Merebaknya Demam Berdarah Dengue di Kampus Biru
SHANTICA ARUM RAMADHANI, Dr. Atik Triratnawati, M.A.
2018 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYADemam Berdarah Dengue (DBD) dikenal sebagai penyakit berbasis lingkungan. Di Indonesia, DBD diketahui oleh masyarakat sebagai penyakit musim hujan dengan kejadian yang ada tiap tahun. Beberapa wilayah di Indonesia ditetapkan sebagai daerah endemis oleh penyakit yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti dengan menginfeksikan virus dengue tersebut. Pada tahun 2017, terjadi kejadian DBD yang merebak di wilayah Universitas Gadjah Mada (UGM). UGM yang dikenal dengan kampus biru merupakan bagian wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan salah satu wilayah endemis DBD di Indonesia. Dalam penelitian ini dibahas mengenai sebab merebaknya DBD di kampus dengan tujuan mengetahui pengalaman, budaya lembaga, dan kerugian penderita DBD di kampus. Dengan manfaat yang dapat diambil untuk meningkatkan mawas diri bagi civitas akademika UGM terhadap penyakit yang disebabkan oleh interaksi Antara manusia dan lingkungan. Observasi partisipatoris dan wawancara secara mendalam ditunjang dengan studi literatur digunakan sebagai metode pengumpulan data dalam tulisan ini. Sedangkan penentuan informan dilakukan dengan menanyakan ke kepegawaian Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM dan ke kantor departemen, serta program studi di FIB UGM. Dari data yang dihimpun, terdapat 18 orang civitas akademika FIB UGM pada tahun 2017 yang menjadi penderita DBD dan dipilih 5 orang sebagai informan yang terdiri dari 3 dosen, 1 pegawai, dan 1 mahasiswa. Dari hasil penelitian diketahui bahwa masih banyak ruang dan area di sekitar FIB UGM yang dapat memicu perkembangbiakan bagi nyamuk pembawa virus dengue seperti toilet, genangan, ruangan gelap, dan kolam ikan. Pembangunan gedung baru di FIB UGM, menjadi salah satu faktor penting sebagai kegagalan ekosistem dalam menerima perubahan lingkungan sehingga menimbulkan penyakit. Selain itu, sampah dan pengelolaannya tidak berjalan baik sehingga menimbulkan penumpukan dan menjadi tempat bagi nyamuk berkembang biak. Menurunnya produktivitas dalam hal pekerjaan, kehilangan pengalaman, berkurangnya waktu bersama keluarga, hingga pemberhentian riset menjadi kerugian yang dialami penderita DBD di kampus. Oleh karena itu, untuk meredam kejadian DBD di kampus beberapa hal yang perlu dilakukan adalah pemberantasan sarang nyamuk melalui fogging, siap lapor dan bertindak bagi civitas akademika mengenai pemicu penyakit berbasis lingkungan, tanggap terhadap gejala penyakit tersebut, kejelasan tugas bagi petugas kebersihan, dan sadar bahwa kebersihan dan kesehatan lingkungan kampus merupakan tanggung jawab dan kebutuhan bersama.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is known as an environmental-based disease. In Indonesia, dengue is widely known by the community as a disease of the rainy season with an increasing number of occuring in every year. Some areas of Indonesia are decided as endemic disease areas which carried by Aedes aegypti mosquitoes which infecting the dengue virus. In the year 2017, there was incidence of dengue that spread in the area of Universitas Gadjah Mada (UGM). UGM known as kampus biru is part of Yogyakarta Special Region region which is one of DHF endemic areas in Indonesia. In this research is discussed about the outbreak of DHF on campus with the aim to know the experiences, corporate culture, and loss of DHF patients on campus. With the benefits that can be taken to improve self-awareness for UGM academic community against diseases caused by the interaction between humans and the environment. In this paper, participatory observation and in-depth interviews are supported by literature studies used as data collection methods. While the determination of informants is done by asking the officer of the Faculty of Cultural Sciences (FIB) UGM and the department office, and study office in FIB UGM. From the data collected, there are 18 people of academic community FIB UGM in 2017 who became patients with DHF then 5 were chosen as informants consisting of 3 lecturers, 1 employee, and 1 student. The results of research shows that there are still many rooms and areas around FIB UGM that can trigger the breEng of dengue virus mosquitoes such as toilets, puddles, dark spaces, and fish ponds. The construction of new building at FIB UGM becomes one of important factors as ecosystem failure in receiving environmental change causing disease. In addition, waste and its management does not work well, causing build up and becoming a place for mosquitoes to breed. According to the informants the occurrence of DHF on campus results the productivity decrease in terms of employment, loss of experience, less time spent with the family, and the dismissal of research into losses. Therefore, some things that need to be done to reduce the occurrence of dengue on campus is to eradicate mosquito nests through fogging, attitude of ready-to-report and awareness of the academic community about the trigger of this disease-based environment, responsive to symptoms of the disease, clarity of duties for janitor , and realize that the cleanliness and health of the campus environment is a responsibility and shared needs.
Kata Kunci : Lingkungan, DBD, penderita, kampus, nyamuk