Strategi Sekolah Gajahwong Membangun Citizenship bagi Anak-Anak Kaum Marginal di Kampung Komunitas Ledhok Timoho
NABILAH DEVIYANTI, Prof.Dr. Muhadjir Muhammad Darwin, M.PA.
2018 | Skripsi | S1 ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)Kaum marginal adalah orang-orang terpinggirkan yang mayoritas masyarakat Indonesia menganggap mereka sebagai orang miskin karena hidup serba kekurangan baik dari segi ekonomi maupun sosial. Kaum marginal kebanyakan adalah pendatang yang datang dari wilayah desa menuju ke perkotaan untuk mengadu nasib yakni memperbaiki perekonomian mereka namun dengan keterampilan yang terbatas. Mereka juga terstigma negatif dan menambah ketidakteraturan tata kota karena banyak dari mereka yang bekerja secara informal di jalanan. Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga dipekerjakan oleh orang tuanya untuk mendapatkan uang. Mereka sering menjadi incaran petugas keamanan untuk ditangkap karena bekerja secara illegal. Sebenernya mereka bagian dari warga negara tetapi terhalang oleh kondisi kemiskinan yang mereka hadapi. Mereka juga layak untuk mengakses fasilitas publik namun terhalang karena mereka tidak memiliki kartu pengenal/identitas yang jelas. Kondisi tersebut mendorong sekelompok kaum marginal di Yogyakarta membentuk sebuah organisasi bernama TAABAH untuk mengadvokasi kepentingan kaum marginal agar hak-hak mereka terpenuhi. Berbagai macam hak mulai dari kesehatan, pangan, kebutuhan MCK dan lain sebagainya. Untuk memenihui kebutuhan pendidikan, TAABAH mendirikan sebuah sekolah gratis untuk anak-anak kaum marginal yang bernama Sekolah Gajahwong. Kehadiran TAABAH dan Sekolah Gajahwong memiliki peran dalam pembangunan citizenship di luar pemerintah. Tujuan utama dari SGW adalah agar dapat memutus rantai kemiskinan melalui anak-anak yang terdidik dan tidak memiliki nasib yang sama dengan orang tua mereka. Kegiatan yang dilakukan SGW tidak hanya sebatas mendidik seperti sekolah formal yang terfokus pada teori namun mempraktekan secara langsung di lingkungan sekitar mereka tinggal. Penelitian ini bermaksud menjelaskan dan menganalisis strategi Sekolah Gajahwong dalam membangun citizenship bagi anak-anak kaum marginal. SGW membangun citizenship dengan melakukan kegiatan pelatihan, pembelajaran dan pemberdayaan anak-anak, orang tua serta masyarakat sekitar. Memberikan edukasi terhadap anak-anak melalui kegiatan ix pembelajaran, bakti sosial dan kesenian serta advokasi terhadap pemerintah. Keberadaan SGW tersebut berdampak pada dimensi citizenship dari anak-anak dan masyarakat mulai terbangun dibuktikan dengan anak-anak yang sudah tidak dipekerjakan lagi dan kebutuhan akan hak pendidikannya cukup meringankan beban orangtua. Namun masih banyak kekurangan yang memfasilitasi anak-anak dalam kegiatan belajar mengajar.
Marginal people is considered by majority people in Indonesian community as poor people who live in deprivation, both economically and socially. The marginalized are mostly migrants who come from rural areas to urban areas to try their fortunes and improve their economy but with limited skills. They are also negatively stigmatized and add to the urban disorder as many of them work informally on the streets. Not only adults, children are also employed by their parents to earn money. They are often be the target of security officers to be arrested for working illegally. Actually, They are part of the citizens but They hindered by the poverty conditions. They can not access public facilities because they do not have clear identity. These conditions encouraged a group of marginal people in Yogyakarta to form an organization named TAABAH to advocate for the interests of the marginalized so that their rights would be fulfilled Many rights from health, food, the needs of toilets and etc. To meet the educational needs, TAABAH build a free school for marginal children named Sekolah Gajahwong. The presence of TAABAH and Sekolah Gajahwong have a role in the development of citizenship outside the government. The main goal of SGW is to cut the poverty chains through educated children and not have the same fate as their parents. SGW's activities are not only educational as a theory-focused but practice directly in the environment around them live. This research intends to explain and analyze the strategy of Sekolah Gajahwong in building citizenship for marginal children. SGW builds citizenship by conducting training, learning and empowerment of children, parents and the surrounding community. Providing education to children through learning activities, social service and art as well as advocacy against the government. The existence of SGW has an impact on the dimensions of citizenship of children and the community began to wake up with children who have not been hired anymore and the need for educational rights is enough to lighten the burden of parents. But there are still many shortcomings that facilitate the children in teaching and learning activities.
Kata Kunci : citizenship, kaum marginal, anak-anak, sekolah, kemiskinan