Laporkan Masalah

Inklusivitas Lembaga Filantropi Agama (Studi tentang Inklusivitas Filantropi Berbasis Agama di Yayasan Karitas Indonesia Keuskupan Agung Semarang)

BRILLANT ELPRANATA, Drs. Suparjan, M.Si

2018 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

Kekhawatiran kristenisasi sering kali masih menjadi masalah bagi terwujudnya toleransi di Indonesia. Kekhawatiran yang berlebihan dan tanpa alasan pada akhirnya berdampak pada usaha-usaha filantropi khususnya bagi mereka filantropi agama yang membawa bendera agama minoritas. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna nilai inklusivitas yang dianut oleh KARINAKAS sebagai salah satu yayasan filantropi agama minoritas yang aktif. Dengan anggapan bahwa filantropi adalah sebuah alat untuk memanipulasi masyarakat maka hasil dari penelitian ini menjadi penting untuk memberi jawaban kepada masyarakat mengenai hubungan inklusivitas dan kekhawatiran kristenisasi. Penelitian ini dianalisis menggunakan perspektif teori arena, modal sosial, dan habitus. Arena digunakan sebagai landasan dalam memahami bagaimana dan mengapa sebenarnya isu kristenisasi menjadi isu yang penting dan masih menjadi kekhawatiran bagi masyarakat saat ini. Modal sosial digunakan untuk memahami bagaimana KARINAKAS menghimpun modal-modal yang digunakan didalamnya sebagai sebuah yayasan. Dalam perspektif habitus, analisis difokuskan untuk melihat pemaknaan inklusivitas KARINAKAS bagi pengurus, staff, dan penerima manfaat. Metode yang digunakan didalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif mampu memberikan gambaran fakta secara jelas dan terperinci. Teknik pengumpulan data yang digunakan didalam penelitian adalah observasi, interview mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka. Semua teknik tersebut akan saling melengkapi dan diuji keabsahannya melalui proses triangulasi sumber, metode, teori, dan peneliti. Kesimpulan yang didapat adalah inklusivitas KARINAKAS merupakan sebuah nilai dasar yang dianut oleh lembaga karitas di gereja Katolik. Nilai ini melekat dengan sangat kuat walaupun secara bersamaan KARINAKAS juga menganut nilai agama yang kuat melalui mandat dan jaringan gereja yang membentuknya. Inklusivitas ini juga muncul dan didukung oleh bagaimana seluruh stakeholder KARINAKAS sendiri meresapi nilai-nilai toleransi secara pribadi. Timbal balik antara inklusivitas KARINAKAS dan stakeholder-nya menjadi siklis yang selalu berputar dalam menguatkan kepercayaan dalam inklusivitas mereka. Siklis ini pada akhirnya secara natural menghilangkan kecurigaan dan kekhawatiran kristenisasi bagi seluruh stakeholder dalam KARINAKAS.

The worries of christianization have became one problem that hamper the realization of toleration in Indonesia. At the end, the worries have prejudice the philanthrophy especially philanthropy with a basic of minority religion. This research intend to understand the significance of KARINAKAS inclusivity as the one active minor religion philanthropy. With the stereotype philanthropy as the tool to manipulate society, this research have a very important role to give a revelation about inclusivity and the worries of Christianization. This research was analyzed with the arena, social capital, and habitus theories perspective. Arena used to understand how and why christianization became a very sensitive issue in Indonesia until today. Social capital used to explain how KARINAKAS accumulate and interpret the capital. With habitus the analysis is focused on how every stakeholders in KARINAKAS interpret inclusivity. This research use qualitative method with qualitative descriptive approach. Qualitative descriptive is very suit to explain facts clearly. To gather all of the informations researcher use techniques like observation, indepth interview, documentation, and secondary data source. All of the techniques will also uses to triangulate the data along with method, theory, dan researcher triangulation to test the validity. The conclusion from this research shows inclusivity is a very fundamental core value in karitas institution. This value is rooted very deep along with how KARINAKAS holded the mandate from church to expose the role of church to society. This value also amplify with all of the stakeholders itself with their faith in inclusivity. This mutual connection have created a reciprocal interdependence cycle to strengthen the trust and inclusivity between stakholders. At the end this cycle naturally eliminated the mistrust and worries of christianization between all of stakeholders in KARINAKAS.

Kata Kunci : philanthropy, religion, arena, social capital, habitus, phenomenology, inclusivity, christianization

  1. S1-2018-364852-abstract.pdf  
  2. S1-2018-364852-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-364852-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-364852-title.pdf