Laporkan Masalah

Community Development dalam Pengembangan Destinasi Wisata Alam Kali Biru

MUHAMMAD ADI IMAM, I Made Krisnajaya, SIP, M.Pol., Admin.

2018 | Skripsi | S1 ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)

Perkembangan destinasi wisata di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta secara spesifik kabupaten Kulon Progo semakin menarik. Berdasarkan SK Menhutbun Nomor 171/Kpts-II/2000 tentang Penunjukan Hutan di wilayah Provinsi DIY, kawasan hutan Kali Biru yang sebelumnya merupakan hutan produksi yang diubah statusnya menjadi kawasan hutan lindung dengan luas 29 Ha. Dengan bermodalkan dana biaya Community Development, pada tahun 2009 kelompok tani mulai membangun kawasan hutan Kali Biru menjadi sebuah destinasi wisata. Pada puncaknya, wisata alam Kalibiru mencapai potensial terbesarnya pada pertengahan tahun 2014 yang berhasil menarik perhatian pelancong yang berwisata ke Yogyakarta. Penelitian ini mencoba untuk melihat bagaimana Community Development dijalankan dalam melakukan pengembangan pariwisata yang dilakukan oleh Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan Mandiri Kali Biru. Metode kualitatif dipilih dengan pendekatan studi kasus di Dusun Kali Biru, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo. Menggunakan cara wawancara dan observasi mendalam data kualitatif dikumpulkan dan diolah untuk menyajikan sebuah hasil dari penelitian ini. Wawancara dan observasi mendalam ini dilakukan kepada: (1) Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, (2) Balai KPH Provinsi DIY, (3) Kepala Dusun Kalibiru, (4) Ketua Kelompok Tani HKM Mandiri Kalibiru, (5) Anggota Kelompok Tani HKM Mandiri Kalibiru, (6) Pengelola Destinasi Wisata Alam Kalibiru, (7) Masyaraka Dusun non-anggota Kelompok Tani HKM Mandiri Kalibiru. Pelaksanaan pengembangan pariwisata yang dijalankan dengan cara Community Development secara baik dijalankan oleh Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan Mandiri Kali Biru. Secara finansial, Destinasi Wisata Alam Kali Biru sudah dapat melakukan pembangunan secara swadaya. Hal ini pun berlaku kepada kelompok tani karena pendapatan destinasi wisata juga masuk ke kas kelompok tani. Hambatan yang ditemui seperti sulitnya merubah mindset masyarakat untuk memulai pengembangan pariwisata sebagai mata pencaharian bagi petani hutan dan gap persepsi antar berbagai aktor terkait dengan pengaturan tiket masuk destinasi atau retribusi yang hingga saat ini belum diselesaikan.

Tourism destination development on Special Region of Yogyakarta, specifically Kulon Progo District, becomes more interesting. Based on SK Menhutbun Number 171 / Kpts-II/2000 on Forest Appointment in Special Region of Yogyakarta, Kali Biru forest area, which previously constituted as productive forest, changed its status into protected 29 Hectare forest area. Using the Community Development budget, in 2009 farmers community began to build the forest area of Kali Biru into a tourist destination. Kali Biru tourism destination reached its greatest potential in mid-2014 which attracts tourists who travel to Yogyakarta. This research tries to see how Community Development managed by Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan Mandiri Kali Biru in conducting tourism development. Qualitative method was chosen with case-study approach at Kali Biru Sub-village, Hargowilis Village, Kokap Sub-district, Kulon Progo District. Using in-depth interviews and obsevations, the qualitative data collected and processed to bring the result of this research. In-depth interviews and obsevations performed to: (1) Tourism Department of Kulon Progo, (2) KPH office of Special Region of Yogyakarta, (3) Chief of Kali Biru Sub-village, (4) Head of Mandiri Kalibiru community-forest group, (5) Members of Mandiri Kalibiru community-forest group, (6) Officers of Kali Biru Tourism Destination, (7) Non-member of Mandiri Kalibiru community-forest group. Implementation of Community development in tourism development is well-applied by Mandiri Kalibiru community forest group. Financially, the Kali Biru Natural Tourism Destination has been able to developing tourism independently. This also applies to farmer groups because the income of tourism destination also goes to the farmers group's finance. The difficulty of changing the mindset of the community to start tourism as a livelihood for forest farmers and perceptions gap among various actors associated with the arrangement of entrance destination�s ticket or retribution are the problem that have not been resolved.

Kata Kunci : Pengembangan Pariwisata, Community Development, Destinasi Wisata

  1. S1-2018-335797-Abstract.pdf  
  2. S1-2018-335797-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-335797-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-335797-title.pdf