KARAKTERISTIK BIOFISIK AGROFORESTRI SALAK DI DESA PURWOBINANGUN KECAMATAN PAKEM SLEMAN YOGYAKARTA
HELMY FAHRIZAL, Dr. Budiadi , S.Hut., M.Agr.Sc.;Dr. Ir. Dwi Tyaningsih Adriyanti, M.P.
2018 | Skripsi | S1 KEHUTANANAgroforestri yang banyak dikembangkan di wilayah Sleman yaitu agroforestri salak. Karekteristik lahan bagi tanaman salak merupakan unsur penting yang harus diperhatikan agar dapat menjaga kelangsungan produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biofisik dan pola tanam agroforestri salak di Desa Purwobinangun Kecamatan Pakem Sleman Yogyakarta. Penelitian dilakukan dengan metode purposive sampling, pada 3 dusun yang mewakili ketinggian tempat yang berbeda. Pada masing-masing dusun diletakkan petak ukur 20m x 20m sebanyak 5 tempat. Parameter yang diamati adalah pola tanam agroforestri dan karakter biofisiknya meliputi suhu, curah hujan, intensitas cahaya, ketinggian tempat dan kelimpahan jenis tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum lahan agroforestri di Desa Purwobinangun memiliki karakteristik biofisik yang sesuai untuk tanaman salak. Namun demikian, karakteristik biofisik yang optimal ditemukan di dusun Sembung dengan kriteria : ketinggian tempat 300-400 mdpl; suhu 28,07 kurang lebih 0,58 derajatC; curah hujan rata- rata:355,33 kurang lebih 0,23 mm/bulan ; Intensitas cahaya relatif: 75,77 kurang lebih 0,85% dan nilai indeks diversitas jenis (H) sebesar 0,283 (< 1) sehingga menunjukkan keanekaragaman yang masuk dalam kategori rendah. Pola tanam tanaman salak yang dikembangkan desa Purwobinangun adalah Random Mixture. Pohon dimanfaatkan untuk kayubakar atau pakan ternak.
Agroforestry which is widely developed in the area of Sleman is salak agroforestry. Therefore, the characteristics of land for barking plants are an important element that must be considered in order to maintain the continuity of its production. This study aims to determine the biophysical characteristics and the agroforestry planting patterns. The research was done by purposive sampling method at 3 hamlets due to different altitudinal. Observations were done three different hamlets by placing 5 plots of 20 m x 20 m on every hamlet. Parameters observed were agroforestry planting pattern and its biophysical characteristic including temperature, rainfall, light intensity, altitude and the abundance of species. The result showed that in overall the agroforestry land in the Purwobinangun Village has suitable biophysical characteristic for salak plantation. However, optimum biophysical characteristic was found in Sembung hamlet with the criteria of: optimal height 300-400 mdpl; temperature 28.07plus minus 0.58 degree C; rainfall 355.33 plus minus0.23 mm; light intensity: 75.77 plus minus0.85% and diversity index (H') 0.2 (<1) which is low diversity. Salak planting pattern that is developed is random mixture, trees used as firewood or animal feed.
Kata Kunci : agroforestry, biophysical, salak;agroforestri, biofisik, tanaman salak