EVALUASI DAN ARAHAN PENGGUNAAN LAHAN BERDASARKAN ANALISIS KEMAMPUAN DAN INDEKS PRODUKTIVITAS LAHAN DI KARANGSAMBUNG, KEBUMEN
FARHAN ANSHARI W, Ir. Suci Handayani, M. P.; Ir. Rosich Attaqy, M.Sc.
2018 | Skripsi | S1 ILMU TANAHPenelitian ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi penggunaan lahan berdasarkan kaidah konservasi yang mengacu pada tingkat bahaya erosi, evaluasi kemampuan lahan, produktivitas tanah aktual, serta koefisien perbaikan.Penentuan rekomendasi penggunaan lahan pada penelitian ini dilakukan dengan cara menjumlah skor dari tiap parameter yang memiliki bobot yang berbeda. Kelas kemampuan lahan memiliki bobot terbesar yaitu 40%, tingkat bahaya erosi memiliki bobot 25%, kelas produktivitas lahan memiliki bobot 20%, dan koefisien perbaikan memiliki bobot 15%.Lahan yang direkomendasikan sebagai hutan lindung memiliki skor total dibawah 45, hutan produksi memiliki skor total dengan kisaran 45-70, kawasan budidaya memiliki skor total diatas 70. Untuk kawasan budidaya dapat dibagi menjadi 3 tipe penggunaan lahan. Jika skor total lebih dari 70 dan memiliki tingkat kelerengan kurang dari 8% maka diarahkan untuk kawasan budidaya tanaman semusim lahan basah, jika tingkat kelerengan 8%-15% maka diarahkan untuk kawasan budidaya tanaman semusim lahan kering,jika tingkat kelerengan 15%-30% maka diarahkan untuk kawasan budidaya tanaman tahunan.Hasil penelitian menunjukan bahwa pada Kecamatan Karangsambung tingkat bahaya erosi yang mendominasi adalah harkat sangat berat. Kelas kemampuan lahan pada Kecamatan Karangsambung memiliki kisaran antara kelas IV hingga kelas VII dengan berbagai faktor pembatas seperti kemiringan lereng, tingkat erosi, dan batuan permukaan.Indeks produkktifitas aktual lahan pada kecamatan Karangsambung berada pada range kelas II - V, sedangkan indeks produktivitas potensial berada pada range kelas I - V dengan kisaran nilai koefisien perbaikan sebesar 1,1 - 2.Dari lima tipe penggunaan lahan, hutan lindung memiliki areal terluas dengan luas 4017,64 hektar atau 64,43% dari luas wilayah total, kemudian hutan produksi dengan luas 2000,91 hektar atau 32,09% dari luas wilayah total, kemudian budidaya tanaman tahunan dengan luas 201,50 hektar atau 3,23% dari luas wilayah total, dan budidaya tanaman semusim lahan kering dengan luas 15,79 hektar atau 0,25% dari luas wilayah total, sedangkan penggunaan lahan untuk budidaya tanaman semusim lahan basah tidak direkomendasikan pada daerah penelitian.
This study aims to provide land use recommendations based on conservation rules that refer to erosion hazard, land capability evaluation, actual land productivity, and improvement coefficient. The determination of land use recommendation in this research is done by summing the score of each parameter having different weight. The land capacity class has 40% weight, the erosion hazard has 25% weight, land productivity class has 20% weight, and the improvement coefficient has 15% weight. The recommended land for protected forest has total score below 45, the production forest has a total score of 45-70, the cultivation area has a total score above 70. For the cultivated area can be divided into 3 types of land use. If the total score is more than 70 and has a slope rate of less than 8% then it is directed to the cultivation area of wetland crops, if the slope rate of 8% -15% is directed to dry season cultivation area, if slope 15% -30% then directed to annual cultivation area. The research results show that in Karangsambung District the level of erosion hazard that dominates is very heavy. Class of land capability in Karangsambung District has a range between class IV to class VII with various limiting factors such as slope, erosion, and surface rock. The actual productivity class of the land in Karangsambung sub-district is in the class II-V range, whereas the potential productivity class is in the class I-V range with the improvement coefficient value ranging from 1.1 to 2. Of the five types of land use, protected forest has the largest area area of 4017.64 hectares or 64.43% of total area, then production forest with an area of 2000.91 hectares or 32.09% of total area, then annual cultivation with an area of 201.50 hectares or 3.23% of total cultivation area, and cultivation of dry season crops with an area of 15.79 hectares or 0.25% of the total area, while land use for cultivation of wetland crops is not recommended in the study area.
Kata Kunci : erosi, indeks produktivitas lahan, kelas kemampuan lahan, rekomendasi penggunaan lahan, konservasi