Laporkan Masalah

PRAKTEK KONSERVASI TANAH DAN AIR DI HUTAN PANGKUAN DESA NGANCAR, KECAMATAN PITU, KABUPATEN NGAWI

SARASWATI WIDYASARI, Kristiani Fajar Wianti, S.Hut., M.Si

2018 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) adalah sebuah program kolaborasi antara Perum Perhutani dengan masyarakat desa hutan dalam pengelolaan hutan lestari yang mengutamakan keseimbangan aspek ekonomi, ekologi, dan sosial. Peran masyarakat dalam mengelola hutan merupakan salah satu bentuk dari aspek sosial. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana masyarakat menjaga hutan melalui kegiatan konservasi tanah dan air yang telah dilakukan masyarakat di hutan pangkuan desa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui praktek konservasi tanah dan air yang dilakukan masyarakat di Hutan Pangkuan Desa Ngancar. Penelitian dilakukan di Hutan Pangkuan Desa Ngancar dengan ruang lingkup meliputi Dusun Ngasinan dan Dusun Kaligede pada tanggal 28 Juli - 12 Agustus serta 5 November - 7 November 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Quota Sampling. Populasi yang digunakan adalah masyarakat Dusun Ngasinan dan Dusun Kaligede. Sampel penelitian yang didapat adalah 155 jiwa. Hasil penelitian kemudian dianalisis dengan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat menyatakan pentingnya menjaga hutan agar selalu lestari. Manfaat dari kegiatan konservasi adalah agar hutan selalu lestari serta terhindar dari bencana (erosi, longsor, dan banjir). Sumber informasi masyarakat mengenai kegiatan konservasi tanah dan air berasal dari pengalaman lapangan serta ilmu yang diturunkan oleh orang tua. Praktek konservasi tanah dan air yang dilakukan oleh masyarakat adalah pembuatan guludan, saluran air, pertanaman lorong, pengolahan tanah menurut kontur, pemupukan, penggunaan herbisida dan pestisida,serta pembajakan tanah. Hambatan terbesar masyarakat dalam praktek konservasi tanah dan air adalah kurangnya pengetahuan dan teknologi tentang konservasi tanah dan air sehingga perlu adanya sosialisasi peningkatan kapasitas masyarakat dalam kegiatan konservasi tanah dan air.

Community-based forerst management is a collaborative program between Perum Perhutani and forest village communities in sustainable forest management that prioritizes the balance of economic, ecological and social aspects. Community role in manage the forests is one form of a social aspect. This can be seen from how the public manages the forest through the soil and water conservation society has been done in HPD Ngancar. This research aims to determine the practice of soil and water conservation activities undertaken by the community in HPD Ngancar. The research has been done in Ngancar village forest with the scope is Ngasinan village and Kaligede village on 28th July - 12th August and 5th November - 7th November 2017. The research method that was used is survey method with sampling technique using Quota Sampling. The population in this research is Ngasinan Village and Kaligede Village community. The sample of the research was 155 people respondents obtained. The results of the study then analyzed by descriptive quantitative. The research results show that the community learned about the importance of keeping the forest for sustainability. The benefits of conservation activities are to keep the forest always sustainable and protected from disasters (erosion, landslides, and floods). A source of information the community about conservation activities came from field experience and the information which have been derived by parents. Conservation activities which implemented by the community include the manufacture of bunds, waterways, alley cultivation, soil contour processing, fertilization, herbicide and pesticide use, and ploughland. The community's biggest obstacle to soil and water conservation practices is the lack of knowledge and technology on soil and water conservation so there is a need for the socialization of community capacity building in soil and water conservation activities.

Kata Kunci : Hutan Pangkuan Desa, Implementasi, Konservasi, Masyarakat Desa Hutan, PHBM ; Forest village, Implementation, Conservation, Forest Village Community, PHBM

  1. S1-2018-351893-Abstract.pdf  
  2. S1-2018-351893-Bibliography.pdf  
  3. S1-2018-351893-Tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-351893-Title.pdf