EVALUASI PENERAPAN KONSEP INTEGRASI DATA MENGGUNAKAN DISTRICT HEALTH INFORMATION SOFTWARE (DHIS2) DI KEMENTERIAN KESEHATAN
BUDI PRIHANTORO, Drs. Agus Harjoko, M.Sc, Ph.D
2018 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 168, untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi kesehatan. Informasi yang berkualitas diperoleh dari pengumpulan data yang baik sehingga menjadi acuan dalam proses manajemen, perencanaan dan pengambilan keputusan. Namun hingga saat ini, SIK yang ada belum mampu menyediakan data dan informasi yang cepat, akurat dan tepat waktu dikarenakan masih terdapat permasalahan dalam penyelenggaraan, yaitu fragmentasi sistem informasi serta lemahnya manajemen data dan sistem pendukung pengambilan keputusan. Berdasarkan hal tersebut, sejak tahun 2106 Kementerian Kesehatan mengadopsi aplikasi DHIS2 sebagai data repository yang bertujuan mengintegrasikan data, menguatkan proses manajemen data dan bahan pengambilan keputusan di Kementerian Kesehatan. Tujuan: Mendeskripsikan input, proses dan output dalam pelaksanaan integrasi data serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan integrasi data menggunakan DHIS2 di Kementerian Kesehatan sesuai dengan kerangka kerja integrated data repository dari WHO. Metode Penelitian: Deskriptif kualitatif dengan rancangan studi kasus. Data dikumpulkan dengan cara observasi, telaah dokumen dan wawancara mendalam dengan pejabat struktural, staf teknis dan konsultan di Pusdatin Kementerian Kesehatan. Hasil Penelitian: Implementasi DHIS2 di Kementerian Kesehatan menggunakan infrastruktur server terpusat yang mendukung kemampuan cloud system. Aplikasi DHIS2 digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan data agregate dari berbagai sumber dan menyajikannya dalam tampilan dashboard. Kebijakan tertulis tentang integrasi data belum ada, saat ini integrasi disusun hanya berdasarkan kesepakatan antar unit. Regulasi tentang standar pelaksanaan integrasi belum ada, kode puskesmas digunakan sebagai standar integrasi data yang bersumber dari puskesmas. Sumber data yang telah diintegrasikan bersumber dari sumber data rutin yaitu aplikasi SIHA, SITT, Keluarga Sehat dan Komdat sedangkan sumber data rutin lainnya dan sumber data non rutin belum diintegrasikan ke DHIS2. Proses pencocokan data antara dashboard DHIS2 dengan sumber data pada aplikasi komdat diperoleh hasil yang sama pada data bulanan dan triwulan sedangkan pada data tahunan masih ditemukan perbedaan. Kesimpulan: Integrasi data menggunakan DHIS2 belum mampu menghasilkan data dan informasi berkualitas yang berasal dari berbagai sumber data sehingga saat ini belum dapat digunakan untuk memperkuat proses manajemen data dan bahan pembuatan kebijakan. Perlu dilakukan pembenahan, terutama pada komponen kebijakan, standarisasi, sumber daya manusia, manajemen data dan dashboard DHIS2.
Background: Based on Law Number 36 the Year 2009 on Health Article 168, to carry out effective and efforts requires health information. Quality information is obtained from good data collection so that it becomes a reference in the process of management, planning and decision making. But until now, HIS has not been able to provide data and information fast, accurate and timely because there are still problems in the implementation, namely fragmentation of information systems and weak data management and decision support system. Therefore, since 2106 the Ministry of Health has adopted DHIS2 application as a data repository that aims to integrate data, strengthen the process of data management and be decision-making materials in the Ministry of Health. Objective: Describing inputs, processes, and outputs in the implementation of data integration as well as monitoring and evaluation of the implementation of data integration using DHIS2 in the Ministry of Health in accordance with the integrated data repository framework of WHO. Methods: Descriptive qualitative with case study design. Data were collected by observation, document review and in-depth interviews with structural officials, technical staff, and consultants in the Pusdatin Ministry of Health. Result: Implementation of DHIS2 in the Ministry of Health uses a centralized server infrastructure that supports the capabilities of the cloud system. The DHIS2 application is used as a tool to collect aggregate data from multiple sources and present it in a dashboard view. Written policy on data integration does not yet exist when integration is structured only by agreement between units. Regulation on the standard of integration implementation does not yet exist. The standard of health center code is used as the standard of integration of data from the health center. The integrated data sources are from routine data reporting ie SIHA, SITT, Keluarga Sehat and Komdat applications, while other routine and non-routine data sources have not been integrated into DHIS2 yet. The process of comparing data between DHIS2 dashboard with the data source in komdat application shows the same result on monthly and quarterly data, while in annual data, the difference is still found. Conclusion: Data integration using DHIS2 has not been able to generate the quality data and information derived from multiple data sources, so that it can not currently be used to strengthen data management processes and policy-making materials. Improvement is still needed, especially on policy components, standardization, human resources, data management and DHIS2 dashboard.
Kata Kunci : DHIS2, Evaluasi, Integrasi Data, SIK, Data Integration, DHIS2, Evaluation, HIS