATA, Dr. Suharko, M.Si.
2018 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIPenelitian ini membahas tentang kondisi masyarakat penyintas pasca erupsi Gunung Merapi 2010. Fokus dari penelitian ini adalah dampak tidak langsung bencana yang menimpa warga Lereng Merapi, khususnya pada pemaknaan masyarakat terhadap ruang baru. Ruang baru yang dimaksud di sini adalah Hunian Tetap Karangkendal yang merupakan lokasi relokasi warga Dusun Pelemsari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh produksi ruang sosial tersebut terhadap perubahan risiko yang dihadapi masyarakat Jawa di daerah bahaya lereng Gunung Merapi. Produksi ruang yang terjadi secara fisik dan abstrak itu dipengaruhi intervensi dari pihak luar dengan cita rasa modernitas. Padahal berkaitan dengan ide dan pengalaman terhadap bencana, masyarakat mendapatkan ide melalui konstruksi pengetahuan berbasis tradisi lokal. Sedangkan tidak demikian dengan pihak luar yang merupakan perwujudan modernitas. Pemahaman mengenai dampak yang berkaitan dengan pemaknaan masyarakat terhadap ruang baru relokasi ini peneliti anggap perlu dalam menunjang usaha-usaha pengurangan risiko bencana-bencana secara bekesinambungan. Untuk tujuan itu, penelitian ini menggunakan metode analisa fenomelnologi yang berusaha memahami realitas sebagaimana adanya dengan memposisikan peran subjek sebagai orientasi. Penelitian ini berfokus pada deskripsi pengalaman dari fenomena yang dialami subjek penelitian dan kemudian mengkristalkan pengalaman individu dari suatu fenomena menjadi deskripsi dengan makna yang mampu dipahami oleh banyak pihak. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada awalnya produksi ruang dilakukan sebagai tindakan guna memenuhi kebutuhan hidup. Namun berdasarkan temuan lapangan, Kondisi-kondisi rentan yang masyarakat Huntap Karangkendal alami merupakan risiko yang tidak pernah mereka hadapi sebelumnya dan untuk menyiasati berbagai kerentanan tersebut mereka tidak lagi bisa mengandalkan sistem pengetahuan berbasis tradisi mereka sebagai masyarakat Jawa. Huntap Karangkendal sebagai ruang baru bagi kehidupan mereka ternyata tidak menyediakan ruang sosial yang mendukung tradisi itu. Ironisnya ruang baru justru berkontribusi pada munculnya distraksi berupa konsekuensi-konsekuensi moderitas. Konsekuensi-konsekuensi ini mengkristal menjadi kerentanan-kerentanan baru yang kemudian seolah mengikis solidaritas warga. Kerentanan-kerentanan baru yang meliputi semua golongan sosial yang menghuni Huntap Karangkendal ini nantinya akan bisa menjadi bom waktu seiring dengan risiko bencana yang mungkin akan terjadi lagi mengingat Gunung Merapi statusnya masih aktif. Temuan penelitian ini semestinya disadari dan benar-benar dipersiapkan oleh pemerintah.
This study discusses the condition of community survivors post-eruption of Merapi 2010. The focus of this research is the indirect impact of disaster that affects the slopes of Merapi, especially on the essence of society to the new space. The new space in the intention is Huntap Karangkendal which is the location of relocation of Dusun Pelemsari villagers . This study aims to determine the effect of social space production on the risk changes faced by the Javanese community in the danger area of Mount Merapi. The production of space that occurs physically and abstract is influenced by external intervention with the taste of modernity. Whereas in relation to ideas and experiences of disasters, villagers get ideas through the construction of knowledge based on local traditions. while not so with the outsider which is the embodiment of modernity. Understanding of the impacts associated with the meaning of society to this new space relocation, researchers deem necessary in supporting the efforts of disaster risk reduction sustainably. For that purpose, this study uses a method of phenomenological analysis that seeks to understand reality as it is by positioning the role of the subject as orientation. This study focuses on the description of experience of the phenomena experienced by the subject of research, and then crystallizes the individual experience of a phenomenon into a description with a meaning that is universally understood. The results of this study indicate that initially, the production of space is done as an action to meet the needs of life. Unfortunately, on the basis of field findings, the vulnerable conditions that the Huntap Karangkendal inhabitant faces are a risk they have never faced before. And to get around these vulnerabilities, they can no longer rely on their traditional knowledge systems based as Javanese society. Huntap Karangkendal as a new space for their life did not also provide a social space that supports the tradition. Ironically, the new space actually contributes to the emergence of distractions in the form of the consequences of modernity. These consequences crystallized into new vulnerabilities which then seemed to erode the solidarity of others. New vulnerabilities covering all social groups living in Huntap Karangkendal will eventually become a time bomb, along with the risk of disaster that may happen again, considering Mount Merapi status is still active. The findings of this study should be realized and fully prepared by the government.
Kata Kunci : Kata kunci: produksi ruang, Huntap Karangkendal, risiko bencana, kerentanan.