Deforestasi Hutan Jati di Karesidenan Rembang, 1865-1930an
AHMAD FAISOL, Baha'uddin, M.Hum.
2018 | Skripsi | S1 ILMU SEJARAHSejak tahun 1865 dengan dikeluarkannya Staatsblad No. 95, membuat seluruh hutan yang ada di wilayah Jawa dan Madura dibawah kekuasaan pemerintah kolonial. Dengan peraturan tersebut pengelolaan hutan diserahkan kepada pihak swasta. Negara mencoba menarik diri dari kegiatan eksploitasi. Hanya sebagian kecil saja hutan yang dieksploitasi guna kepentingan negara, selebihnya diserahkan kepada swasta dengan mekanisme lelang. Diambilnya Karesidenan Rembang sebagai spasial penelitian ini didasarkan atas alasan bahwa wilayah ini merupakan wilayah pertama yang secara teknis memberlakukan pengelolaan hutan oleh pihak swasta. Sehingga penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan tentang bagaimana proses deforestasi yang terjadi di wilayah ini. Penelitian ini menggunakan sumber primer dan sekunder dalam metode penelitiannya. Sumber primer baik berupa arsip maupun laporan pemerintah kolonial tersebut dikumpulkan dan disarikan menjadi sebuah data kuantitatif, sehingga dapat dilihat perubahan luas hutan secara kuantitas. Sedangkan data-data sekunder dapat menguatkan hasil yang didapat dari analisis sumber primer. Dari hasil penelian yang dilakukan dikatahui bahwa telah terjadi deforestasi atau hilangnya luas tutupan hutan jati di Karesidenan Rembang pada periode 1865 hingga 1930an. Meningkatnya proses deforestasi dikarenakan semakin bertambahnya jumlah perusahaan penebangan. Hal ini tentunya berbanding lurus dengan semakin luasnya lahan eksploitasi. Meningkatnya teknologi dan sarana eksploitasi hutan jati, serta meningkatnya jumlah pendudu juga semakin memperparah kondisi ini. Deforestasi yang terjadi tentunya membawa dampak bagi lingkungan seperti banjir dan kekeringan yang berimbas pula pada kehidupan masyarakat.
Since the issue of Staatsblad No. 95 in 1865 forest in Java and Madura was controlled by the colonial government and was given to private companies through auction mechanism. The colonial state seceded from exploitation activity and used only a small part of forest. Residency of Rembang is one of the first region in the Netherlands Indie that technically applied this ordinance and thus it raised a question for this research; how did deforestation take place in this region? This research apply primary and secondary sources in its heuristic method. The primary sources consists of colonial archive and colonial government’s reports. These archives and reports have given this research an insight on the change of forest area’s quantity. All these primary sources later on are strengthen by secondary sources. Result of this research prominently informs that deforestation in the Residency of Rembang took place between 1865 and 1930s. Deforestation increased in parallel with the growth of logging companies. This circumstance was worsen with the escalation of technology and human population. Deforestation thus created negative impact for the environment such as flood and drought which directly influenced the society.
Kata Kunci : Deforestasi, Hutan Jati, Perusahaan Penebangan Swasta, Karesidenan Rembang