Dinamika Perkembangan Paguyuban Kawulo Pesisir Mataram (PKPM) sebagai Pengelola Pariwisata Berbasis Masyarakat Pasca Deklarasi Pembentukan Tanggal 16 Juni 2015
NURULLAILI RAKHMAWATI, Drs. Andreas Soeroso, M.S
2018 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIAbstraksi Sektor pariwisata dalam beberapa dekade terakhir telah menjadi salah satu industri yang diperhitungkan bagi perekonomian setiap negara yang ada di dunia. Berbagai negara terus mengembangkan industri pariwisata sehingga dapat memberikan pendapatan bagi keuangan negaranya. Indonesia pun turut melaksanakan pengembangan pariwisata diberbagai daerah. Gunungkidul sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi pariwisata juga mengalami perkembangan serta menjadi destinasi wisata yang pantas diperhitungkan. Salah satu objek wisata yang dikembangkan di wilayah Gunungkidul adalah Pantai Watu Kodok. Di pantai ini terdapat sebuah organisasi swadaya masyarakat bernama Paguyuban Kawulo Pesisir Mataram (PKPM) dan merupakan pihak pengelola aktivitas pariwisata Pantai Watu Kodok. Dalam menjalankan peran tersebut, PKPM mengalami dinamika perkembangan sejak pembentukan hingga sampai saat ini. Hal tersebut juga terkait dengan kawasan wisata Pantai Watu Kodok yang terus berkembang meskipun memiliki latar belakang konflik sengketa lahan serta sistem pengelolaan PKPM yang hanya mengandalkan kemampuan warga setempat tanpa adanya ikatan kerjasama dengan pihak lain. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan biografis. Lokasi penelitian ini adalah di Pantai Watu Kodok yang beralamat di Dusun Kelor Kidul, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul. Penulis menggunakan teori Community Based Tourism (CBT) sebagai kerangka dalam melihat dinamika perkembangan PKPM dan konsep 4A dalam pariwisata sebagai kerangka untuk melihat aktivitas pengelolaan wisata dikawasan Pantai Watu Kodok sebagai bagian dari dinamika perkembangan PKPM. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika perkembangan PKPM terbagi dalam 3 fase. Tahap pertama adalah masa awal pembentukan PKPM ditahun 2015 dimana perkembangan yang terjadi cenderung datar karena masyarakat tengah terintegrasi dalam organisasi PKPM. Kemudian tahap kedua adalah pasca pembentukan PKPM ditahun 2016, dimasa ini aktivitas pengembangan wisata mulai dilaksanakan dengan pola yang sama pada konsep-konsep CBT. Dalam prosesnya, pelaksanaan pengembangan wisata dengan pola tersebut menimbulkan perselisihan internal PKPM yang menunjukkan adanya gejolak dalam perkembangan PKPM. Hal ini berimplikasi pada tahapan ketiga yakni tahun 2017 hingga awal 2018, dimana aktivitas pengembangan wisata terus dilaksanakan namun terjadi reshuffle kepengurusan pada awal tahun 2017 sebagai dampak dari perbedaan pandangan terkait dengan prinsip pengembangan wisata yang dilaksanakan oleh PKPM. Dalam prosesnya, reshuffle ini tidak berdampak apapun dan pengembangan wisata terus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan PKPM. Sedangkan untuk perselisihan internal yang terjadi tidak menjadi kendala bagi perkembangan PKPM maupun wisata Pantai Watu Kodok.
Abstract The tourism sector in recent decades has become one of the industries to count on for the economy of any country in the world. Many countries develop the tourism industry to get income for his country's finances. Indonesia also participate in the development of tourism in various regions. Gunungkidul as one of the region in Indonesia which has the potential tourism also develop and being of worthy tourist destinations. One of the attractions which developed in the region of Gunungkidul is Watu Kodok beach. In this beach there is an organization based on local community called Paguyuban Kawulo Pesisir Mataram (PKPM) and being a manager of tourism activity in Watu Kodok. In these roles, PKPM has a dynamics of development since the beginning until now. It is also related to the Watu Kodok tourist area which continues to grow despite the land conflict and management system. The PKPM rely on the ability of local community without any bunch cooperation with the other party. The method of research used is descriptive qualitative with biographical approach. The location of this research is in Watu Kodok where located in the Kelor Kidul, Kemadang, Tanjungsari sub district, Gunungkidul Regency. The author uses the theory of Community Based Tourism (CBT) as a framework to looking at the dynamics of the development of PKPM. Then the concept of 4A in tourism as a framework for looking at the management of tourism activities in Watu Kodok beach as part of dynamics of development the PKPM. The results of this research show that the dynamics of the development PKPM is divided into 3 phases. The first stage is the early formation of PKPM in 2015 which developments are likely to be flat because the locals integrated in PKPM organization. Then the second phase is the period of post establishment PKPM in 2016, in this time, the development of tourism activity began to be implemented with the same pattern on the CBT concepts. In the process, the implementation of the tourism development with these pattern cause the internal conflicts of PKPM which shows there is problems in their developments. This implies the third stage of the year 2017 to 2018, where development activities continue to be carried out. It occurs a new management reshuffling in the earlier of 2017, as the impact of different point of views about the principle of tourism development which implemented by PKPM. In the process, this reshuffle does not affect anything and tourism development continue to be carried out in accordance with the vision of the PKPM. Luckily, the internal conflicts which occurred doesn’t become an obstacles to the development of PKPM nor the tourism of Watu Kodok beach.
Kata Kunci : Kata Kunci : Organisasi Masyarakat, Pengembangan Pariwisata, Objek Wisata Pantai, Dinamika Perkembangan, CBT