Adaptasi Bahasa Perantau Minangkabau terhadap Bahasa Bahasa yang Dominan di Kota Sampit
PUTERI ASMARINI, Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana
2018 | Disertasi | S3 LinguistikABSTRAK Agar diterima dengan baik, setiap pendatang dituntut untuk melakukan usaha adaptasi secara terus menerus terutama adaptasi terhadap bahasa yang digunakan oleh kelompok masyarakat yang didatangi. Meskipun bahasa merupakan identitas kelompok yang harus dipertahankan, adaptasi terhadap bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang didatangi merupakan bagian terpenting dalam berinteraksi agar komunikasi berjalan dengan baik. Apalagi bukti sejarah menyadarkan bahwa komunikasi yang mengalami kendala dapat mengakibatkan salah pengertian yang bisa mengarah terjadinya konflik, seperti yang beberapa kali terjadi di Kota Sampit. Hal tersebut yang dilakukan oleh etnis Minangkabau. Sebagai bagian dari budaya dan kepatuhan pada tradisi, etnis Minangkabau merantau memasuki Kota Sampit bertujuan mencari penghidupan yang lebih baik. Agar dapat diterima dengan baik oleh masyarakat setempat, perantau Minagkabau tersebut melakukan adaptasi terhadap bahasa, termasuk juga adaptasi budaya. Yang menarik usaha adaptasi dilakukan bukan hanya terhadap satu bahasa yaitu bahasa asli daerah tersebut tetapi terhadap empat bahasa yang dominan digunakan oleh masyarakat yang tinggal di Kota Sampit tersebut. Prinsip-prinsip falsafah Minangkabau yang erat dianut, diyakini oleh perantau Minangkabau merupakan bagian penting dari keberhasilan beradaptasi terhadap semua bahasa yang dominan. Akan tetapi, adaptasi terhadap bahasa yang dilakukan terus-menerus berdampak pada kebertahanan bahasa Minangkabau, seperti masalah pergeseran bahasa. Hal ini juga menjadi menarik yaitu ketika pendekatan budaya dilakukan untuk dua hal yang saling bertolak belakang yaitu upaya beradaptasi, melakukan penyesuaian bahasa untuk kepentingan berinteraksi dan upaya mempertahankan bahasa, sebagai bagian dari mempertahankan identitas kelompok. Tulisan yang menggunakan teori sosiolinguistik dengan pendekatan budaya ini akan mengurai secara singkat bentuk adaptasi terhadap bahasa, serta pengaruh adaptasi tersebut terhadap bahasa pertama. Metode observasi dan wawancara mendalam sangat berperan dalam menggali tahapan-tahapan pemertahan dan pergeseran bahasa. Terlebih, di antara perantau Minangkabau tersebut masih ditemukan beberapa perantau generasi pertama (first generation migran) sehingga bisa digali informasi bagaimana wujud adaptasi mulai dari perantau Minangkabau yang pertama datang memasuki Kota Sampit, hingga ada tahapan terjadinya pergeseran bahasa yang mengarah kepada terjadinya integrasi bahasa.
Every newcomer has been asked to put effort on continous adaptation, especially adaptation on certain language used by attended group of locals. Even though language is a group identity that needs to be preserved, adaptation on language used by attended locals is the most important thing on interaction thus communication runs well. Moreover, historical evidence proof that communication with experienced problem cause misunderstanding that will lead to conflict, just like what happened several times in Sampit. That is what Minangkabau society is doing. As part of culture and obedience to tradition, Minangkabau ethnic traveled and entered Sampit, seeking chance for better condition and life. In order to be warmly welcomed by locals, Minangkabau traveller did adaptation on language, including cultural adaptation. What make it interesting is, adaptation effort is not only done to a certain original local language, but also to four other dominant-used language by society of Sampit. Ancient principles of Minangkabau which is strongly believed by Minangkabau traveller is an important part from the success of adaptation to all dominant laanguages. But, continous adaptation on language affected Minangkabau language survival, such as language shifting. This turns interesting when cultural approach is done for two contrast matters: adaptation effort, doing language compliance for interaction benefit and language survival effort, as part of preserving group identity. This thesis which used sociolinguistics theory and cultural approach will briefly elaborate form of language adaptation, and its adaptation effect on the first language. This thesis aims to see description of language compliance and the effect from its language compliance action. Observation and deep interview method had significant role on discovering steps of language survival and shifting. Moreover, among those Minangkabau traveller there are first generation migrants, so information can be digged on the form of adaptation starting from the first Minangkabau traveller came to Sampit, until there are steps on how language shifting happened, that is facing to language integration.
Kata Kunci : Tradisi Merantau, Variasi Bahasa, Adaptasi Bahasa, Pendekatan Budaya, Pemertahanan dan Pergeseran Bahasa